
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Deputy Head of Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat menyampaikan pasar modal Indonesia masih berpeluang untuk terus tumbuh di tengah gempuran tantangan ketidakpastian global yang tinggi. Ia memproyeksikan pada 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mencapai level 9.000.
“Mengenai target IHSG ke depannya, kami masih menjaga target IHSG di 9.050 poin. Namun, kami melihat potensi revisi ke bawah mengingat adanya potensi tekanan margin akibat volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban energi ke depannya,” kata Kresna dalam agenda konferensi pers Mandiri Macro and Market Brief Kuartal II 2026 yang digelar secara daring, Senin (11/5/2026).
Kresna menjelaskan tekanan eksternal makro sangat kuat terhadap pasar saham. Di samping itu, masih banyak faktor domestik yang harus dibenahi untuk memastikan performa pasar saham lebih baik ke depan.
Sepanjang 2026, pasar saham Indonesia memang mengalami penurunan kinerja, tercermin dari IHSG yang terkoreksi sekitar 17—18 persen secara year to date (ytd). Hal itu menempatkan Indonesia mengalami tekanan pasar saham yang cukup parah dibandingkan negara-negara tetangga yang relatif mampu bertahan di tengah derasnya arus modal keluar.
“Memang kita akui bahwa konflik geopolitik dan tekanan ataupun lonjakan harga energi dunia membawa risiko global, memberikan tekanan makro kepada pasar saham dan juga ekspektasi pertumbuhan bisnis serta emiten pasar saham kita,” ujarnya.
Di sisi lain, global capital absorption atau penyerapan modal global memang masih konsisten terjadi dari pasar developed market seperti Amerika Serikat serta pasar saham lainnya yang memiliki emiten di sektor artificial intelligence (AI) dan teknologi. Tren tersebut membuat pasar emerging market, seperti Indonesia, tertekan.
“Jadi memang banyak arus modal global menuju emiten-emiten yang mendapatkan pertumbuhan laba dan minat investasi besar, terutama di pasar saham Amerika, Korea, dan Taiwan, yang bisnis AI dan teknologinya mencapai pertumbuhan laba dan pendapatan yang superior,” jelasnya.
Kemudian, dari sisi tren investor untuk risk aversion atau kembali memarkirkan pendanaan dari aset kelas berdenominasi rupiah ke dolar AS, termasuk komoditas yang dianggap safe haven seperti emas, juga menjadi salah satu alasan pasar modal emerging market tergempur tekanan jual asing yang cukup kuat.
“Kita mesti perhatikan, dalam satu hingga dua bulan terakhir, tekanan jual di pasar saham kita yang mengakibatkan performa saham secara year to date memang lebih buruk dibandingkan peers. Namun, ke depannya kita harus mencermati bahwa risiko terhadap earnings emiten-emiten, terutama IDX80 misalnya, yang diikuti investor global dan domestik harus kita akui akan mendapatkan tekanan tambahan mengingat adanya transmisi dari kenaikan harga energi dan kenaikan harga dari petrochemical derivatives,” jelasnya.
Kondisi Domestik
Kresna menerangkan berfluktuasinya kondisi pasar saham Indonesia juga tidak terlepas dari berbagai faktor domestik. Di antaranya penilaian atau outlook Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang cukup mengguncang pasar modal.
Keputusan MSCI akan dikeluarkan pada 12 Mei 2026 waktu New York atau 13 Mei 2026 waktu Indonesia untuk memutuskan posisi Indonesia bertahan di emerging market atau turun kelas ke frontier market.
“Dan sementara akan ada wacana beberapa emiten yang saat ini merupakan konstituen indeks MSCI Indonesia mungkin berpotensi dikeluarkan akibat kebijakan ataupun transparansi data tambahan yang sudah dijalankan oleh OJK dan juga IDX terkait konsentrasi pemilikan saham oleh emiten tertentu,” terangnya.
Kresna menuturkan risiko penurunan peringkat dalam risiko kredit atau sovereign bond rating downgrade risk juga menjadi salah satu faktor yang diikuti investor saham. Hal itu bisa memengaruhi cost of equity dan aliran dana ke pasar saham ke depannya.
“Investor global menempatkan Indonesia sebenarnya relatif lebih baik dibandingkan peers di negara ASEAN mengingat adanya topangan dari sektor komoditas dan diversifikasi basis ekspor komoditas Indonesia yang tidak hanya bergantung pada CPO dan emas, tetapi sekarang juga bertambah dengan komoditas lain termasuk tembaga, nikel, dan aluminium,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kresna menuturkan tekanan jual sebenarnya sangat dominan di industri perbankan dan konsumer. Namun, menurut dia, tren flow di sektor komoditas cukup beragam dan kemungkinan lebih bias positif, terlepas dari adanya berita ataupun wacana penentuan tarif royalti minerba yang akan direvisi pemerintah ke depannya untuk memastikan tambahan pendapatan fiskal di tengah kenaikan harga komoditas.
“Tapi kalau kita lihat, di all market, top sell memang dominan diisi nama-nama perbankan seperti BBCA, BMRI, dan BBNI yang merupakan konstituen indeks utama,” tuturnya.
Namun, masih tercatat top buy di sektor industri komoditas, misalnya emas dan batu bara. Hal itu menjadi salah satu sektor penopang performa IHSG sepanjang tahun ini.
“Ke depan, sebenarnya ada banyak katalis yang menurut kami bisa menjadi potensi reversal untuk beberapa saham, terutama terkait dengan domestic capital market reform atau reformasi pasar modal domestik ke depannya,” ujarnya.