
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Prospek saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 diproyeksikan mencatatkan kinerja positif sepanjang 2026.
Optimisme ini sejalan dengan target ambisius Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperkirakan mampu menembus level psikologis 10.000.
Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG menutup perdagangan Selasa (6/1/2026) di level all time high (ATH) perdana tahun ini dengan kenaikan 0,84% ke level 8.933,60.
: IHSG Sesi I: Menguat ke 8.882, Saham AMMN Melonjak 14,64%
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa performa saham blue chip tahun ini akan ditopang oleh fundamental ekonomi nasional yang tetap solid di tengah berbagai dinamika global.
Pemulihan indeks elit tersebut dinilai menjadi fokus utama setelah sempat tertinggal dari laju indeks komposit pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 Desember 2025, indeks komposit atau IHSG menorehkan kenaikan 22,13% sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, LQ45 hanya mencatat kenaikan 2,41% year to date (YtD).
“Prospek saham LQ45 di tahun 2026 diproyeksikan sangat positif dengan target optimis IHSG menembus level 10.000,” ungkap Abida, Selasa (6/1/2026).
Abida memaparkan bahwa sedikitnya terdapat dua katalis utama yang menjadi mesin penggerak indeks LQ45 sepanjang tahun ini. Pertama adalah adanya ekspektasi penurunan suku bunga acuan pada awal tahun.
Penurunan tersebut diharapkan dapat menekan biaya dana emiten dan meningkatkan daya beli masyarakat. Hal itu secara langsung menguntungkan sektor perbankan dan konsumer yang mendominasi LQ45.
Kedua, adanya stimulus fiskal besar dari kebijakan pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dinilai akan menjadi motor penggerak sektor riil dan meningkatkan perputaran uang di tingkat domestik, yang pada gilirannya memperkuat kinerja fundamental emiten di sektor terkait.
Meski dibayangi sentimen positif, Abida memberikan catatan terkait sejumlah risiko eksternal yang dapat menahan laju penguatan pasar modal Indonesia.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan global, utamanya terkait dengan potensi kenaikan tarif oleh pemerintah baru Amerika Serikat (AS) dapat menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai pelaku pasar. Selain itu, kata Abida, normalisasi kebijakan moneter di Jepang turut menjadi sorotan.
“Normalisasi lanjutan suku bunga Jepang berpotensi memengaruhi likuiditas di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” pungkasnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.