MBG dinilai mampu stabilkan harga komoditas, saham ini yang berpotensi cuan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026 dipandang sebagai katalis positif yang sangat signifikan bagi berbagai emiten karena menciptakan permintaan struktural jangka menengah, terutama pada sektor pangan dan konsumsi. 

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan alokasi anggaran Rp 335 triliun yang melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, program ini diproyeksikan dapat membantu menstabilkan harga komoditas seperti daging ayam dan telur dengan menyerap potensi kelebihan pasokan di pasar. 

Selain itu, program ini juga  diyakini mampu mendorong volume penjualan dan pemulihan margin laba emiten konsumsi melalui penguatan daya beli masyarakat secara luas.

Glencore Jual 204,79 Saham Trimegah Bangun Persada (NCKL), Raih Cuan Segini!

Sejumlah emiten yang diprediksi akan mendapatkan keuntungan besar mencakup sektor perunggasan seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) karena adanya lonjakan permintaan protein hewani yang diperkirakan menyerap ratusan ribu ton daging ayam dan telur untuk kebutuhan program nasional. 

Di sektor produk susu, emiten seperti PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) melalui merek Indomilk berpotensi memimpin pasar karena posisi mereka sebagai produsen utama susu UHT yang efisien untuk distribusi skala besar ke seluruh Indonesia. 

Selain itu, emiten beras seperti PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) dan PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) serta emiten peternakan seperti PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) juga diuntungkan oleh peningkatan volume produksi guna memenuhi standar gizi karbohidrat dan protein dalam setiap porsi makanan yang disediakan.

“Investor disarankan untuk mencermati peluang melalui strategi buy on weakness pada saham-saham sektor konsumsi dan perunggasan yang memiliki fundamental kuat serta pangsa pasar dominan,” kata Abida kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).

Ia juga menekankan ke investor untuk terus memantau realisasi penyerapan anggaran harian yang ditargetkan mencapai Rp 1,2 triliun guna memastikan bahwa momentum pertumbuhan pendapatan emiten berjalan sesuai dengan target operasional pemerintah. 

Daftar Emiten yang Bakal Tersengat Program MBG Tahun 2026

Disamping itu, investor perlu tetap memperhatikan faktor eksternal seperti stabilitas nilai tukar Rupiah dan harga bahan baku pakan ternak global, karena faktor-faktor tersebut sangat krusial dalam menjaga margin keuntungan bersih perusahaan di tengah kenaikan permintaan domestik.

Abida merekomendasikan untuk emiten di sektor terkait mayoritas berada pada posisi buy dengan target harga yang mencerminkan potensi pertumbuhan kuat, seperti JPFA pada Rp 2.800 serta CPIN dengan target di level Rp 6.400. 

Di sektor konsumsi dan produk susu, CMRY memiliki target harga Rp 6.000 seiring dengan tren pertumbuhan laba dan inovasi produk yang konsisten. 

Sementara itu, emiten barang konsumsi lainnya seperti ICBP memiliki target harga di Rp 11.500, disusul MYOR dengan target Rp 2.700, yang didukung oleh potensi pemulihan konsumsi rumah tangga secara bertahap.