
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Kinerja PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) sepanjang 2025 kurang menggembirakan. Penurunan penjualan membuat laba bersih emiten rokok ini ikut tertekan, meski hanya tipis.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Kamis (12/3/226), penjualan bersih HMSP turun 4,84% secara tahunan menjadi Rp 112,17 triliun pada 2025, dari Rp 117,88 triliun pada tahun sebelumnya.
Penjualan terbesar masih berasal dari segmen sigaret kretek mesin yang mencapai Rp 61,4 triliun. Disusul sigaret kretek tangan Rp 38,2 triliun, sigaret putih mesin Rp 5,85 triliun, serta produk bebas asap Rp 2,44 triliun. Sementara sisanya berasal dari sigaret putih tangan dan penjualan lainnya.
Di tengah penurunan penjualan, beban pokok penjualan justru turun menjadi Rp 91,55 triliun dari Rp 99,35 triliun pada 2024. Kondisi ini membuat laba kotor meningkat menjadi Rp 20,62 triliun, dari Rp 18,53 triliun pada tahun sebelumnya.
Fenomena Downtrading hingga Peredaran Rokok Ilegal Tekan Kinerja HM Sampoerna (HMSP)
Namun, kenaikan sejumlah beban operasional menahan laju profitabilitas. Beban penjualan naik tipis menjadi Rp 7,97 triliun dari Rp 7,89 triliun, sedangkan beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp 3,37 triliun dari Rp 2,94 triliun.
Pendapatan keuangan juga turun signifikan menjadi Rp 346,71 miliar dari Rp 720,73 miliar. Sementara biaya keuangan relatif stabil di Rp 38,66 miliar. Perusahaan mencatat penghasilan lain-lain Rp 428,20 miliar dengan beban lain-lain Rp 604,22 miliar.
HMSP Chart by TradingView
Dengan kondisi tersebut, laba sebelum pajak HMSP tercatat Rp 9,43 triliun pada 2025, naik dari Rp 8,69 triliun pada tahun sebelumnya. Namun setelah dikurangi beban pajak Rp 2,82 triliun, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 6,6 triliun, turun tipis 0,54% dibandingkan Rp 6,64 triliun pada 2024.
Analis Riset MNC Sekuritas Catherine Florencia menilai realisasi kinerja HMSP masih sejalan dengan proyeksi analis.
Intip Rekomendasi Saham HM Sampoerna (HMSP), Kinerja Diproyeksi Menanjak di 2026
“Realisasi penjualan sekitar 95% dari estimasi, sementara laba bersih sedikit di atas perkiraan karena beban pokok penjualan lebih rendah dari ekspektasi,” ujarnya.
Untuk 2026, MNC Sekuritas memperkirakan laba bersih HMSP berpotensi tumbuh dua digit. Prospek tersebut didukung efek basis rendah pada 2025 serta tidak adanya kenaikan tarif PPN dan cukai rokok.
Selain itu, penjualan juga diperkirakan membaik seiring pengetatan penindakan terhadap peredaran rokok ilegal sejak 1 Oktober 2025. “Prospek penjualan diperkirakan membaik seiring penindakan terhadap rokok ilegal,” kata Catherine.
Laba HM Sampoerna Diprediksi Naik Jadi Rp 8,07 Triliun pada 2026, Cek Rekomendasinya
Meski begitu, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Di antaranya potensi berlanjutnya fenomena downtrading akibat daya beli masyarakat yang belum pulih, serta kenaikan biaya distribusi.
Perubahan rute pelayaran akibat kondisi di Selat Hormuz juga berpotensi mendorong kenaikan biaya pengiriman dan harga bahan bakar.
Dari sisi rekomendasi, MNC Sekuritas menyarankan investor mencermati saham HMSP dengan target harga jangka panjang Rp 850 per saham.