Kepul Saham Rokok GGRM HMSP Cs Terembus Keberhasilan Efisiensi

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Saham emiten rokok sejak awal tahun mengepul dan diperkirakan bakal terus membara hingga akhir tahun. Namun, tekanan daya beli dan fenomena downtrading membayangi kinerja emiten rokok.

Berdasarkan data RTI Infokom per 6 Mei 2026, saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) menguat 19,78% sejak awal tahun (year-to-date/ytd) menjadi Rp16.350. Selanjutnya, saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) naik 3,38% ytd menjadi Rp765.

Adapun, laba bersih emiten rokok pada kuartal I/2026 terpantau meningkat kendati penjualan terkontraksi. Analis melihat kenaikan bottom line tersebut lebih didorong efisiensi ketimbang perbaikan permintaan.

“Kinerja kuartal I yang menunjukkan laba tumbuh di tengah penjualan yang terkontraksi lebih mencerminkan keberhasilan efisiensi, bukan perbaikan fundamental permintaan,” kata Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita saat dihubungi, Senin (4/5/2026).

: Prospek Saham Rokok 2026: GGRM, HMSP Cs Tertekan Downtrading

Di tengah tekanan tersebut, pergeseran konsumsi ke segmen harga lebih murah mulai mengubah peta persaingan. Emiten seperti PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) yang bermain di segmen ekonomis justru mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba signifikan, berbanding terbalik dengan tekanan yang dialami pemain premium.

“Fenomena downtrading akan tetap dominan, di mana konsumen tidak berhenti merokok tetapi berpindah ke segmen harga yang lebih rendah. Ini membuat emiten besar seperti HM Sampoerna dan Gudang Garam menghadapi tekanan volume dan pricing power, sementara pemain yang lebih fleksibel di segmen bawah seperti Wismilak Inti Makmur cenderung lebih adaptif,” jelas Ronny.

Analis menilai sektor rokok kini memasuki fase defensif, dengan ruang pertumbuhan terbatas dan kinerja yang lebih ditopang efisiensi serta stabilitas arus kas.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai valuasi saham GGRM dan HMSP saat ini sudah kembali ke fair value.

“Market memang memberi re-rating karena laba sempat rebound, tapi kenaikan laba lebih banyak dari efisiensi, bukan volume growth. Jadi secara fundamental, upside masih terbatas kalau tidak ada perbaikan permintaan,” ujar Wafi.

KISI Sekuritas memberi rating netral untuk sektor tembakau. Pertimbangannya, industri ini masih defensif dari sisi cash flow dan dividend yield, tapi memiliki growth story yang lemah.

Untuk rekomendasi, Wafi menilai HMSP masih menarik untuk strategi yield play karena menawarkan stabilitas. Sementara untuk GGRM, saham ini lebih cocok untuk strategi recovery play walau punya risiko yang lebih tinggi.

Ihwal growth story yang lemah, Wafi melihat outlook industri rokok ke depan masih menantang, utamanya disebabkan oleh fenomena downtrading, peredaran rokok ilegal, serta kebijakan layer CHT baru yang bisa menekan volume penjualan emiten eksisting, ditambah faktor daya beli masyarakat yang juga belum sepenuhnya pulih. 

Di sisi lain, peluang industri ini adalah pada efisiensi berkelanjutan, stabilisasi tarif cukai, dan keberhasilan pemerintah jika berhasil menekan rokok ilegal.

“Tapi overall, sektor ini lebih ke stabil, tapi tidak tumbuh tinggi,” tandasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.