
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berjanji akan memberikan insentif untuk mendukung pengembangan Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) yang diluncurkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Bendahara negara ini menyatakan, insentif akan diberikan dengan catatan implementasi PINTAR menunjukkan hasil positif dalam enam bulan setelah diluncurkan.
“Kalau nanti programnya jalannya bagus, katakanlah enam bulan dari sekarang, boleh lah datang ke saya minta insentif. Saya pertimbangkan,” kata Purbaya dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/4).
Kendati demikian, Purbaya mengaku belum menentukan bentuk insentif yang akan diberikan nantinya.
“Nanti kita lihat. Ini kan baru. Kalau berjalan, kita kasih insentif. Karena saya berkepentingan di sektor keuangan. Uang dari situ bisa dipakai, bisa beli obligasi, dan lain-lain. Itu akan menjalankan ekonomi juga pada akhirnya,” kata dia.
Purbaya melihat adanya peluang menambah mesin penggerak ekonomi namun dengan catatan nilainya yang menjanjikan.
“Mungkin saya seperti kehilangan sedikit rupiah, tapi pada akhirnya ada uang tambahan yang bisa menggerakkan ekonomi. Itu yang kita lihat. Tapi kalau jumlahnya kecil, buat apa saya capek-capek. Kalau besar dan bagus, kita akan lihat,” kata Purbaya.
Mendorong Generasi Muda Berinvestasi
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, PINTAR merupakan program yang dirancang untuk mendorong masyarakat, terutama generasi muda, berinvestasi secara disiplin dan berkala di pasar modal. Program ini diharapkan mampu memperdalam pasar keuangan domestik melalui peningkatan partisipasi investor ritel.
Ia menyebut program tersebut sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pasar modal Indonesia. Saat ini, jumlah investor pasar modal telah mencapai sekitar 24,7 juta, dengan dominasi generasi Z.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai tingginya partisipasi investor domestik dapat menjadi penopang stabilitas di tengah ketidakpastian global.
“Kemampuan domestic market ini menjadi shock absorber yang baik,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong reformasi pasar modal guna meningkatkan integritas, transparansi, dan likuiditas. Menurut Purbaya, reformasi ini diharapkan menjadikan pasar modal sebagai sumber pembiayaan alternatif yang lebih kuat, termasuk melalui penawaran umum perdana saham (IPO).
Purbaya menambahkan, penguatan investor domestik menjadi kunci agar pasar keuangan Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh gejolak eksternal maupun arus modal asing.