Kripto menguat bertahap, volatilitas tinggi masih membayangi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek aset kripto masih berpeluang menguat dalam jangka menengah. Namun, pergerakannya diperkirakan tidak akan berlangsung mulus dan cenderung diwarnai volatilitas tinggi.

Berdasarkan data Bloomberg, harga Bitcoin di akhir April 2026 tercatat naik 13,98% secara bulanan (month-on-month/MoM). Namun, secara tahun berjalan (year-to-date/YtD), Bitcoin masih terkoreksi 12,77%.

Kondisi serupa terjadi pada Ethereum yang menguat 8,09% MoM, tetapi masih melemah 23,80% sejak awal tahun.

Mengacu data CoinMarketCap per Senin (4/5/2026) pukul 10.50 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 80.211, sementara Ethereum di kisaran US$ 2.384.

Sentimen Negatif Eksternal Berkurang, IHSG Berpeluang Menguat Sepanjang Pekan Ini

Vice President Indodax, Antony Kusuma mengatakan, pergerakan pasar kripto ke depan cenderung bertahap dengan fase konsolidasi yang wajar, seiring karakter volatilitas instrumen ini.

“Selama faktor pendukung seperti stabilitas makroekonomi, likuiditas global, dan partisipasi investor institusional tetap terjaga, peluang penguatan masih terbuka dalam jangka menengah,” ujar Antony kepada Kontan, Jumat (1/5/2026).

Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin pada Mei diperkirakan sangat bergantung pada kekuatan sentimen pasar dan kemampuan harga bertahan di level psikologisnya. 

Jika momentum berlanjut, tren positif masih berpotensi berlanjut, meski volatilitas tetap tinggi.

Antony memperkirakan Bitcoin akan menguji level resistance di kisaran US$ 80.000.

Sementara itu, Antony memperkirakan Ethereum pada bulan Mei masih bergerak sideways di area US$ 2.300. 

Dalam jangka pendek, pergerakannya cenderung mengikuti arah pasar secara keseluruhan dengan potensi kenaikan yang lebih bertahap.

Pasar Kripto Berpeluang Bullish, Ini Proyeksi Bitcoin dan Ethereum hingga Akhir 2026

Di sisi lain, prospek jangka panjang Ethereum dinilai tetap solid, didukung oleh perkembangan ekosistem dan peningkatan utilitasnya.

Meski demikian, sejumlah risiko perlu diwaspadai. Ketidakpastian arah suku bunga global dan kondisi likuiditas berpotensi mendorong pergeseran minat investor ke aset defensif.

Faktor geopolitik juga dapat memicu perubahan sentimen pasar dalam jangka pendek. Dari sisi internal, volatilitas tinggi serta aksi ambil untung setelah kenaikan harga berpotensi memicu koreksi.

Antony menekankan pentingnya pendekatan investasi yang disiplin. Investor disarankan tidak hanya mengandalkan momentum pasar, tetapi juga menerapkan manajemen risiko untuk menjaga stabilitas portofolio.