
Ussindonesia.co.id Penurunan kapitalisasi pasar stablecoin mencerminkan pergeseran preferensi investor global dari aset kripto ke instrumen lindung nilai tradisional seperti emas dan perak, bukan ke Bitcoin.
Hal tersebut diungkapkan platform analitik kripto Santiment, melansir dari laman Cointelegraph Selasa (27/1/2026).
Dalam 10 hari terakhir, total kapitalisasi pasar stablecoin turun sekitar US$2,24 miliar. Santiment menilai penurunan ini menjadi sinyal keluarnya modal dari ekosistem kripto, yang berpotensi menunda pemulihan pasar aset digital.
IHSG Dibuka Turun ke 8.928, Top Losers LQ45: UNTR, ANTM dan NCKL, Selasa (27/1)
“Penurunan kapitalisasi stablecoin menunjukkan banyak investor mencairkan dana ke fiat, alih-alih bersiap membeli saat harga turun,” tulis Santiment dalam unggahan di platform X pada Senin (26/1).
Santiment menambahkan, lonjakan permintaan terhadap emas dan perak menegaskan bahwa investor kini lebih memilih keamanan dibandingkan risiko.
“Ketika ketidakpastian meningkat, dana biasanya mengalir ke aset yang dianggap sebagai penyimpan nilai saat tekanan ekonomi, bukan ke pasar yang volatil seperti kripto,” lanjut Santiment.
Sebagai informasi, mengutip data Coinmarketcap pukul 09.46 WIB, Bitcoin di level US$88.640, naik 11,28% dalam 24 jam terakhir atau turun 4,26% dalam 7 hari.
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 16.780 Per Dolar AS Hari Ini (27/1), Asia Melemah
Emas dan Perak Ungguli Bitcoin
Bitcoin sebenarnya sempat mencatat kinerja kuat sepanjang 2025, hingga terjadi guncangan besar pada 10 Oktober.
Saat itu, lebih dari US$19 miliar posisi kripto berbasis leverage terlikuidasi, membuat harga Bitcoin anjlok dari sekitar US$121.500 ke bawah US$103.000 hanya dalam satu hari.
Sejak kejadian tersebut, harga Bitcoin terus melemah dan kini turun ke kisaran US$88.080—atau hampir 30% dari level puncaknya.
Sebaliknya, emas melonjak lebih dari 20% dan menembus level US$5.000 per ons, sementara harga perak bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa bulan terakhir.
Di tengah reli logam mulia, penerbit stablecoin terbesar dunia, Tether, tercatat menjadi salah satu pembeli emas terbesar.
Pada kuartal IV-2025 saja, Tether membeli sekitar 27 metrik ton emas senilai US$4,4 miliar.
Harga Emas Antam Turun Rp 1.000 Menjadi Rp 2.916.000 Per Gram, Selasa (27/1)
Pemulihan Kripto Tunggu Pertumbuhan Stablecoin
Santiment menilai pemulihan pasar kripto biasanya diawali dengan pertumbuhan pasokan stablecoin.
“Secara historis, reli kuat di pasar kripto cenderung dimulai ketika kapitalisasi stablecoin berhenti turun dan kembali meningkat. Itu menjadi sinyal masuknya modal baru dan pulihnya kepercayaan investor,” tulis Santiment.
Selama pertumbuhan stablecoin belum kembali, aset kripto berisiko tinggi terutama altcoin diperkirakan akan terus tertekan lebih dalam dibandingkan Bitcoin.
“Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin biasanya bertahan lebih baik dibandingkan altcoin. Namun, berkurangnya pasokan stablecoin tetap membatasi potensi kenaikan harga di seluruh pasar kripto,” pungkas Santiment.