
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum memberikan tekanan signifikan terhadap pasar kripto.
Menjelang berakhirnya masa gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, harga Bitcoin justru bertahan di level krusial US$ 75.000.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menilai pergerakan Bitcoin menunjukkan pola berbeda dibandingkan siklus sebelumnya.
Revisi Harga Patokan Mineral Nikel Jadi Angin Segar, Prospek INCO Makin Menarik
“Kami mengamati pola yang sangat konsisten: blokade militer dan ancaman perang besar kini hanya mampu menekan harga Bitcoin dalam kurun waktu yang relatif singkat sebelum permintaan neto kembali melonjak. Posisi Bitcoin telah semakin bergeser menjadi inflation hedge, setelah sebelumnya lebih banyak dipersepsikan sebagai risk-on asset,” tulis Fahmi dalam keterangan resmi, Selasa (21/4).
Ia menjelaskan, level US$75.000 kini menjadi titik penting yang menopang pergerakan harga. Stabilnya posisi Bitcoin di atas level tersebut dinilai membuka peluang kenaikan lanjutan yang lebih berkelanjutan.
Salah satu faktor yang menopang ketahanan harga adalah meningkatnya permintaan institusional. Dalam periode 13–19 April, perusahaan Strategy tercatat mengakuisisi 34.164 Bitcoin dengan nilai sekitar US$ 2,54 miliar, setelah sebelumnya juga melakukan pembelian dalam jumlah besar.
Fahmi menilai akumulasi tersebut berpotensi berlanjut dan menciptakan tekanan beli yang konsisten di pasar. Di sisi lain, suplai Bitcoin yang terbatas membuat aset ini semakin langka di tengah peningkatan adopsi.
Lebih lanjut, ia mencatat tekanan jual akibat konflik juga cenderung semakin berkurang. Menurutnya, pelaku pasar yang ingin melepas aset karena faktor geopolitik kemungkinan sudah melakukan aksi jual pada fase sebelumnya.
“Holder yang ingin menjual karena konflik di Timur Tengah kemungkinan besar sudah selesai menjual. Sementara permintaan dari institusi seperti Strategy dan ETF Bitcoin spot telah menjadi support harga yang semakin solid,” kata Fahmi.
Di tengah potensi kenaikan inflasi global akibat lonjakan harga energi, Bitcoin juga mulai dilihat sebagai alternatif lindung nilai. Hal ini dinilai relevan bagi investor di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menghadapi tekanan nilai tukar.
Revisi Harga Patokan Mineral Nikel Jadi Angin Segar, Prospek INCO Makin Menarik
Fahmi menyarankan investor tetap mengedepankan strategi bertahap dalam berinvestasi kripto.
“Investor dengan portofolio yang mengintegrasikan aset kripto utama seperti Bitcoin dan Ethereum berpotensi mendapatkan rasio risk/reward yang lebih menarik dalam kondisi seperti ini. Bagi yang baru memulai, strategi DCA atau membeli secara rutin dalam jumlah terukur tetap menjadi pendekatan paling prudent,” kata Fahmi.