
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menembus level psikologis 9.002 pada perdagangan Kamis (8/1) pagi.
Hingga pukul 11.29 WIB, indeks berada di posisi 8.981 dengan nilai transaksi Rp 9,89 triliun dan volume 19,214 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat 1.445.643 kali, dengan 342 saham menguat, 291 melemah, dan 171 stagnan.
Analis Panin Sekuritas, Cliff Nathaniel, menilai penguatan IHSG saat ini ditopang oleh tren inflow asing beberapa bulan terakhir, seiring dengan menguatnya saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya emiten konglomerasi.
“Kenaikan IHSG yang sempat menembus level 9.000 saat ini ditopang oleh tren inflow asing yang masih positif dalam beberapa bulan terakhir,” kata Cliff kepada kumparan, Kamis (8/1).
Membaiknya Daya Beli

Dari sisi domestik, pasar juga merespons positif ekspektasi membaiknya daya beli masyarakat pada 2026, yang didukung oleh berbagai stimulus ekonomi yang mulai digulirkan sejak akhir 2025.
Hal ini tercermin dari indikator kepercayaan konsumen (IKK) yang menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa bulan terakhir.
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga menantikan kejelasan terkait potensi perubahan metodologi perhitungan free float MSCI untuk Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada 30 Januari 2026. Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi pergerakan pasar ke depan.
“Untuk Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada 30 Januari 2026, sehingga dapat mempengaruhi pergerakan pasar ke depan,” lanjut dia.
Sementara itu, Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto, sentimen IHSG 9.002 dilatarbelakangi prospek ekonomi RI tahun ini yang disebut lebih kuat, seiring realisasi program prioritas pembangunan pemerintah yang semakin baik.

“Prospek ekonomi Indonesia yang tahun ini kelihatannya lebih kuat. Dan juga program-program prioritas pembangunan pemerintah, terutama yang berhubungan dengan tema Asta Cita, juga kelihatannya sudah lebih baik realisasinya,” jelas Gunarto.
Dia juga menyoroti iklim suku bunga yang diharapkan terus menurun secara bertahap, sehingga mendukung ekspansi dunia usaha.
“Jadi, buat pelaku usaha juga untuk melakukan aktivitas ekspansi juga bisa lebih baik lagi,” kata ia.
Dengan kombinasi faktor tersebut, Gunarto menilai level IHSG di atas 9.000 hingga akhir tahun masih realistis, meski tetap ada volatilitas jangka pendek.