OCBC ramal IHSG tembus 9.700, intip sektor yang dijagokan

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — PT OCBC Sekuritas memproyeksikan sektor perbankan dan otomotif masih menyimpan prospek sepanjang 2026 seiring dengan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif.

OCBC Sekuritas memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2026 dipatok pada level 9.500 untuk skenario dasar, dengan potensi menguat hingga level 9.700 pada skenario optimistis.

Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Farell Nathanael mengatakan sejumlah sektor seperti perbankan diuntungkan dengan menguatnya sinergi kebijakan antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah untuk mempercepat penyaluran kredit sekaligus menopang ekspansi ekonomi yang berkelanjutan.

: OCBC Sekuritas Bocorkan Racikan IPO untuk Semester I/2026

Dia menyebut di tengah tren penurunan suku bunga acuan dan persaingan yang semakin ketat, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan akan menghadapi tekanan akibat penurunan imbal hasil kredit. 

Namun, lanjutnya, tekanan tersebut dinilai dapat diredam oleh penurunan cost of fund yang ditopang oleh perbaikan likuiditas, baik melalui injeksi likuiditas pemerintah, kebijakan moneter yang lebih longgar, maupun penurunan imbal hasil obligasi pemerintah. 

: : OJK Hentikan 2.263 Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal pada 2025

Selain itu, insentif likuiditas makroprudensial dari BI diharapkan mampu mempercepat transmisi penurunan BI Rate ke suku bunga kredit. 

Alhasil sejumlah saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) hingga PT Bank Negera Indonesia Tbk. (BBNI) dinilai masih mampu memberikan imbal hasil yang kompetitif.

: : Analis Ramal Kupon SBN Ritel 2026 Maksimal 5,65%

“Prospek sektor perbankan, khususnya saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, juga dinilai menarik seiring valuasi yang relatif murah serta imbal hasil dividen yang kompetitif, terutama dari bank-bank BUMN,” ujarnya kepada Bisnis dikutip, Rabu (14/1/2026).

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. – TradingView

Dia memaparkan industri perbankan nasional menunjukkan tanda-tanda penguatan menjelang akhir 2025. Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan kredit tercatat mencapai 7,7% secara tahunan (year on year/yoy) pada November 2025, meningkat dibandingkan posisi Oktober 2025 sebesar 7,4%. 

Meski mencatat akselerasi, permintaan kredit dinilai masih relatif terbatas seiring sikap wait and see dunia usaha, meningkatnya penggunaan pembiayaan internal korporasi, serta dampak penurunan suku bunga yang berlangsung secara bertahap.

Farrel menilai prospek pertumbuhan kredit ke-depan diperkirakan membaik. Pada 2026, pertumbuhan kredit diproyeksikan berada di kisaran 8%–12%, ditopang oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi seiring penerapan kebijakan fiskal yang ekspansif dan pelonggaran moneter yang lebih agresif

Selanjutnya, kata dia, sinergi kebijakan antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah diperkirakan terus diperkuat untuk mempercepat penyaluran kredit sekaligus menopang ekspansi ekonomi yang berkelanjutan.

Sementara itu, dia juga memandang prospek PT Astra International Tbk. (ASII) tetap positif. Emiten konglomerasi ini ditopang oleh pemulihan pertumbuhan ekonomi seiring kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif, posisi kepemimpinan pasar di segmen kendaraan roda empat dan roda dua, serta kontribusi kuat dari bisnis kontraktor pertambangan dan penjualan alat berat.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.