
Ussindonesia.co.id — JAKARTA. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela turut mendorong penguatan harga Bitcoin (BTC) pada awal tahun ini. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, pasar kripto justru merespons positif, berbeda dari pola yang terlihat pada konflik geopolitik sebelumnya.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai, dalam jangka pendek Bitcoin masih berpeluang melanjutkan penguatan hingga mendekati area psikologis US$100.000 per BTC, selama sentimen geopolitik tersebut tidak berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas.
“Secara jangka pendek, selama sentimen ini masih bertahan dan tidak berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas, peluang Bitcoin untuk menguji area 100 ribu dolar masih terbuka,” kata Fyqieh kepada Kontan, Selasa (6/1/2026).
Bitcoin Mendekati US$93.000, Trump Buka Opsi Aksi terhadap Kolombia
Fyqieh menjelaskan, respons pasar kali ini terbilang berbeda dibandingkan konflik Rusia–Ukraina atau ketegangan di Timur Tengah yang sebelumnya justru menekan harga Bitcoin.
Pada kasus AS–Venezuela, Bitcoin dan sejumlah altcoin justru menguat, mencerminkan perubahan persepsi pasar yang mulai melihat Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di kondisi ketidakpastian tertentu.
Selain faktor geopolitik, pergerakan Bitcoin juga dipengaruhi arus masuk investor institusional yang masih menjadi pendorong utama reli kripto dalam beberapa waktu terakhir.
Ditambah lagi, secara historis Bitcoin kerap mencatatkan performa positif pada kuartal pertama, sehingga peluang bullish secara statistik masih terbuka.
Meski demikian, Fyqieh mengingatkan volatilitas pasar kripto tetap tinggi. Kenaikan harga aset lain seperti emas, perak, dan minyak mencerminkan meningkatnya ketegangan global, yang berpotensi berdampak lanjutan terhadap inflasi dan kebijakan ekonomi, serta kembali memengaruhi pasar kripto.
Naik 2,50% Dalam Sepekan, Harga Bitcoin di Level US$ 92.392
Sementara itu, Co-founder Cryptowatch Christopher Tahir mengatakan kenaikan harga Bitcoin saat ini cenderung terbatas. Ia melihat minimnya katalis positif yang mampu mendorong likuiditas masuk secara berkelanjutan ke pasar kripto.
“Menurut saya kenaikan saat ini hanya akan terbatas dan tidak akan berkelanjutan dikarenakan minimnya katalis positif yang menggerakkan harga dan mendorong likuiditas masuk kembali ke Bitcoin,” ujarnya.
Christopher menambahkan, sentimen yang berkembang saat ini lebih banyak didorong oleh narasi pasar yang mengaitkan ketegangan geopolitik Venezuela dengan potensi kenaikan harga kripto, mengingat konflik geopolitik sebelumnya sempat menjadi salah satu pemicu pergerakan Bitcoin.