
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Saham-saham emiten minyak dan gas (migas) pada perdagangan Senin (5/1/2026) mayoritas menguat terdorong sentimen konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.
Lonjakan harga minyak yang disebabkan faktor global tersebut dampaknya akan dirasakan berbeda oleh setiap emiten migas tergantung dari rantai industri yang dimainkan, apakah itu di sisi upstream maupun downstream.
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan menjelaskan eskalasi konflik AS–Venezuela memang menjadi pemicu volatilitas jangka pendek pada harga minyak, tetapi efek fundamentalnya tidak serta-merta sebesar konflik di Timur Tengah. Venezuela memang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi kapasitas produksinya selama bertahun-tahun sudah tertekan oleh sanksi, minimnya investasi, dan masalah infrastruktur.
Karena itu, menurutnya pasar melihat risiko terganggunya suplai sebagai risiko medium, bukan risiko sistemik. Namun, setiap ketegangan geopolitik yang berkaitan dengan negara produsen selalu memicu risk premium, sehingga harga minyak cenderung bergerak naik.
“Bagi emiten migas domestik, terutama yang fokus upstream seperti PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), potensi kenaikan harga minyak justru menjadi katalis positif karena bisa langsung memperbaiki average selling price (ASP) dan margin dalam beberapa kuartal ke depan,” ujar Ekky kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).
Meski ASP naik, Ekky melihat risiko volatilitas permintaan global tetap harus diperhatikan, termasuk potensi kenaikan beban operasional maupun capex ketika harga minyak tinggi yang seringkali mendorong kompetisi dan eskalasi biaya di industri.
Kemudian, bagi emiten migas yang bermain di sektor downstream seperti PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), kenaikan harga minyak juga membawa risiko. Ekky menjelaskan, AKRA yang banyak berhubungan dengan distribusi dan pengadaan bahan bakar, harga minyak yang lebih tinggi bisa menekan margin apabila penyesuaian harga jual tidak bisa dilakukan secepat kenaikan biaya input.
“Jadi, dampaknya tidak otomatis positif bagi semua subsektor migas, perlu melihat model bisnis masing-masing emiten,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi pasar saham menurut Ekky persepsi investor terhadap emiten migas kini kembali membaik di tengah memanasnya konflik. Eskalasi geopolitik cenderung memicu trading interest kuat dan arus dana jangka pendek masuk ke sektor energi, terutama saham-saham seperti MEDC, ENRG, ELSA, dan RATU yang sensitif terhadap perubahan harga minyak.
: : Imbas Konflik AS-Venezuela, Saham Migas MEDC, ELSA, ENRG Cs Ngegas Pagi Ini
Untuk strategi investasi, Ekky mengatakan saat ini sektor migas lebih cocok diperlakukan sebagai tactical play jangka pendek hingga menengah, mengikuti momentum kenaikan harga minyak yang bersifat siklis dan sangat dipengaruhi sentimen.
Jika tensi geopolitik berlarut dan harga minyak bertahan tinggi, dia menyarankan investor bisa mempertimbangkan posisi sedikit lebih panjang, terutama pada MEDC yang secara fundamental lebih solid dan memiliki diversifikasi aset.
“Untuk jangka pendek, ELSA juga masih menarik karena momentum teknikalnya positif dengan potensi pergerakan menuju area Rp570 sampai Rp600,” pungkasnya.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.