PMI manufaktur kembali kontraksi, ini saham yang paling terdampak

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aktivitas manufaktur Indonesia melemah pada awal kuartal II-2026. 

Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026, dari 50,1 pada Maret 2026, sehingga kembali masuk ke zona kontraksi. 

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan penurunan PMI manufaktur Indonesia dapat menjadi sinyal awal atau early warning sign bahwa aktivitas industri sedang mengalami perlambatan pada awal kuartal II-2026. 

Danantara Siapkan IPO Jumbo Denera, Targetkan Melantai Usai Kantongi Arus Kas

Meski kontraksinya masih relatif terbatas, kondisi ini menunjukkan adanya pelemahan permintaan baik dari sisi domestik maupun ekspor. 

“Sentimen tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pertumbuhan penjualan, utilisasi produksi, hingga margin laba emiten manufaktur dalam beberapa kuartal ke depan,” kata Elandry kepada Kontan, Senin (11/5/2026).

Selain itu, tekanan eksternal seperti pelemahan rupiah, biaya energi dan ketidakpastian ekonomi global turut meningkatkan risiko terhadap sektor manufaktur secara keseluruhan.

Senior Market Analyst Nafan Aji Gusta mengamini pelemahan PMI manufaktur menjadi sinyal peringatan dini bagi saham-saham manufaktur, khususnya pada kuartal II-2026.

Menurut Nafan, kondisi ini dipicu oleh perlambatan permintaan baru serta meningkatnya tekanan biaya input secara signifikan. Nafan bilang, faktor utama yang mendorong kondisi tersebut adalah eskalasi geopolitik global dalam beberapa waktu terakhir yang mengganggu rantai pasok dan memicu kenaikan harga bahan baku. 

IHSG Terkoreksi ke 6.905, MSCI Rebalancing Jadi Penentu Arah Selasa (12/5)

“Jadi dikhawatirkan emiten manufaktur mengalami potensi slow down,” ujar Nafan. 

Dihubungi terpisah, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih turut menyampaikan bahwa pelemahan PMI Manufaktur pada April menandai kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir. Di kawasan Asia Tenggara, hanya Indonesia dan Filipina yang masuk ke zona kontraksi.

Ratih berpendapat melemahnya indeks manufaktur domestik dipicu oleh dual shock, antara lain kenaikan biaya input produksi akibat eskalasi harga energi ditambah depresiasi rupiah, serta demand destruction yang tercermin dari melemahnya daya beli domestik hingga lesunya pesanan ekspor.

Elandry menilai penurunan PMI Manufaktur memberikan tekanan yang bervariasi pada tiap emiten. Secara umum, saham yang paling rentan adalah perusahaan yang berada di sektor siklikal dan yang memiliki struktur biaya tinggi pada bahan baku impor.

Emiten terdampak

Sektor otomotif, yang dipimpin oleh PT Astra International Tbk (ASII), merupakan representasi langsung dari aktivitas manufaktur. Ketika PMI masuk ke zona kontraksi, ini mencerminkan penurunan volume produksi dan pesanan baru.

Menurutnya,ASII berpotensi tertekan, khususnya pada penjualan kendaraan bermotor berisiko melambat karena daya beli konsumen cenderung tertahan saat aktivitas industri mendingin.

Meskipun tertekan secara sentimen, fundamental ASII sebenarnya masih sangat kokoh didukung oleh diversifikasi bisnis di sektor alat berat dan pertambangan melalui UNTR. Namun, investor perlu mencermati margin keuntungan yang mungkin tergerus jika nilai tukar rupiah melemah bersamaan dengan kenaikan biaya logistik global.

Begini Rekomendasi Teknikal Saham ADRO, ANTM, dan KLBF untuk Selasa (12/5)

Selain sektor otomotif, emiten yang tergabung dalam sektor barang konsumsi seperti ICBP, INDF dan UNVR juga menghadapi tantangan dari sisi biaya input. Jika harga gandum, minyak kelapa sawit, atau bahan kimia pembungkus naik, beban pokok penjualan (COGS) emiten konsumer akan membengkak.

Tapi secara fundamental, sektor ini memiliki sifat defensive. ICBP, misalnya, memiliki brand equity yang sangat kuat sehingga punya kemampuan untuk menaikkan harga jual tanpa kehilangan banyak konsumen. Fundamentalnya relatif lebih stabil dibandingkan sektor lain, namun pertumbuhan laba bersih mungkin tidak seagresif tahun sebelumnya jika beban operasional tidak terkendali.

Selanjutnya, sektor semen dan bahan bangunan seperti SMGR dan INTP sangat bergantung pada keberlanjutan proyek infrastruktur dan manufaktur properti.

Pelemahan PMI menandakan perlambatan investasi di aset tetap. Jika pabrik-pabrik mengurangi aktivitas ekspansi, maka permintaan semen domestik akan melandai. Selain itu, kenaikan biaya energi seperti batubara atau listrik tetap menjadi ancaman utama bagi margin mereka.

Sementara itu, Ratih mengungkapkan sejumlah sektor yang diperkirakan terdampak negatif antara lain konsumsi primer, konsumsi non-primer, serta otomotif.

“Tantangan utama yang dihadapi emiten di sektor-sektor tersebut adalah kemampuan menaikkan average selling price (ASP) guna mengimbangi kenaikan COGS, tanpa mengorbankan volume penjualan yang harus tetap terjaga,” jelas Ratih.

Adapun sektor yang berpotensi diuntungkan adalah energi, ditopang kinerja keuangan yang solid di tengah peluang kenaikan average selling price (ASP).

Kinerja Timah (TINS) Bisa Terpapar Jika Tarif Royalti Naik, Simak Rekomendasinya

Khusus bagi emiten eksportir komoditas seperti batu bara dan migas, depresiasi rupiah justru menjadi katalis positif karena secara mekanis dapat memperlebar margin keuntungan. Pasalnya, pendapatan perusahaan dibukukan dalam denominasi dolar AS, sementara sebagian besar beban operasional (OPEX) masih menggunakan rupiah.

Selain itu, sektor energi juga dikenal rutin membagikan dividen dengan imbal hasil tinggi. Investor dapat mencermati saham sektor energi yang valuasinya masih relatif murah, seperti AADI dengan price to earnings ratio (P/E) sekitar 6 kali dan PTBA dengan P/E 9,9 kali. Khusus PTBA, perusahaan juga belum menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), sehingga masih terdapat potensi dividend yield sekitar 11% per 11 Mei 2026.

Menyikapi PMI April yang terkontraksi ke 49,1, Elandry menyarankan investor tetap selektif ketimbang panic selling. Ini mengingat pasar masih menimbang arah bunga global dan stimulus domestik di Semester II-2026.

“Investor perlu utamakan fundamental dan likuiditas. Fokus pada emiten dengan neraca sehat dan utang terkendali agar lebih fleksibel menghadapi ketidakpastian biaya modal,” saran Elandry.

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Bakal Gelar RUPST Bulan Depan, Ini Agenda Pentingnya

Elandry menyarankan buy ICBP target harga Rp8. 000 karena memiliki pricing power yang sangat kuat sehingga permintaan produknya tetap stabil meski PMI manufaktur melemah dan biaya input fluktuatif. 

Begitu juga dengan MYOR yang layak dipertimbangkan untuk buy dengan target harga Rp 2.200 berkat pangsa pasar ekspornya yang luas hingga mencakup lebih dari 40% penjualan, yang sekaligus berfungsi sebagai lindung nilai alami terhadap perlambatan ekonomi domestik.

Sementara itu, TLKM dinilai cukup menarik untuk strategi buy on weakness dengan target harga Rp 3.500 mengingat sektor telekomunikasi tidak terdampak langsung oleh penurunan indeks manufaktur karena layanan data telah menjadi kebutuhan primer yang stabil bagi masyarakat. 

Di sisi lain, untuk ASII direkomendasikan posisi hold atau netral dengan target harga Rp 5.800 karena investor perlu lebih waspada terhadap potensi penurunan volume penjualan otomotif dan sebaiknya menunggu hingga terlihat adanya pemulihan pada data PMI serta stabilitas suku bunga ke depan.

Ratih menyarankan buy saham PTBA dengan target harga pada resistance di level Rp 3.100 serta pertimbangkan support di level Rp 2.750, serta buy on weakness saham AADI Rp 9.150 dengan target harga pada resistance di level Rp 9.900 serta pertimbangkan support di level Rp 8.900.