
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Maraknya investor ritel baru menjadi sinyal positif bagi perkembangan pasar modal Indonesia.
Namun, pertumbuhan ini juga menghadirkan tantangan baru, salah satunya meningkatnya risiko praktik saham gorengan, yakni saham yang pergerakan harganya dimanipulasi untuk keuntungan jangka pendek.
Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menilai, agar momentum pertumbuhan investor tetap sehat dan berkelanjutan, pasar modal perlu dilengkapi mekanisme pencegahan yang lebih kuat terhadap praktik spekulatif tersebut.
IHSG Anjlok 1,37% ke 8.951 dalam Sepekan, Cermati Faktor Pemicunya
Board of Trustees Prasasti Ilya Avianti menekankan bahwa pertumbuhan jumlah investor harus diiringi dengan peningkatan kualitas.
Menurutnya, pasar modal yang sehat bertumpu pada nilai fundamental perusahaan, bukan sekadar pergerakan harga jangka pendek.
“Fondasi pasar modal itu fundamental, bukan teknikal semata,” ujarnya melalui keterangannya Jumat (23/1/2026).
Ilya menjelaskan, langkah pertama untuk menekan praktik saham gorengan adalah memperkuat transparansi.
Emiten harus disiplin menyampaikan laporan keuangan dan informasi material secara tepat waktu serta mudah dipahami oleh investor.
“Kalau informasi perusahaan terbuka dan mudah dibaca, ruang untuk memainkan persepsi pasar akan semakin sempit,” katanya.
IHSG Melemah 1,37% Selama Sepekan, Ini Sentimen Pemberatnya
Langkah kedua adalah memperketat pengawasan transaksi. Pola perdagangan yang tidak wajar, seperti lonjakan harga dan volume secara tiba-tiba tanpa dukungan kinerja perusahaan, perlu cepat terdeteksi dan ditindak.
“Harga saham seharusnya mencerminkan nilai perusahaan, bukan sekadar hasil tarik-menarik jangka pendek,” ujar Ilya.
Ketiga, edukasi investor dinilai sebagai benteng terpenting. Investor perlu dibekali kemampuan membaca laporan keuangan, memahami model bisnis, serta menilai prospek usaha secara rasional.
“Kalau investor mau belajar fundamental, mereka tidak mudah terjebak saham gorengan,” jelasnya.
Selain regulator dan investor, Ilya menilai peran pelaku pasar juga krusial. Broker, analis, dan media ekonomi perlu mendorong budaya investasi berbasis data dan kinerja, bukan sensasi pergerakan harga sesaat. Rekomendasi yang bertanggung jawab akan membantu membentuk perilaku pasar yang lebih dewasa.
Bidik Pertumbuhan Kinerja di 2026, Simak Strategi Sinar Eka Selaras (ERAL)
Prasasti merekomendasikan pendekatan terpadu untuk menekan praktik saham gorengan, mulai dari transparansi, pengawasan, edukasi investor, hingga tanggung jawab pelaku pasar.
Pendekatan ini dinilai penting agar pertumbuhan investor tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian.