
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah dalam perdagangan Senin (27/4/2026). Indeks komposit melanjutkan tren negatif usai melalui pekan lalu dengan rentetan koreksi.
Melansir IDX Mobile, IHSG turun 0,32% atau 22,97 poin ke 7.106,52. Sebanyak 286 saham ditutup melemah, 423 saham menguat dan 250 saham stagnan. Pasar mencatat transaksi 30,52 miliar saham dengan nilai Rp16,53 triliun.
Saham big caps ditutup bervariasi. BBCA melemah 1,24% ke Rp5.975, sementara BREN menguat tipis 0,87% ke Rp4.660. Sementara itu, saham TPIA ambles 4,17% ke Rp5.750, DCII turun 0,08% ke Rp198.850 serta BBRI yang ditutup koreksi 0,65% ke Rp3.050.
Sementara itu, AMMN ditutup dengan penguatan signifikan 8% ke Rp5.400, TLKM naik tipis 0,71% ke Rp2.830. Sedangkan, DSSA jeblok 8,66% ke Rp1.845, ASII turun 3,16% ke Rp6.125, hingga BRPT yang ditutup koreksi 0,99% ke Rp2.000.
: Rebalancing Indeks Bisnis-27, 8 Emiten Masuk Konstituen Baru, Ada AKRA hingga DEWA
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan IHSG sepanjang pekan lalu dihantam sentimen eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah, membuat indeks komposit turun tajam 6,61% ke posisi 7.129,49.
Sementara dalam pekan ini, Brigita memperkirakan tekanan IHSG oleh sentimen Timur Tengah belum mereda. Perang AS-Iran berisiko mengganggu stabilitas pasar energi yang disebabkan terganggunya jalur strategis Selat Hormuz.
“Tanpa adanya de-eskalasi, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai yang dapat menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global dan pada akhirnya membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek,” ujarnya dalam riset mingguan, Senin (27/4/2026).
Sementara itu dari domestik, ada dua katalis utama yang berkembang, yakni realisasi penyesuaian harga BBM non-subsidi serta tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah yang mencetak rekor terlemah (all-time low) di level Rp17.315 per dolar AS.
Analis melihat pasar mulai mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi jangka pendek, terutama pada komponen transportasi dan logistik, yang berpotensi menekan daya beli serta margin sektor berbasis konsumsi. Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah mendorong Bank Indonesia untuk memperkuat bauran kebijakan stabilisasi.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 April 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global dan penguatan dolar AS.
Secara keseluruhan, Brigita menilai kombinasi penyesuaian harga energi dan kebijakan moneter yang cenderung ketat mencerminkan stance otoritas yang defensif dan pre-emptive dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
“Namun, pasar diperkirakan masih akan bergerak hati-hati dalam jangka pendek, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap risiko inflasi dan stabilitas eksternal. Ke depan, efektivitas respons kebijakan, terutama dalam menahan volatilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik serta keberlanjutan aliran dana asing,” ujarnya.