Jakarta, IDN Times – Kementerian Keuangan mulai masuk ke pasar obligasi dengan menggelontorkan dana sekitar Rp2 triliun per hari yang telah dilakukan sejak Rabu (13/5/2026) pekan lalu. Namun, hingga kini pemerintah baru berhasil membeli obligasi sekitar Rp2,2 triliun.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan pada hari pertama pemerintah membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp100 miliar. Lalu, pada Senin (18/5/2026) pembelian bertambah Rp830 miliar dan pada Selasa mencapai Rp1,29 triliun.
“Kalau enggak salah hari pertama itu Rp100 miliar. Kemarin Rp830 miliar. Hari ini Rp1,29 triliun,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA April 2026 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
1. Alasan serapan pembelian obligasi kecil
Menurut Purbaya, pembelian pemerintah masih kecil karena investor belum banyak yang mau menjual obligasinya. Banyak investor asing justru memilih menahan SBN karena dianggap masih menguntungkan. Saat ini, imbal hasil atau yield SBN berada di kisaran 6,7 persen, level yang dinilai menarik bagi investor.
“Karena enggak ada yang jual. Mereka masih sayang melepas obligasi itu karena masih menguntungkan,” ujarnya.
Jaga Rupiah, Pemerintah Guyur Rp2 Triliun ke Pasar Obligasi Tiap Hari 2. Bantu BI stabilkan rupiah dan turunkan imbal obligasi
Purbaya mengatakan langkah pemerintah masuk ke pasar obligasi bertujuan membantu Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah. Di sisi lain, pemerintah ingin menurunkan yield SBN yang saat ini naik cukup tinggi dibanding awal tahun.
Targetnya, yield SBN bisa kembali ke level awal tahun sekitar 6,04 persen. Sebab, semakin tinggi yield, harga obligasi justru turun. Kondisi ini bisa membuat investor rugi jika menjual obligasi sebelum jatuh tempo.
“Target pertama itu mengembalikan yield ke level sebelumnya. Sekarang kan berapa? 6,7 persen ya? 6,7 persen. Hampir naik, ya sebenarnya naik satu persen dibanding awal tahun,” ujar Purbaya.
Sebaliknya, jika pemerintah berhasil menurunkan yield, harga obligasi akan naik. Investor yang sudah memegang obligasi bisa mendapat keuntungan karena nilai obligasinya meningkat.
3. Pergerakan obligasi diharapkan bisa stabil
Melalui operasi pasar ini, pemerintah berharap pergerakan pasar obligasi menjadi lebih stabil dan tidak terlalu bergejolak. Kondisi tersebut dinilai dapat menurunkan persepsi risiko investasi di pasar surat utang Indonesia, sehingga investor lebih percaya diri untuk kembali menanamkan modal di dalam negeri.
“Karena kalau harga bond stabil, yield stabil, mereka akan masuk ke sini. Mereka juga berhitung. Kalau masuk sekarang, ada potensi appreciation. Jadi untungnya bisa dobel, dari capital gain dan dari penguatan nilai tukar,” kata Purbaya.
Purbaya juga menegaskan sumber dana untuk operasi pasar tersebut tidak hanya berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL).
“Melalui langkah ini, kami ingin mengembalikan kepercayaan investor asing dan memastikan aliran dolar kembali masuk ke Indonesia. Ini juga menjadi cara pemerintah membantu bank sentral agar rupiah memiliki ruang bernapas,” ujarnya.
Purbaya Sebut Defisit APBN per April Susut Jadi Rp164,4 Triliun