
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan kinerja positif pada tiga bulan pertama tahun ini. Kinerja perseroan juga diperkirakan masih tetap bertumbuh pada kuartal II/2026.
Hingga Maret 2026, laba bersih perseroan secara konsolidasian tumbuh 3,83% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp14,68 triliun, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp14,14 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, raihan laba BCA pada periode ini didorong oleh pendapatan bunga bersih yang naik tipis 0,04% YoY menjadi Rp21,15 triliun, dari kuartal I/2025 sebesar Rp21,14 triliun.
: Intip Daftar Saham Konstituen Indeks MSCI Indonesia, Ada BBCA, AMMN, hingga GOTO
Pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi yang tumbuh 8,65% YoY turut mendorong kinerja laba pada periode ini. Tercatat, pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi BCA hingga Maret 2026 mencapai Rp5,06 triliun setelah pada kuartal I/2025 sebesar Rp4,65 triliun.
Dari sisi fungsi intermediasi, bank swasta terbesar di Indonesia itu mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 5,6% YoY menjadi Rp994 triliun.
: : Saham BBCA Undervalued, Peluang Investor Akumulasi di Harga Diskon
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyampaikan bahwa momentum Ramadan dan Idulfitri sangat memengaruhi kinerja kredit perseroan pada kuartal I/2026.
“Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara prudent,” kata Hendra dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Kuartal I/2026 secara daring, Kamis (23/4/2026).
: : Masuk Rekening Hari Ini (8/4), BCA (BBCA) Tebar Dividen Tunai Rp41,3 Triliun
Hendra memastikan, perseroan senantiasa menyalurkan kredit dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko yang disiplin.
Pada periode ini, rasio loan at risk (LAR) dan non-performing loan (NPL) terjaga, masing-masing di posisi 5,1% dan 1,8%. Rasio pencadangan LAR dan NPL ada pada level solid, masing-masing 69,7% dan 174,6%.
Dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) BCA hingga Maret 2026 mencapai Rp1.292,4 triliun, tumbuh 8,3% YoY. Porsi CASA mendominasi sekitar 85,2% dari total DPK perseroan.
Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim menambahkan, realisasi kinerja pada kuartal I/2026 sangat inline dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) perseroan.
Sejauh ini, dia juga memastikan bahwa target perseroan masih sejalan dengan RBB 2026, sembari terus memerhatikan kondisi ekonomi dan permintaan kredit dalam sembilan bulan mendatang.
“Kita berharap ada perbaikan-perbaikan juga ekonomi dan permintaan kredit untuk 9 bulan mendatang. Jadi kita masih melihat tren, rencana kerja itu masih untuk kita teruskan,” jelas Vera.
BCA sejatinya merupakan bank yang konsisten mencatatkan pertumbuhan kinerja.
“Di tengah tantangan saat ini, bank masih mencatat pertumbuhan kinerja adalah sesuatu yang positif dan menunjukkan resiliensi bank sehingga masih sesuai ekspektasi,” kata Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan kepada Bisnis, Kamis (23/4/2026).
Untuk kuartal II/2026, Trioksa memperkirakan BCA tetap mencatatkan pertumbuhan kinerja meskipun tren suku bunga diperkirakan berbalik arah.
Kendati begitu, prospek saham BBCA dinilai agak ‘anomali’ di tengah pertumbuhan kinerja yang konsisten. Trioksa melihat, harga saham BBCA dalam tren menurun akibat penjualan masif dari investor luar, di tengah sentimen MSCI dan pelemahan rupiah.
“Prospek BBCA dalam jangka pendek masih akan tertekan, namun masih terlihat prospek dalam jangka panjang bila terjadi perbaikan penilaian MSCI dan rupiah kembali stabil,” tuturnya.