Pasar saham Indonesia diproyeksikan masuk tiga teratas Asia pada 2026

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek pasar saham Indonesia kembali menonjol di tingkat regional. Dalam laporan terbarunya, HSBC menempatkan Indonesia di kategori overweight dengan proyeksi kenaikan indeks sebesar 12,9% pada 2026.

Proyeksi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar paling menarik di Asia bersama China dan India.

Dari sisi potensi imbal hasil, Indonesia berada di posisi kedua setelah China, yang diproyeksikan tumbuh 19,6% pada 2026. Hong Kong juga menjadi salah satu pasar unggulan dengan potensi kenaikan 14%-17%.

Sebaliknya, beberapa pasar regional lain diperkirakan tumbuh lebih moderat.

Pasar Modal Indonesia Diproyeksi Jadi Primadona Asia pada 2026, Ini Penyebabnya

Malaysia hanya diproyeksikan naik 7,2%, Filipina 4,8%, sementara Singapura diperkirakan tumbuh 3,8%. Bahkan Jepang hanya memiliki potensi pertumbuhan 0,5% pada 2026.

HSBC menargetkan IHSG berada di level 9.450 pada akhir 2026, naik dari target 2025 sebesar 8.500. Dengan posisi tersebut, Indonesia menjadi salah satu dari tiga pasar dengan proyeksi kenaikan tertinggi di Asia.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai proyeksi optimistis terhadap Indonesia cukup beralasan. Ia menuturkan bahwa pendorong utama adalah daya tahan konsumsi domestik serta katalis fiskal baru dari pemerintah.

“Konsumsi domestik masih resilien dan akan didukung oleh program fiskal baru seperti MBG dan Danantara,” kata Wafi kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).

Wafi menilai target IHSG 9.450 yang dipatok HSBC tetap realistis selama arah kebijakan moneter global dan domestik bergerak selaras.

“Optimistis tapi realistis, asal ada sinkron antara pemangkasan suku bunga Fed rate dan BI rate supaya bisa dorong ekspansi margin laba emiten,” jelasnya.

Pasca Akuisisi, Sampoerna Agro (SGRO) Ganti Nama Jadi Prime Agri Resources

Dari sisi aliran dana asing, potensi masuknya modal diperkirakan meningkat seiring proyeksi pelemahan dolar AS. DBS sebelumnya memperkirakan indeks dolar (DXY) melemah ke 94,8 pada kuartal IV 2026, sehingga ruang bagi investor global untuk kembali ke emerging markets semakin besar.

Wafi menilai sektor perbankan besar, barang konsumsi, dan telekomunikasi akan menjadi penerima manfaat utama. “Potensinya besar, terutama sektor perbankan big caps, consumer goods, dan telco,” ujarnya.

Untuk sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, Wafi menyoroti prospek properti sebagai kandidat penggerak indeks berikutnya.

“Properti bisa jadi kuda hitam penggerak indeks karena sensitivitasnya terhadap penurunan bunga,” terangnya.

Sementara komoditas dinilai lebih berperan menjaga stabilitas perekonomian. “Komoditas lebih ke jaga stabilitas lewat volume dan hilirisasi, bukan pendorong utama,” tambahnya.

Di sisi risiko, Wafi memperingatkan bahwa ketidakpastian global tetap perlu diwaspadai. “Eskalasi geopolitik bisa picu kenaikan harga minyak yang berdampak pada inflasi,” katanya.

Ia juga menyoroti perlambatan ekonomi China yang dapat menekan ekspor komoditas Indonesia. Menurutnya, kombinasi dua faktor tersebut dapat mempengaruhi stabilitas rupiah dan volatilitas pasar saham.

Dengan kombinasi konsumsi domestik yang kuat, ruang pelonggaran suku bunga, serta potensi masuknya modal asing, Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar yang paling kompetitif di Asia pada 2026. Namun, keberlanjutan tren positif tetap bergantung pada stabilitas global dan efektivitas kebijakan pemerintah.