
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, minat korporasi untuk menerbitkan surat utang dinilai masih cukup kuat sepanjang tahun ini.
Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto, menyebut pasar obligasi korporasi bahkan masih mencatatkan pertumbuhan positif hingga April 2026. Pefindo mencatat sejak Januari hingga April 2026, penerbitan surat utang korporasi Indonesia telah mencapai Rp 67,05 triliun. Jumlah tersebut meningkat sebesar 20,56% dari Januari-April 2025.
“Tapi kalau kita bandingkan dengan periode yang sama, tahun lalu juga sebenarnya kupon yang sekarang terbentuk pada Januari sampai April ini masih lebih rendah dibandingkan dengan yang tahun lalu gitu. Jadi sebenarnya dari sisi pasar surat utang korporasi memang masih kondisinya cukup bagus,” ujar Suhindarto saat ditemui usai acara Indonesia Credit Spotlight 2026 oleh Pefindo dan S&P Global Ratings di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Penerbitan Obligasi Korporasi Diproyeksi Masih Solid, Ini Alasannya
Bahkan, berdasarkan pipeline penerbitan yang dimiliki Pefindo, prospek penerbitan obligasi hingga akhir semester I-2026 masih terjaga.
“Per Mei ini pipeline yang akan terbit masih cukup bagus. Sampai akhir bulan ini dan akhir semester I pertumbuhannya masih oke,” katanya.
Namun Ia mengakui, dari sisi biaya pendanaan memang mulai terlihat kenaikan. Yield obligasi korporasi maupun kupon yang terbentuk di pasar mulai bergerak naik dibandingkan tahun lalu.
Menurutnya, pasar obligasi korporasi umumnya memiliki karakteristik yang tertinggal (lagging) dibandingkan pasar obligasi pemerintah. Transmisi kenaikan kupon atau biaya pendanaan biasanya baru terasa beberapa periode setelah perubahan yield di pasar obligasi negara.
Karena itu, perkembangan pada semester II-2026 akan menjadi perhatian. “Jadi biasanya transmisi kuponnya itu baru terjadi beberapa periode setelahnya. Nah, mungkin nanti yang perlu dilihat ketika nanti pada semester II-2026 apakah ketika yieldnya mulai naik ini, itu sudah tertransaksikan ke surat utang korporasinya gitu,” imbuhnya.
Meningkat 20%, Penerbitan Obligasi Korporasi Hingga April Capai Rp 67,05 Triliun
Lebih lanjut, Suhindarto menjelaskan kenaikan yield obligasi korporasi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dan kondisi pasar surat utang pemerintah.
Ia menyebut pergerakan yield global, khususnya obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), menjadi salah satu faktor utama. Saat ini ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed telah bergeser menjadi lebih netral, dengan proyeksi Fed Funds Rate bertahan hingga akhir tahun, dari ekspektasi pada awal tahun terdapat potensi penurunan 50bps, akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Di sisi domestik, ekspektasi terhadap arah suku bunga, pelemahan rupiah, persepsi pasar terhadap pengelolaan fiskal pemerintah, hingga ketidakpastian kebijakan juga ikut mendorong kenaikan yield. Meski begitu, ia menilai risiko yang terjadi saat ini masih dominan berasal dari faktor pasar (market risk), dan belum mengarah pada peningkatan risiko kredit emiten secara individual.
“Kalau dibandingkan antara premi risiko atau dari yield SBN pemerintah sebenarnya kenaikan yield di obligasi-obligasi korporasi lebih banyak didrive oleh yield pemerintahnya. Jadi memang secara umum risiko yang ada saat ini masih terbatas pada risiko pasar. Tapi untuk sampai ke risiko emitennya sendiri belum,” jelas Suhindarto.
Terakhir Suhindarto menambahkan, secara keseluruhan kondisi pasar obligasi korporasi hingga semester I-2026 masih cukup solid meski dibayangi tekanan eksternal dan volatilitas pasar keuangan.
Kenaikan Yield Mengubah Strategi Penerbitan Obligasi Korporasi