
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memproyeksi nilai tukar rupiah akan mulai stabil dan cenderung menguat pada Juli hingga Agustus 2026. Ini didukung oleh berbagai instrumen stabilisasi yang telah diterapkan.
Menurut Gubernur BI, intervensi pasar valuta asing terus diperkuat, baik di pasar domestik maupun global melalui instrumen offshore non-deliverable forward (NDF).
“Memang itu menurunkan cadangan devisa yang kami kumpulkan pada saat-saat inflow yang besar dan dengan tetap menjaga kecukupan cadangan devisa,” kata Perry dalam konferensi pers RDG Bulan Mei 2026, Rabu (20/5).
Menurut Perry, intervensi dilakukan dalam jumlah besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Selain itu, BI juga menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam dua bulan terakhir.
“Dan karena itu berhasil mendorong portfolio inflow yang di triwulan I terjadi outflow besar dan kemudian kita balikkan menjadi inflow dan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah,” lanjut Perry.
Kebijakan tersebut dinilai berhasil mendorong arus masuk portofolio asing atau portfolio inflow setelah sebelumnya terjadi arus keluar dana besar dari pasar keuangan domestik. Kemudian, Perry menyatakan kenaikan BI Rate juga memperkuat stabilisasi rupiah. Melalui kombinasi intervensi valas, kenaikan BI Rate, dan penyesuaian struktur suku bunga SRBI, ia meyakini arus modal asing akan tetap besar masuk ke Indonesia.
“Kami meyakini inflow akan tetap besar ke dalam negeri dan tentu saja akan mencukupi kebutuhan permintaan valas di bulan Juni yang masih cukup besar,” ujar Perry.
Namun, Perry memperkirakan tekanan permintaan valas akan mulai berkurang setelah Juni sehingga nilai tukar rupiah diyakini akan lebih stabil dan cenderung menguat pada Juli dan Agustus.
“Kalau kita melihat history itu memang rupiah itu mendapat tekanan April, Mei, Juni, tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus,” sebut Perry.