
Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) membukukan penurunan laba bersih di sepanjang tahun lalu. Meski begitu laba bersih tersebut masih sejalan dengan estimasi Maybank Sekuritas Indonesia setara dengan 100,6% sementara konsensus pasar di 99,5%.
Pada tahun 2025, AADI mencatatkan laba bersih sebesar US$ 760 juta, turun 36% secara tahunan. Sementara pendapatan AADI turun 7,7% secara tahunan menjadi US$ 4,91 miliar. Realisasi pendapatan tersebut menurut Hasan Barakwan analis Maybank Sekuritas Indonesia memenuhi estimasinya 101,8% dan memenuhi proyeksi konsensus 103,9%.
Hasan bilang, realisasi kinerja terebut berhasil memenuhi estimasinya lantaran di kuartal IV tahun 2025, laba bersih AADI naik 11,5% secara kuartalan menjadi US$ 173 juta. Kenaikan tersebut didorong pertumbuhan pendapatan sebesar 7,5% secara kuartalan menjadi US$ 1,3 miliar.
Penjualan SR024 Baru 30% dari Target, Ini Faktor yang Menahan Minat Investor
Profitabilitas tersebut menunjukkan peningkatan yang kuat diikuti lonjakan laba kotor sebesar 28,2% secara kuartalan menjadi US$ 318 juta dengan gross profit margin 24,5% bertambah 400 bps secara kuartalan. Hal ini mendorong EBITDA naik 12,9% secara kuartalan menjadi US$ 263 juta serta meningkatkan net profit margin menjadi 14,9% (+50 bps secara kuartalan).
Secara operasional, kenaikan pendapatan secara kuartalan pada kuartal IV tahun 2025 didorong oleh kombinasi kenaikan jumlah volume yang dihasilkan (throughput) yang lebih tinggi serta harga lebih tinggi.
Pada kuartal IV tahun 2025, volume penjualan batubara AADI meningkat menjadi 19,3 juta ton dibandingkan 18,7 juta ton pada kuartal III tahun 2025. Sementara harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) naik menjadi US$ 64,1 per ton di kuartal IV tahun 2025 dari US$ 61,7 per ton pada kuartal III-2025.
Volume penjualan yang lebih tinggi berhasil membantu AADI meredam dampak penurunan harga jual rata-rata sepanjang 2025 menjadi US$ 65,1 per ton. AADI di sepanjang tahun lalu berhasil memproduksi sebesar 68,7 juta ton dengan volume penjualan 71,9 juta ton.
Di tahun ini, Maybank Sekuritas percaya laba bersih AADI bisa lebih tinggi karena kenaikan harga jual batubara yang lebih tinggi. “Kami menaikkan estimasi laba bersih tahun 2026–2028 sebesar 28,5%–48,5% menjadi masing-masing US$ 916 juta, US$ 899 juta, dan US$ 860 juta,” jelas Hasan dalam riset 11 Maret 2026.
Revisi tersebut didorong oleh kenaikan asumsi harga batubara Newcastle menjadi US$ 125 per ton, US$ 123 per ton, dan US$ 120 per ton, “Kami menaikkan proyeksi harga jual rata-rata kami sebesar 9,8%–17,1%,” kata Hasan.
Sejalan dengan itu, estimasi pendapatan tahun 2026–2028 juga meningkat 9,4%–13,4% menjadi US$ 5,17 miliar, US$ 5,21 miliar, dan US$ 5,23 miliar, dengan net margin diproyeksikan melebar ke kisaran 16,8%–17,7%.
Karena itu, Hasan mempertahankan rekomendasi buy untuk saham AADI dengan target harga berbasis DCF sebesar Rp 12.500, didukung oleh kinerja laba setahun penuh yang tangguh dan sesuai ekspektasi.
Kembangkan Bisnis Pengelolaan Limbah, TBS Energi (TOBA) Siapkan US$ 200 Juta
“Prospek profitabilitas meningkat secara signifikan, seiring dengan kenaikan asumsi harga batubara Newcastle dalam proyeksi kami. Kami pun menaikkan estimasi laba bersih tahun 2026–2028 sebesar 28,5%–48,5%,” ujar Hasan.