
Ussindonesia.co.id JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah jelang pengumuman MSCI atas kondisi pasar saham Indonesia pada esok hari, Selasa (12/5/2026).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 0,92% ke level 6.905,62 pada perdagangan hari ini, Senin (11/5/2026). IHSG sendiri telah ambrol 20,14% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan, mengacu kepada perkembangan perbaikan pasar saham yang telah dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), menurutnya pengumuman MSCI akan menunjukkan hasil evaluasi yang positif.
“Ya kita tunggu saja besok. Kita lihat seharusnya kan semua sudah dimasukin juga. Saya sudah lihat perkembangannya Bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan,” ujarnya setelah acara Penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Daerah dan Danantara untuk Percepatan Pembangunan PSEL pada Senin (11/5/2026) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
: OJK Antisipasi Pengumuman MSCI Bulan Ini: Short Pain, Long Gain!
Namun, Pandu menilai bahwa pelemahan IHSG saat ini bukan dipengaruhi oleh kekhawatiran akan pengumuman IHSG, melainkan kondisi nilai tukar rupiah.
“Saya rasa bukan menyangkut soal MSCI kok, hari ini lebih banyak soal rupiah,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, pada esok hari, Selasa (12/5/2026), MSCI dijadwalkan akan merilis pengumuman lanjutan atas informasi yang sudah dirilis pada April 2026. Salah satu yang ditunggu investor Tanah Air adalah keputusan MSCI menghapus konstituen saham Indonesia yang masuk di dalam daftar high shareholding concentration (HSC) atau daftar saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi mengatakan bahwa segala kemungkinan dapat terjadi menyusul pengumuman MSCI esok hari. Adapun, pengumuman pembekuan rebalancing MSCI pada 27 Januari 2026 silam memberikan tekanan cukup berat ke pasar Indonesia, IHSG saat itu jatuh berkali-kali hingga asing berbondong-bondong hengkang.
Namun, menurutnya kondisi sekarang berbeda ketika OJK dan BEI bersama KSEI melakukan reformasi dan transparansi pasar modal yang sudah berjalan.
“Jadi kita harus mengantisipasi. Tadi saya sampaikan, mungkin bisa menjadi short-term pain, tapi Insyaallah menjadi long-term gain,” ujar perempuan yang akrab disapa Kiki itu saat ditemui di Kantor BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026).
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Kiki mengimbau investor Tanah Air tidak panik. Dampak pengumuman MSCI nanti menurutnya hanya sebuah konsekuensi dari perbaikan-perbaikan reformasi pasar modal.
Di sisi lain, kondisi makro ekonomi Indonesia yang solid juga bisa memberikan rasa percaya diri investor. Selain itu, regulator juga berkomitmen untuk melanjutkan perbaikan dan transparansi tata kelola pasar modal Indonesia.
“Delapan aksi reformasi itu terus kita lakukan. Misalnya penegakan hukum, penguatan pengawasan. Dari BEI bagaimana mendorong banyak perusahaan masuk bursa, yang tentu saja akan kita lihat dulu kualitasnya, tidak hanya kuantitas saja,” ujar Kiki.
Selanjutnya, OJK juga mendorong pendalaman pasar oleh investor institusi domestik. Kiki membandingkan, bahwa dahulu pasar modal RI lebih sensitif oleh gejolak global. Namun, sekarang dengan jumlah investor RI mencapai 26 juta menurutnya kondisinya kini jauh lebih baik.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.