Revisi harga patokan mineral nikel jadi angin segar, prospek INCO makin menarik

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Prospek kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dinilai semakin positif seiring revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel oleh pemerintah.

Kebijakan pemerintah yang mengubah formula HPM mulai 15 April 2026 dinilai berpotensi memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kinerja perseroan, terutama dari sisi margin.

Sebagaimana diketahui, revisi formula HPM mengacu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026. 

Komisaris Vale Indonesia (INCO) Ajukan Pengunduran Diri

Beleid ini merupakan perubahan atas Kepmen ESDM Nomor 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara.

Regulasi terbaru ini mengatur beberapa perubahan substansial. Terkait komoditas nikel, peraturan ini memuat formula bijih nikel melalui penyesuaian pada Corrective Factor (CF) serta penambahan mineral ikutan (besi, kobalt, dan krom) dalam perhitungan HPM. 

Selain itu, terjadi perubahan satuan harga, di mana transisi satuan HPM pada bijih dari yang sebelumnya dolar Amerika Serikat (US$) per Dry Metric Ton (DMT) menjadi US$ per Wet Metric Ton (WMT). 

“Revisi HPM akan berdampak positif. Penyesuaian corrective factor dan valuasi mineral ikutan mendorong kepastian harga jual domestik yang lebih premium, sehingga langsung berdampak ke margin INCO,” ujar Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi kepada Kontan, Senin (21/4/2026).

Menurut Wafi, perubahan ini membuat harga acuan menjadi lebih mencerminkan nilai ekonomi sebenarnya dari bijih nikel, sehingga memberikan keuntungan bagi produsen seperti INCO.

Sementara itu, Analis Ciptadana Sekuritas Asia Ryan Santoso berpandangan INCO masih menghadapi sejumlah tantangan. Risiko tambahan datang dari kebijakan baru seperti penerapan Harga Mineral Acuan (HMA) serta potensi pungutan ekspor untuk produk hilirisasi. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan kinerja sektor nikel secara keseluruhan. 

IHSG Melemah 0,38% ke 7.070 di Sesi I Senin (30/3), INCO, BBCA, AMRT Top Losers LQ45

“Selain itu, INCO juga akan memasuki fase investasi besar pada periode 2026-2028 dengan kebutuhan belanja modal yang tinggi. Kondisi ini membuka kemungkinan perseroan membutuhkan tambahan pendanaan eksternal,” terang Ryan dalam riset 13 April 2026.

Menurutnya, langkah pemerintah dalam memangkas kuota tambang sekitar 29%–31% secara tahunan sempat mendorong harga nikel dalam jangka pendek. Hal ini tercermin dari proyeksi harga nikel yang meningkat menjadi rata-rata US$ 17.305 per ton pada 2026, dibandingkan US$ 15.162 per ton pada 2025.

Namun, Ryan menilai dampak positif tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara. Pasalnya, kebijakan lanjutan seperti penerapan HMA dan pungutan ekspor untuk produk seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan Nickel Pig Iron (NPI) berpotensi menekan permintaan serta margin di sepanjang rantai industri.

Di sisi lain, tekanan juga datang dari kenaikan biaya produksi. Ryan memperkirakan harga minyak dapat naik ke level US$ 100 per barel dari sebelumnya US$ 68 pada 2025. 

Kenaikan ini akan mendorong porsi biaya bahan bakar terhadap penjualan meningkat menjadi 17,7% dari 16,3%, yang pada akhirnya dapat menggerus profitabilitas perusahaan.

Di luar sentimen regulasi, Wafi juga menyoroti sejumlah faktor lain yang akan mempengaruhi kinerja INCO sepanjang 2026.

Pertama, pergerakan harga nikel global yang mengacu pada London Metal Exchange (LME) masih menjadi faktor utama. Selain itu, dinamika permintaan dari industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) juga akan menjadi penentu arah harga dan volume penjualan.

“Kemudian progres penyelesaian proyek smelter ekspansi di Pomalaa dan Bahodopi juga penting untuk dicermati, termasuk sinergi pasca-divestasi dengan MIND ID,” tambahnya.

Ada pun untuk tahun 2026, Analis OCBC Sekuritas Devi Harjoto, dalam riset 6 April 2026, memprediksi produksi nickel matte diperkirakan turun menjadi sekitar 68 ribu ton. Penurunan ini sejalan dengan proses perbaikan Furnace 3 yang dijadwalkan rampung pada Mei 2026.

Selain itu, INCO juga diperkirakan mulai memasok bijih limonit ke proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Morowali dan Pomalaa yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.

Vale Indonesia (INCO) Raih Fasilitas Kredit Bergulir US$ 500 Juta, Ini Tujuannya

Ia menambahkan, margin tersebut diharapkan dapat membantu mengimbangi tekanan biaya, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar.

Berdasarkan laporan keuangan, INCO membukukan pendapatan sebesar US$ 990,19 juta pada 2025, meningkat 4,18% yoy dibandingkan US$ 950,38 juta pada periode sebelumnya. Lalu laba tahun berjalan alias laba bersih INCO mencapai US$ 76,06 juta, melonjak 31,68% dari US$ 57,76 juta pada tahun sebelumnya.

Melihat faktor di atas, Devi mengestimasi pendapatan INCO pada 2026 diperkirakan mencapai US$ 1,305 miliar, meningkat 36,4% dibanding realisasi 2025. Pun laba bersih juga diproyeksikan melonjak 134,2% yoy menjadi sekitar US$ 178 juta pada 2026.

Dengan berbagai katalis tersebut, Wafi merekomendasikan buy saham INCO dengan target harga Rp 8.000 per saham.

Ada pun Devi juga merekomendasikan buy INCO dengan target harga Rp 7.500 per saham. Sedang Ryan merekomendasikan hold saham INCO dengan target Rp 6.400.