
Ussindonesia.co.id JAKARTA, Pasar keuangan Indonesia terguncang pada perdagangan Jumat (6/2/2026), setelah Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Sentimen negatif ini menambah tekanan di awal tahun yang bergejolak, menyusul anjloknya pasar saham hingga sekitar US$80 miliar pada pekan lalu.
Investor global merespons hati-hati agenda Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%.
Kekhawatiran muncul terkait ketidakpastian kebijakan, pelebaran defisit fiskal, serta isu independensi bank sentral yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas jangka menengah.
Moody’s Pangkas Outlook Kredit Indonesia Jadi Negatif, Begini Respons Kemenkeu
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot hampir 3% pada perdagangan sesi I Jumat. Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah hingga 0,36% ke level 16.885 per dolar AS Jumat siang, terendah sejak 22 Januari dan turun sekitar 1% sepanjang tahun berjalan.
Secara mingguan, IHSG telah terkoreksi 4,7% setelah pekan sebelumnya jatuh 6,9%.
Moody’s memangkas outlook ekonomi Indonesia dengan alasan menurunnya prediktabilitas kebijakan. Langkah tersebut datang hanya beberapa hari setelah MSCI menyoroti isu transparansi yang memicu aksi jual besar di pasar.
Meski demikian, otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa Moody’s tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2, yang menunjukkan fundamental ekonomi masih solid, didukung ketahanan sektor keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Moody’s Pangkas Outlook Kredit Indonesia Jadi Negatif dari Stabil
Sovereign wealth fund Danantara Indonesia juga menilai afirmasi peringkat tersebut mencerminkan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang, meski penurunan outlook menjadi sinyal perlunya konsistensi kebijakan dan reformasi kelembagaan.
Moody’s menyebut kekhawatiran terhadap efektivitas kebijakan dan indikasi pelemahan tata kelola. Jika berlanjut, tren ini dinilai berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan yang telah lama terjaga.
Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan lembaga pemeringkat dan pasar global masih perlu waktu untuk memahami strategi pertumbuhan baru pemerintah.
Ekonom OCBC menilai penurunan outlook ini sebagai tembakan peringatan yang bisa mendorong lembaga pemeringkat lain mengikuti langkah serupa bila ketidakpastian kebijakan berlanjut.
Pasar akan mencermati respons pemerintah dalam 12–18 bulan ke depan untuk mencegah penurunan peringkat kredit.
Moody’s Pangkas Outlook Kredit Indonesia Jadi Negatif, Ini Dampaknya ke Pasar Saham
Dampak langsung juga terlihat di pasar obligasi. Obligasi global Indonesia melemah, terutama tenor panjang yang turun 0,3–0,5 sen dan diperdagangkan di level terlemah dalam lima bulan.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai risiko premi aset berpotensi meningkat, memberi tekanan pada obligasi pemerintah jangka panjang, saham BUMN dan bank besar, serta sentimen terhadap rupiah dan arus modal.
Sementara itu, S&P Global Ratings menyatakan volatilitas pasar saham belum mengubah pandangannya terhadap peringkat Indonesia yang masih ber-outlook stabil. Namun, S&P mengingatkan bahwa pelemahan fiskal dapat menambah tekanan penurunan peringkat jika tidak diimbangi perbaikan di area lain.
Fitch belum memberikan tanggapan.
Kebijakan Pemerintah Sulit Ditebak, Moody’s Pangkas Outlook Indonesia
Upaya stabilisasi pasar sejauh ini belum membuahkan hasil. Janji reformasi kebijakan dan pengunduran diri lima pejabat senior di otoritas keuangan dan bursa belum mampu menahan gejolak.
Data bursa menunjukkan investor asing telah mencatatkan jual bersih sekitar US$860 juta sejak Rabu lalu, mendekati total jual bersih sepanjang 2025 yang mencapai US$1 miliar.