
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) menargetkan pendapatan Rp 2,3 triliun pada 2026 atau tumbuh 10%-15% dibanding tahun sebelumnya. Target tersebut dinilai realistis di tengah prospek industri alat kesehatan yang masih solid.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai karakter produk alat kesehatan habis pakai yang defensif menjadi penopang utama kinerja OMED.
“Targetnya realistis karena sifat produk alat kesehatan habis pakai yang demand-nya cenderung inelastis. Pertumbuhan volume penjualan akan didorong ekspansi rumah sakit swasta dan program JKN yang cakupannya makin luas,” ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).
Rupiah Spot Melemah 0,12% ke Rp 16.848 per Dolar AS pada Jumat (13/2) Pagi
Senada, manajemen OMED menyatakan optimistis target tersebut dapat tercapai, terutama dengan adanya peningkatan anggaran kesehatan pemerintah pada 2026.
“Kami optimistis target tersebut realistis, terutama dengan adanya katalis peningkatan anggaran kesehatan oleh pemerintah pada 2026 sebesar Rp244 triliun atau naik sekitar 15%–16% dibanding tahun lalu. Selain itu, demand dari swasta juga stabil dan resilien,” tulis manajemen OMED dalam keterangan tertulis.
Kenaikan anggaran kesehatan dinilai menjadi katalis utama bagi kinerja OMED. Wafi menyebut, posisi OMED sebagai market leader dengan sertifikasi TKDN tinggi membuat perseroan berada dalam posisi strategis untuk menangkap peluang belanja pemerintah.
Manajemen OMED menambahkan, pada kuartal I-2026 perseroan telah menyepakati pemenuhan permintaan pengadaan Barang Medis Habis Pakai (BMHP) dari Kementerian Kesehatan. “Kami melihat komitmen pemerintah terhadap layanan kesehatan menjadi prioritas dalam jangka panjang,” tulis manajemen.
Dari sisi belanja modal, OMED mengalokasikan capex Rp 62 miliar pada 2026. Wafi menilai sentralisasi logistik melalui National Distribution Center (NDC) di Pulo Gadung dapat memangkas biaya distribusi dan persediaan, sehingga margin laba berpotensi membaik. Selain itu, langkah tersebut dinilai strategis untuk mempercepat lead time pengiriman di wilayah Jabodetabek sebagai pasar terbesar.
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 43.000 Menjadi Rp 2.904.000 Per Gram, Jumat (13/2)
Sementara itu, manajemen menyebut capex tahun ini relatif lebih rendah dibanding tahun sebelumnya karena sejumlah ekspansi telah selesai dieksekusi, termasuk akuisisi NDC Pulo Gadung, ekspansi fasilitas di Mojoagung, serta pembangunan pabrik di Batang. “Sehingga pada 2026 margin laba baik gross, operasional, maupun laba bersih relatif stabil. Bahkan kami harapkan bisa ada kenaikan dalam jangka panjang,” tulis manajemen.
Terkait ketahanan margin, Wafi memperkirakan margin OMED tetap solid di level dua digit berkat integrasi manufaktur lokal yang menekan ketergantungan impor. Ia juga melihat segmen swasta berpotensi memberikan margin lebih tinggi dibanding segmen BPJS karena fleksibilitas harga jual, sementara ekspor dapat menjadi mesin pertumbuhan baru meski kontribusinya masih bertahap.
Manajemen OMED juga memproyeksikan margin tetap stabil pada 2026, didukung harga bahan baku dan biaya logistik yang relatif terjaga. Segmen swasta dinilai masih resilien, sementara ekspor berada dalam tren menguat.
Dari sisi rekomendasi, Wafi memberikan rekomendasi beli untuk saham OMED dengan target harga Rp 240 per saham.