
Ussindonesia.co.id JAKARTA — Tren pergerakan saham emiten peritel seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) hingga PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) terpantau loyo pada 2025. Bagaimana kemudian proyeksinya pada tahun ini, mampukah rebound?
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham AMRT turun 30,35% sepanjang 2025. Kemudian, harga saham ACES turun 45,7% dalam setahun.
Saham emiten peritel lainnya PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) melemah 12,27%, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) melemah 33,65%, dan PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) melemah 9,62% dalam setahun.
: Jelang Musim Liburan Nataru, Saham Emiten Peritel AMRT, ACES Cs Mulai Bergeliat
Analis Bahana Sekuritas Reinard Tanukusuma dalam risetnya menilai emiten peritel Indonesia terus menghadapi pertumbuhan yang lemah tahun ini. Hal ini juga didorong kombinasi melemahnya daya beli konsumen, pergeseran pengeluaran ke arah barang-barang kebutuhan pokok, dan permintaan yang terus lesu untuk barang-barang non-esensial.
Rasionalisasi anggaran pemerintah sebesar Rp306,7 triliun dan pembekuan pengeluaran sementara yang diterapkan awal tahun ini juga semakin membebani konsumsi dan menunda pemulihan permintaan ritel.
Pada saat yang sama, meningkatnya biaya operasional, kendala rantai pasok, dan tantangan struktural yang berkelanjutan, khususnya untuk format toko fisik tradisional, terus menekan margin peritel.
Akibatnya, sebagian besar emiten peritel yang masuk dalam cakupan riset Bahana Sekuritas melaporkan same-store sales growth (SSSG) negatif pada kuartal III/2025.
“Namun, kami optimistis terhadap peritel di Indonesia. Dengan kondisi terburuk yang kini telah berlalu, kami memperkirakan konsumsi akan pulih, didukung oleh peningkatan daya beli, kepercayaan konsumen yang lebih kuat, dan pelonggaran kebijakan yang secara bertahap akan berdampak pada likuiditas rumah tangga yang lebih baik hingga 2026,” tulis Reinard dalam risetnya pada beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan dengan pelonggaran likuiditas dan tren penurunan suku bunga, SSSG emiten peritel diperkirakan akan berbalik dan bertahan pada tingkat positif hingga tahun fiskal 2026 dan seterusnya. Sementara produk kebutuhan pokok tetap stabil di awal tahun.
Dorongan fiskal, melalui penyesuaian upah, transfer tunai, dan program sosial juga seharusnya terus mendukung daya beli rumah tangga, dengan dampak pertama dirasakan pada produk kebutuhan pokok serta format toko terdekat. Dampak kemudian secara bertahap meluas ke kategori gaya hidup dan barang-barang non-esensial.
: Palagan Persaingan AZKO (ACES) di Industri Ritel Rumah Tangga 2026
Bahana Sekuritas sendiri memberikan peringkat overweight terhadap saham-saham emiten peritel mulai dari AMRT, MIDI, MAPI, ACES, hingga PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA).
Analis BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim dan Sabela Nur Amalina juga memproyeksikan akan ada pemulihan bagi saham-saham emiten peritel pada 2026. Ekspansi toko tetap menjadi pendorong pertumbuhan utama bagi peritel di 2026.
“Ekspansi fiskal pemerintah juga akan menjadi katalis utama untuk pemulihan permintaan secara bertahap di 2026, termasuk sektor ritel,” tulis Christy dan Sabela.
Christy dan Sabela memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sektor peritel sebesar 8,7% secara tahunan (year on year/YoY) pada 2026 didorong oleh ekspansi toko dan pemulihan SSSG secara bertahap, dengan peningkatan margin yang moderat.
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat overweight bagi saham-saham emiten peritel dengan MIDI dan MAPA sebagai pilihan. BRI Danareksa Sekuritas menyematkan rekomendasi buy untuk MIDI dengan target harga Rp550 per lembar. Sementara MAPA direkomendasikan buy dengan target harga Rp800 per lembar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.