IHSG diprediksi volatil usai Moody’s pangkas outlook peringkat kredit RI negatif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin (10/2). Kondisi pasar diperkirakan masih terdampak sentimen risiko pasca penurunan outlook peringkat utang Indonesia oleh Moody’s Ratings.

Pada perdagangan Jumat (6/2) IHSG ditutup melemah 168,62 poin atau 2,08 persen ke posisi 7.935,25. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 13,77 poin atau 1,66 persen ke posisi 815,58.

“IHSG memiliki level resistance di 8.100, pivot di 8.000, dan support di 7.700. Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji area support 7.700–7.800 dalam jangka pendek,” tulis riset Phintraco Sekuritas.

Pada perdagangan sebelumnya, tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar, seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko di kawasan emerging market, termasuk Indonesia.

Dari global, indeks-indeks Wall Street ditutup menguat pada Jumat (6/2), didorong rebound saham sektor teknologi dan penguatan bitcoin. Indeks Dow Jones bahkan untuk pertama kalinya ditutup di atas level 50.000, ditopang saham-saham siklikal. Namun secara mingguan, indeks S&P 500 dan Nasdaq masih mencatatkan pelemahan.

Harga emas turut rebound ke level USD 4.954 per troy ounce, didorong pelemahan dolar AS. Pada pekan ini, investor global akan mencermati rilis data tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat, data inflasi China, serta hasil pemilu sela di Jepang.

Dari dalam negeri, sentimen utama datang dari keputusan Moody’s yang menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2 atau investment grade.

Penurunan outlook tersebut diikuti revisi prospek lima saham perbankan besar menjadi negatif, yakni BMRI, BBRI, BBNI, BBCA, dan BBTN.

Selain perbankan, Moody’s juga menurunkan outlook sejumlah emiten besar Indonesia, antara lain TLKM, Telkomsel, Pertamina, Pertamina Hulu, MIND ID, ICBP, dan UNTR.

Menurut Phintraco Sekuritas, revisi outlook tersebut berpotensi meningkatkan risk premium terhadap aset Indonesia dalam jangka pendek. Dampaknya dapat memicu foreign outflow sementara, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya volatilitas IHSG.

“Namun tekanan akibat revisi outlook diperkirakan lebih bersifat sementara selama peringkat Indonesia tidak diturunkan dari level investment grade,” tulis Analis Phintraco Sekuritas dalam prediksinya.

Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji support lanjutan di level 7.500. Adapun saham-saham yang menjadi top picks Phintraco Sekuritas untuk pekan ini meliputi PANI, TLKM, PNLF, CMRY, INTP, dan ERAL.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas mencatat IHSG telah melanjutkan koreksinya sebesar 2,08 persen ke level 7.935 dan masih didominasi tekanan jual. Area koreksi yang sebelumnya diproyeksikan telah tercapai seluruhnya.

“Selama IHSG masih mampu bertahan di atas level 7.712 sebagai support, maka IHSG masih berpeluang menguat ke rentang 8.284–8.440,” tulis Analis MNC Sekuritas.

MNC Sekuritas menetapkan level support IHSG di 7.712 dan 7.547, dengan resistance di 8.214 dan 8.354. Adapun saham-saham yang direkomendasikan antara lain AMRT, AUTO, INDF, dan NCKL dengan strategi buy on weakness.

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual produk investasi tertentu.