
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.075,406. Di balik optimisme pasar saham tersebut, ekonom mengingatkan kondisi fiskal tetap perlu dicermati agar kepercayaan investor terjaga.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG ditutup pada level 9.075,406 pada Kamis (15/1/2026) dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.512 triliun. Selama sepekan, rata-rata nilai transaksi harian meningkat 3,87 persen menjadi Rp 32,68 triliun, sementara investor asing membukukan beli bersih Rp 947,45 miliar.
Penguatan IHSG mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi dan kinerja emiten. Namun, ekonom Bright Institute Awalil Rizky mengingatkan fondasi fiskal tetap menjadi faktor penting bagi keberlanjutan kepercayaan pasar. Ia memprakirakan posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 mencapai Rp 9.645 triliun.
“Dengan demikian, rasio utang atas PDB mencapai 40,52 persen,” tulis Awalil dikutip Jumat (16/1/2026).
Menurut dia, rasio tersebut memang masih di bawah batas undang-undang, tetapi bukan berarti sepenuhnya aman. “Padahal rasio 60 persen itu merupakan batas, bukan ukuran aman atau tidaknya,” ucapnya.
Awalil juga menyoroti besarnya pembayaran bunga utang pada 2025 yang diperkirakan mencapai Rp 514 triliun. “Dengan demikian, rasio pembayaran bunga utang atas Pendapatan Negara sebesar 18,65 persen pada tahun 2025,” kata dia.
Menurut Awalil, indikator-indikator tersebut perlu diperhatikan agar optimisme pasar saham tidak hanya bersifat jangka pendek. Reli IHSG, kata dia, akan lebih berkelanjutan jika pengelolaan fiskal dan risiko utang dijaga secara konsisten.