Open interest Bitcoin anjlok US$55 miliar dalam 30 hari, ke mana arah harga BTC?

Ussindonesia.co.id  Harga Bitcoin (BTC) masih kesulitan bertahan di atas level psikologis US$70.000 hingga Rabu (4/2/2026), memicu kekhawatiran bahwa penurunan ke area US$60.000 bisa menjadi target berikutnya.

Melansir Cointelegraph Kamis (5/2/2026), tekanan jual ini dibarengi dengan gelombang likuidasi di pasar derivatif, anjloknya open interest (OI) Bitcoin senilai sekitar US$55 miliar dalam 30 hari terakhir, serta meningkatnya aliran BTC ke bursa kripto.

Pelemahan harga tersebut memicu perdebatan di kalangan analis, apakah tekanan datang dari faktor internal pasar kripto atau dipicu oleh kondisi makroekonomi global, serta apa implikasinya bagi pergerakan harga BTC dalam jangka pendek.

Sebagai informasi data Coinmarketcap pukul 09.47 WIB, harga Bitcoin dikisaran US$72.151 17,83% dalam sepekan terakhir.

Open Interest Ambruk, Sinyal Deleveraging Besar-besaran

Data CryptoQuant menunjukkan perubahan open interest Bitcoin selama 30 hari terakhir mengalami kontraksi tajam di berbagai bursa, mencerminkan penutupan posisi secara luas, bukan sekadar pembukaan posisi short baru.

Di Binance, open interest bersih turun sekitar 276.869 BTC dalam sebulan terakhir. Bybit mencatat penurunan terbesar sebesar 330.828 BTC, sementara OKX mengalami pengurangan 136.732 BTC pada Selasa.

Secara total, sekitar 744.000 BTC dalam posisi terbuka telah ditutup, setara lebih dari US$55 miliar pada harga saat ini.

Penurunan open interest ini bertepatan dengan merosotnya harga Bitcoin di bawah US$75.000, menegaskan bahwa deleveraging menjadi faktor utama tekanan harga, bukan hanya aksi jual di pasar spot.

Analis on-chain Boris menyoroti data cumulative volume delta (CVD) yang menunjukkan dominasi order jual, khususnya di Binance, dengan CVD derivatif mendekati minus US$38 miliar dalam enam bulan terakhir.

Di bursa lain, dinamika terlihat beragam. CVD Bybit relatif datar di sekitar US$100 juta setelah gelombang likuidasi tajam pada Desember, sementara HTX stabil di kisaran minus US$200 juta seiring konsolidasi harga Bitcoin di dekat US$74.000.

Arus Masuk ke Bursa Meningkat, Tekanan Jual Mengintai

Arus masuk Bitcoin ke bursa melonjak sepanjang Januari, dengan total sekitar 756.000 BTC, dipimpin oleh Binance dan Coinbase.

Sejak awal Februari, inflow tambahan telah melampaui 137.000 BTC, mengindikasikan pelaku pasar sedang melakukan reposisi, bukan sepenuhnya keluar dari pasar.

Dari sisi pasokan, analis Axel Adler Jr. mencatat cadangan Bitcoin di bursa naik menjadi 2,752 juta BTC dari 2,718 juta BTC sejak 19 Januari.

Ia memperingatkan bahwa kenaikan berkelanjutan di atas 2,76 juta BTC berpotensi meningkatkan tekanan jual.

Menurutnya, fase kapitulasi penuh belum terjadi dan bisa saja muncul di level harga yang lebih rendah.

Konsolidasi Bisa Berbulan-bulan

Analis pasar Scient menilai Bitcoin kecil kemungkinan membentuk dasar harga (bottom) hanya dalam hitungan hari atau pekan.

Menurutnya, bottom yang lebih kokoh biasanya terbentuk melalui fase konsolidasi selama dua hingga tiga bulan di sekitar zona support utama, dengan konfirmasi dari indikator jangka menengah hingga panjang.

Scient menambahkan, masih belum jelas apakah struktur konsolidasi tersebut akan terbentuk di area US$60.000-an atas atau bahkan turun hingga kisaran US$50.000.

Sementara itu, trader Bitcoin Mark Cullen masih melihat potensi penurunan menuju US$50.000 dalam skenario makro yang lebih luas.

Namun, dalam jangka pendek, ia memperkirakan adanya peluang rebound menuju area point of control lokal di kisaran US$86.000–US$89.000, setelah Bitcoin menyapu level terendah mingguan di bawah US$74.000 pada Selasa.