IHSG sentuh ATH, reksa dana saham dinilai masih punya peluang tumbuh 2026

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Prospek industri reksa dana saham pada 2026 dinilai tetap positif, seiring membaiknya outlook ekonomi dan peluang pasar keuangan kendati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah menyentuh rekor all-time high baru (ATH).

Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dimas Ardhinugraha mengatakan berdasarkan kondisi pasar yang ada, reksa dana saham masih memiliki ruang pertumbuhan meskipun sempat mencetak rekor tertinggi.

IHSG sempat mencetak rekor all-time high baru (ATH) ke 9.134,70 perdagangan Selasa (20/1/2026).

: Pesona Reksa Dana kala Saham dan Obligasi Menguat

Pada 2025 lalu, sebutnya, kinerja IHSG tercatat jauh lebih baik dibandingkan indeks LQ45. Namun, penguatan tersebut lebih banyak ditopang oleh saham-saham yang memiliki momentum tinggi dengan katalis khusus, bukan oleh saham-saham blue chip.

Memasuki 2026, situasinya diperkirakan akan berubah. Dengan adanya harapan pemulihan aktivitas dan pertumbuhan ekonomi domestik, saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip diproyeksikan kembali diminati investor. 

: : Eastspring Indonesia Nilai Prospek Reksa Dana Masih Positif pada 2026

Kondisi ini diyakini akan menjadi penopang kinerja IHSG dan LQ45 ke depan.

“Jadi, walaupun IHSG sudah menyentuh level tertinggi, reksa dana saham masih tetap prospektif,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip, Kamis (23/11/2026).

: : Performa Indeks Reksa Dana Saham Tancap Gas, Ini 5 Produk Paling Cuan

Selain reksa dana saham, dia menilai reksa dana pendapatan tetap juga menjadi produk yang menarik pada tahun ini.

Produk ini berpotensi diuntungkan dari arah kebijakan suku bunga yang lebih akomodatif, sekaligus menawarkan stabilitas imbal hasil bagi investor.

Namun demikian dari sisi pengembangan produk, Manulife menilai portofolio reksa dana yang ada saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan investor. Menurutnya fokus utama bukan pada menambah jumlah produk baru, melainkan menghadirkan inovasi dan solusi investasi yang relevan dengan kebutuhan investor di berbagai kondisi pasar.

Manulife Aset Manajemen Indonesia mencatat hingga akhir Desember 2025, total dana kelolaan (asset under management/AUM) yang dikelola tercatat lebih dari Rp124 triliun.

Dimas memperkirakan dengan outlook ekonomi yang semakin membaik, minat investor terhadap aset-aset keuangan dan instrumen investasi diperkirakan akan ikut meningkat, termasuk reksa dana.

Apalagi, tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan suku bunga deposito perbankan mulai mendorong investor mencari alternatif investasi yang menawarkan potensi imbal hasil lebih menarik dibandingkan simpanan konvensional.

Meski demikian, peluang tersebut tetap diiringi sejumlah tantangan yang perlu dicermati. Perbaikan iklim investasi sangat bergantung pada aktivitas ekonomi riil.

Salah satu faktor kunci yang menjadi perhatian adalah realisasi belanja pemerintah. Pada 2026, percepatan belanja negara memegang peranan penting dalam mendorong pemulihan ekonomi. Jika realisasinya berjalan lambat, siklus pemulihan ekonomi berisiko tertunda.

Pemulihan kepercayaan investor ini diharapkan terjadi secara berkelanjutan, sehingga minat investor asing kembali meningkat. Dengan demikian, terdapat tiga faktor utama yang saling berkaitan dalam menjaga prospek investasi di 2026, yaitu percepatan realisasi belanja negara, kelonggaran ruang fiskal, dan pemulihan keyakinan investor.

Selain faktor domestik, pelaku pasar juga perlu mencermati dinamika global. Situasi geopolitik dunia serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat masih menjadi faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan arah investasi ke depan.