Pasar global bergejolak, saham Indonesia dinilai tetap tangguh

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Meningkatnya konflik di Timur Tengah telah memicu volatilitas di berbagai pasar keuangan global, termasuk perubahan dinamika pada tiga aset makro utama, yakni dolar AS, minyak, dan emas. Kondisi ini turut memengaruhi sentimen investor secara luas, termasuk terhadap pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia memandang dolar AS, minyak, dan emas sebagai variabel yang saling terkait erat dan berperan dalam membentuk arah pasar serta kinerja sektoral.

“Penguatan dolar AS dapat menimbulkan tekanan jangka pendek terhadap rupiah dan arus dana di pasar negara berkembang, yang dapat memengaruhi saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga dan berorientasi domestik. Namun, fundamental makro Indonesia yang relatif kuat membantu meredam volatilitas tersebut,” ujar Head of Equity AllianzGI Indonesia, Octavius Prakarsa, dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).

Di sisi lain, Octavius menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak membawa dampak yang beragam. Di satu sisi, sektor energi berpotensi mencatatkan kinerja unggul. Di sisi lain, tekanan inflasi dan beban fiskal akibat subsidi energi tetap menjadi faktor yang harus dicermati secara saksama. Sementara itu, lonjakan harga emas mencerminkan tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya sikap risk-off (menghindari risiko) di kalangan investor.

“Dalam situasi seperti ini, kami melihat pasar saham Indonesia tetap relatif tangguh, meskipun akan terjadi perbedaan kinerja yang semakin lebar antar sektor,” tambah Octavius.

Menghadapi dinamika tersebut, AllianzGI Indonesia menekankan pentingnya strategi investasi yang seimbang dan selektif. Investor disarankan berfokus pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, ketahanan laba, serta eksposur terhadap pendorong pertumbuhan domestik.

“Eksposur selektif pada saham energi dan komoditas dapat memberikan manfaat diversifikasi sekaligus berfungsi sebagai lindung nilai (hedging) terhadap inflasi. Saat ini, pemilihan saham aktif dan rotasi sektor menjadi kunci, karena dinamika makro global akan terus memicu perbedaan imbal hasil di pasar saham,” jelas Octavius.

   

Sementara itu, dari perspektif global, AllianzGI menilai minyak kini semakin diperdagangkan sebagai aset yang mencerminkan risiko pasokan akibat geopolitik, sementara dolar AS kembali berperan sebagai safe haven dalam jangka pendek, dan emas cenderung menjadi aset yang lebih bersifat taktis.

“Ketidakpastian di Timur Tengah menegaskan pentingnya investor membangun portofolio yang tangguh dan adaptif,” tulis Tim CIO AllianzGI sebagaimana dikutip dari artikel berjudul The US dollar, oil and gold: changing dynamics?

AllianzGI tetap memiliki pandangan positif terhadap sektor komoditas, termasuk minyak, yang didukung oleh premi risiko geopolitik sehingga berpotensi menjadi lindung nilai dalam portofolio. Di sisi lain, prospek emas dalam jangka menengah dipengaruhi oleh faktor struktural seperti permintaan bank sentral, kondisi fiskal, dan dedolarisasi, serta faktor tradisional termasuk pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil riil, dan pembelian investor ritel.

“Di tengah perubahan dinamika global, menjaga fleksibilitas sekaligus disiplin dalam pengambilan keputusan menjadi kunci dalam membangun ketahanan portofolio,” tulis Tim CIO AllianzGI.