
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada kuartal I-2026 diperkirakan masih diwarnai volatilitas tinggi dengan pola rotasi sektor. Pasar dinilai tidak lagi bergerak secara serentak, melainkan lebih selektif mengikuti emiten yang memiliki pertumbuhan laba dan visibilitas kinerja yang kuat.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai tekanan global masih berasal dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang belum sepenuhnya akomodatif serta ketidakpastian geopolitik. Sementara dari domestik, pasar masih mencermati isu reformasi pasar modal dan penyesuaian free float.
“Pada kuartal pertama, IHSG cenderung bergerak dalam pola rotasi sektor dengan volatilitas tinggi, bukan rally serentak. Momentum tetap ada, tetapi penguatan bersifat selektif dan manajemen risiko menjadi kunci,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, percepatan belanja pemerintah pada awal tahun berpotensi menjadi katalis likuiditas domestik, terutama apabila realisasinya berjalan cepat dan tepat sasaran. Belanja yang mengalir ke sektor produktif dinilai dapat meningkatkan perputaran dana di pasar saham.
Ada Super Cycle Hingga Insentif, Cek Emiten Pelayaran yang Berpotensi Melaju Kencang
“Jika belanja diarahkan ke infrastruktur, hilirisasi, dan program konsumsi, efeknya bisa terasa pada sektor siklikal dan konsumsi. Namun dampaknya tetap bergantung pada persepsi investor terhadap keberlanjutan fiskal dan stabilitas makro,” jelasnya.
Dari sisi aliran dana asing, Liza memperkirakan pergerakan masih fluktuatif dalam jangka pendek. Investor global masih mencermati isu tata kelola pasar modal serta dinamika indeks global. Meski demikian, Indonesia dinilai tetap menarik karena pertumbuhan ekonomi relatif stabil dan valuasi pasar yang kompetitif dibandingkan negara kawasan.
“Jika reformasi free float dan transparansi pasar berjalan konsisten, peluang stabilisasi hingga net inflow kembali terbuka. Kuncinya ada pada kredibilitas kebijakan dan konsistensi eksekusi,” katanya.
Terkait target IHSG di level 10.000 pada akhir tahun, ia menilai angka tersebut merupakan skenario optimistis yang membutuhkan kombinasi asumsi makro yang kuat, mulai dari pertumbuhan laba emiten dua digit, stabilitas rupiah, inflasi terkendali, hingga tidak adanya gangguan eksternal besar.
“Untuk mencapai 10.000 dibutuhkan ekspansi valuasi atau lonjakan laba yang signifikan. Karena itu, strategi utama tahun ini lebih pada mencari alpha melalui stock picking dibanding mengandalkan rally indeks secara luas,” ungkapnya.
Secara konservatif, Kiwoom memproyeksikan IHSG berada di kisaran 9.000 hingga 9.500 pada akhir 2026 dengan peluang kenaikan lebih lanjut apabila reformasi pasar dan momentum sektor unggulan berjalan sesuai rencana.
Ia menilai tahun 2026 lebih cocok untuk strategi investasi aktif melalui rotasi sektor yang cepat, dengan fokus pada emiten yang memiliki ekspansi kapasitas, hilirisasi, infrastruktur digital, serta proyek strategis nasional.
“Ini bukan tahun untuk diam dan berharap. Investor perlu disiplin membaca momentum, menjaga likuiditas, dan berani mengambil posisi pada cerita pertumbuhan yang didukung fundamental kuat,” tutupnya.
IHSG Diproyeksi Konsolidasi Sehat Awal Tahun, Ini Kata Analis