
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Saham-saham bank tergelincir ke zona merah, bergerak melemah pada perdagangan awal pekan ini. Penunjukkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia oleh DPR menjadi sentimen yang memengaruhi gerak saham tersebut.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham big banks melemah pada perdagangan Senin (27/1/2026). Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) merosot 1,60% ke posisi Rp4.910, secara tahun berjalan pun saham BMRI turun 3,25% (year to date/YtD).
Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) melemah 1,52% ke posisi Rp4.530. Meskipun demikian, saham BBNI masih bergerak positif 6,34% (YtD).
: Beban Berat Thomas Menjaga Marwah Djiwandono di Bank Sentral
Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sempat dibuka melemah ke level 7.550, tetapi kemudian terjadi kenaikan sehingga harga sahamnya ditutup tidak berubah alias bergerak 0% di level Rp7.650. Secara tahun berjalan juga saham BBCA masih melemah 4,67% (YtD).
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga sempat merosot ke level Rp3.800, tetapi kemudian harga saham BBRI ditutup 0% alias kembali ke posisi Rp3.850. Secara tahun berjalan, saham BBRI masih bergerak hijau 5,77% (YtD).
: : Harapan Purbaya Usai Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI
Di jajaran bank swasta, saham PT Bank Bumi Arta Tbk. (BNBA) anjlok 5,24% ke level Rp995. Lalu, saham PT Bank Permata Tbk. (BNLI) turun 1,21% ke posisi Rp4.910, begitu pula saham PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS) turun 0,81% ke posisi Rp615, dan saham PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) melemah 1,77% ke level Rp222.
Sementara itu, saham bank digital seperti PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) terpantau melemah 2,73% ke level Rp428, PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK) jeblok 12,67% ke posisi Rp655, PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) turun 2,41% ke level Rp1.420, dan PT Bank Jago Tbk. (ARTO) melemah 2,09% ke level Rp1.870 per saham.
: : Profil Thomas Djiwandono, Lulusan Sejarah yang Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI
Di sisi sektoral, indeks sektor keuangan (IDX Sector Financials) terpantau melemah 0,66% ke posisi 1.520,01.
IDX Financial – TradingView
Salah satu sentimen yang mewarnai sektor keuangan pada Senin (26/1/2026) adalah pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia pengganti Juda Agung.
Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan Surat Presiden (Surpres) ke DPR yang berisi tiga nama calon untuk menggantikan posisi Juda Agung yang mengundurkan diri. Dari tiga nama itu, salah satunya adalah keponakan Prabowo sendiri, Thomas Djiwandono.
Komisi XI DPR memutuskan bahwa Wakil Menteri Keuangan Thomas AM Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Juda Agung.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun usai fit and proper test di Gedung DPR, Jakarta, Senin (26/1/2026).
“Bahwa yang menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia pengganti Bapak Juda Agung yang mengundurkan diri adalah Bapak Thomas A.M Djiwandono,” ujar Misbakhun.
Keputusan itu diambil setelah rapat internal Komisi XI. Misbakhun menyebut pemilihan Thomas lantaran dia merupakan figur yang disepakati oleh seluruh partai politik.
Terdapat tiga calon yang mengikuti uji kelayakan tersebut, yakni Thomas beserta dua pejabat internal BI, yakni Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Diki Kartikoyono dan Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro.
Investor Asing Jual Saham RI
Transaksi jual investor asing sepanjang perdagangan saham pekan lalu mencapai Rp55,98 triliun, dengan pembelian sebesar Rp52,73 triliun sehingga menyisakan nilai jual bersih (net sell) mencapai Rp3,25 triliun. Hengkangnya dana asing dipengaruhi kekhawatiran pelaku pasar atas independensi Bank Indonesia (BI).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan kondisi tersebut merupakan dampak dari kombinasi beragam faktor, seperti jatuhnya rupiah yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS sampai kredibilitas otoritas moneter Tanah Air.
“Kita melihat rupiah sempat hampir di level Rp17.000, lalu di sisi lain terkait kredibilitas fiskal nasional maupun independensi Bank Indonesia di tengah pencalonan keponakan Presiden Prabowo menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Itu memang headwins-nya,” kata Nafan kepada Bisnis, Senin (26/1/2026).
Nafan memperkirakan tren hengkangnya aliran dana asing tersebut hanya akan bersifat sementara karena secara fundamental makro, perekonomian Indonesia dinilai tetap kuat dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 4,9% sampai 5,7% pada 2026.
Menurutnya proyeksi pertumbuhan ekonomi yang kuat itu akan didukung oleh momentum pemulihan daya beli domestik di kuartal I/2026 saat ada periode Imlek dan Lebaran. Namun, untuk merealisasikan proyeksi tersebut pemerintah dinilai perlu melakukan sinergi lintas otoritas.
“Tinggal bagaimana pemerintah ke depan agar di kuartal selanjutnya pertumbuhan ekonomi terus membaik, pemerintah maupun juga BI harus sinergi. Pemerintah bisa menerapkan kebijakan stimulus fiskal, stimulus ekonomi riil, Bank Indonesia memberi stimulus moneter, ini harus sinergi. Terlepas daripada dinamika independensi BI di tengah ramai isu pencalonan keponakan Presiden Prabowo jadi Deputi Gubernur BI,” ujar Nafan.
Dalam laporan Global Risks Report 2026, World Economic Forum (WEF) menyoroti fenomena “politisasi kebijakan moneter” yang terjadi di banyak negara beberapa waktu terakhir. Perkembangan tersebut dipicu oleh menumpuknya utang global yang telah menembus angka US$251 triliun atau setara 235% dari PDB dunia.
Ketika beban bunga utang pemerintah melonjak akibat era suku bunga tinggi (higher-for-longer), ruang fiskal di banyak negara makin menyempit. Situasi ini menciptakan godaan politik yang besar bagi pemerintah untuk mengintervensi keputusan bank sentral.
“Ada risiko nyata bahwa pemerintah akan menekan bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter guna membantu membiayai defisit, bukan berdasarkan fundamental inflasi,” tulis WEF dalam laporan tersebut. (Akbar Maulana al Ishaqi)