Peluang terbang saham big caps BREN, DSSA, DCII cs pada 2026

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Nilai kapitalisasi pasar 10 saham big caps di Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) telah menanjak pada 2025. Bagaimana kemudian peluang penguatan kapitalisasi pasar lanjutan pada tahun ini?

Berdasarkan data BEI, total kapitalisasi pasar 10 emiten big caps per 2 Januari 2026 mencapai Rp6.569 triliun. Angkanya bertambah Rp120 triliun dalam setahun atau dibandingkan total kapitalisasi pasar 10 emiten big caps per 2 Januari 2025 sebesar Rp6.449 triliun.

Lonjakan kapitalisasi pasar atau market cap 10 emiten big caps itu didorong oleh kinerja moncer sejumlah emiten. BREN misalnya yang mencatatkan lonjakan kapitalisasi pasar dari Rp1.268 triliun menjadi Rp1.294 triliun. BREN pun kokoh sebagai emiten dengan market cap terbesar di BEI.

: Top 10 Big Caps : BREN Kokoh di Puncak, DCII Merangsek Naik

Kemudian, DSSA mencatatkan lonjakan pesat market cap dari Rp287 triliun menjadi Rp759 triliun. Posisi DSSA pun terkerek menjadi emiten ketiga dengan market cap terbesar di pasar saham.

Selain itu, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) merangsak masuk ke daftar 10 emiten big caps seiring dengan kinerja kinclong saham. Market cap DCII pun kini mencapai Rp524 triliun.

: : BREN Ungkap Arah Ekspansi Star Energy Geothermal lewat Perubahan Anggaran Dasar

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menjelaskan kenaikan market cap untuk 10 emiten big caps di BEI sekitar Rp120 triliun pada 2025 didorong oleh kinerja moncer saham-sahamnya.

“Terjadi pergeseran preferensi investor, baik domestik maupun asing, terhadap saham-saham dengan karakter pertumbuhan yang jelas, visibilitas laba tinggi, dan posisi strategis dalam tema struktural jangka panjang,” ujarnya kepada Bisnis pada Senin (5/1/2026).

: : Saham Emiten Grup Sinar Mas DSSA Jadi Top Leaders IHSG 2 Tahun Beruntun

Sementara, kenaikan signifikan pada saham seperti BREN, DSSA, dan DCII menurutnya bukan sekadar fenomena teknikal, melainkan hasil kombinasi faktor fundamental, narasi sektoral, serta perubahan alokasi portofolio investor.

“Memasuki tahun 2026, potensi penguatan lanjutan saham-saham big caps masih terbuka, namun dengan karakter yang lebih selektif,” kata Imam.

Menurutnya, secara umum, big caps masih akan menjadi tulang punggung indeks harga saham gabungan (IHSG) karena likuiditas, bobot indeks, dan daya tariknya bagi investor institusional. Saham-saham dengan eksposur pada digital infrastructure, energi, perbankan besar, serta konsumsi defensif masih memiliki peluang melanjutkan tren positif, terutama jika mampu menjaga pertumbuhan laba dan arus kas.

Namun menurutnya tantangannya juga semakin nyata. Valuasi menjadi isu utama. Beberapa saham big caps non-bank telah diperdagangkan pada valuasi premium yang mencerminkan ekspektasi pertumbuhan tinggi. Jika realisasi kinerja tidak sejalan dengan ekspektasi tersebut, risiko koreksi akan meningkat.

Selain itu, normalisasi suku bunga global dan potensi perlambatan ekonomi dapat menguji ketahanan permintaan dan margin, khususnya bagi emiten yang agresif melakukan ekspansi berbasis utang.

Sebelumnya, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan sepanjang 2025, kapitalisasi pasar 10 emiten big caps melonjak seiring sentimen positif di sektor energi dan digital.

“Kenaikan saham BREN dan DSSA didorong transisi energi serta kenaikan harga komoditas. Sementara DCII menikmati lonjakan permintaan data center berbasis AI [artificial intelligence/AI],” ujar Liza kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu. 

Dari sisi makro, pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan stabilisasi pasar obligasi memberi ruang bagi risk appetite investor. Dukungan investor domestik juga menambah daya tahan meski arus asing masih fluktuatif.

Ke depan menurutnya peluang penguatan saham-saham big caps masih terbuka melalui laporan keuangan hingga potensi capital inflow.