
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Penurunan harga minyak mentah dunia bukan jaminan bagi emiten-emiten produsen petrokimia. Sebab, sektor ini masih diliputi oleh ketidakpastian.
Mengutip Trading Economics, harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 58,82 per barel pada Senin (12/1/2026) pukul 17.40 WIB, atau melemah 25,37% secara year on year (yoy).
Harga minyak mentah Brent juga telah terkoreksi 22,05% yoy atau dalam setahun terakhir ke level US$ 63,10 per barel.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, dinamika makro dan industri saat ini memberi gambaran prospek emiten-emiten petrokimia pada 2026 yang cukup kompleks.
Cek Rekomendasi Saham Pilihan di Sektor Petrokimia Saat Harga Minyak Mentah Melemah
Memang, harga minyak mentah dunia yang melandai secara struktural dapat menguntungkan bagi sektor petrokimia, mengingat bahan baku seperti naphtha biasanya ikut turun seiring pelemahan harga minyak mentah.
Di atas kertas, penurunan biaya bahan baku dapat menekan beban produksi jika bahan baku itu sendiri dapat diakses secara efektif. Hal ini tentu berpotensi memperbaiki margin, terutama bagi pabrikan petrokimia yang mampu mempertahankan efisiensi operasional.
Namun, dalam praktiknya dampak penurunan harga minyak mentah tidak otomatis positif. Sebab, industri petrokimia global masih dalam tekanan kelebihan pasokan (oversupply) dan siklus penurunan harga komoditas.
“Alhasil, produsen sulit menaikkan harga jual produknya meskipun biaya input turun,” ujar dia, Senin (12/1).
Chief Execuvtive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo menambahkan, tantangan di sektor petrokimia pada dasarnya cukup berat.
Sekalipun emiten diuntungkan oleh penurunan harga minyak mentah, mereka masih harus berhadapan dengan risiko banjir impor produk petrokimia di pasar domestik.
Menakar Efek Koreksi Harga Minyak Mentah Terhadap Emiten Petrokimia
Masalah ini tak lepas dari kondisi oversupply yang melanda industri petrokimia China sebagai dampak dari perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).
China yang tak leluasa melakukan ekspor akhirnya mengalihkan produknya ke pasar Indonesia dengan harga murah.
Dalam berita sebelumnya, Indonesia Olefin, Aromatic, and Plastic Industry Association (Inaplas) menyebut, impor salah satu jenis petrokimia dari China diperkirakan mencapai 200.000 ton pada 2025 atau jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yakni 80.000 ton.
“Dampak impor ini adalah tekanan harga jual untuk industri petrokimia yang diiringi dengan tekanan margin, sehingga bisa memicu oversupply juga di pasar domestik,” tutur Praska, Senin (12/1).
Ekky juga menganggap tantangan terbesar yang dihadapi emiten lokal pada tahun ini adalah ancaman impor produk petrokimia, terutama dari China, yang memiliki kapasitas produksi besar dan kerap menawarkan harga kompetitif akibat kapasitas berlebih.
Efeknya, daya saing produk petrokimia lokal dapat terkikis, terutama untuk bahan baku plastik dan olefin yang dipasok melalui impor dalam jumlah besar.
Kondisi ini tentu dapat berdampak juga terhadap kapasitas produksi lokal jika tidak diimbangi oleh kebijakan protektif dan peningkatan efisiensi industri.
Ada beberapa strategi yang perlu diperkuat oleh emiten petrokimia pada 2026. Pertama, integrasi bisnis dari hulu ke hilir dan diversifikasi bahan baku untuk mengurangi ketergantungan pada impor naphtha sekaligus meningkatkan kontrol atas biaya.
Koreksi Harga Minyak Mentah jadi Momentum Emiten Petrokimia, Begini Prospeknya!
Kedua, emiten perlu fokus pada produk bernilai tambah tinggi yang memiliki margin lebih baik dibandingkan komoditas, karena segmen ini cenderung tahan banting terhadap risiko oversupply global.
Ketiga, emiten perlu melakukan kolaborasi strategis yang dapat membuka peluang efisiensi skala dan akses pasar.
“Emiten yang memiliki kemampuan tersebut berpeluang unggul, terutama yang mampu menyesuaikan produksi dengan permintaan downstream dan memiliki skala operasi yang efisien,” ungkap Ekky.
Sementara itu, Praska menyebut, emiten yang memiliki integrasi dari bahan baku ke produk petrokimia dasar berpeluang mencatat kinerja yang unggul pada tahun ini.
Dia menjagokan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mendapat sentimen positif berupa dukungan dari BPI Danantara berupa kucuran investasi sebesar US$ 800 juta untuk pengembangan Pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC).
Dari situ, saham TPIA dapat dicermati oleh investor untuk jangka panjang dengan target harga di level Rp 8.000 per saham.
Harga Minyak Dunia Bergerak Volatil, Begini Dampaknya Bagi Emiten Petrokimia
Di lain pihak, Ekky menyarankan investor untuk wait and see terhadap saham-saham emiten petrokimia seperti TPIA, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI).
Secara teknikal, ketiga saham ini sedang dalam momentum penurunan yang kuat, sehingga investor berorientasi jangka panjang bisa melakukan pembelian secara bertahap.