
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Penerbitan obligasi korporasi diproyeksi masih solid pada tahun 2026. Salah satu faktor utama yang menopang prospek tersebut adalah tingginya kebutuhan refinancing korporasi di tengah besarnya surat utang yang akan jatuh tempo.
Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, mengatakan prospek obligasi korporasi ke depan akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari pergerakan nilai tukar rupiah, risiko fiskal, hingga yield surat berharga negara (SBN).
Menurut David, saat ini investor asing masih cenderung bersikap risk-off terhadap investasi keuangan di Indonesia. Kondisi tersebut mendorong pelemahan nilai tukar rupiah sekaligus kenaikan yield SBN domestik.
“Jika yield SBN meningkat, investor cenderung meminta yield premium,” ucap David kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).
Sementara itu, Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo, Suhindarto, menilai prospek penerbitan surat utang korporasi pada 2026 masih berada dalam kondisi yang solid.
Meningkat 20%, Penerbitan Obligasi Korporasi Hingga April Capai Rp 67,05 Triliun
Pefindo mempertahankan proyeksi penerbitan surat utang korporasi tahun 2026 pada kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 197 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp 176 triliun.
“Meskipun Bank Indonesia masih menahan suku bunga acuan, namun sejauh ini kami melihat hal tersebut belum sampai akan memberikan dampak negatif bagi penerbitan surat utang di pasar korporasi,” ujar Suhindarto.
Suhindarto menjelaskan, terdapat setidaknya tiga faktor utama yang akan memengaruhi penerbitan surat utang korporasi pada tahun depan. Ketiga faktor tersebut meliputi kebutuhan refinancing yang tercermin dari besarnya nilai jatuh tempo, kondisi makroekonomi yang mendukung, serta pergerakan yield acuan.
Di tengah kondisi surat utang korporasi jatuh tempo pada 2026 yang mencapai rekor tertinggi hingga Rp 162,72 triliun, kebutuhan penerbitan surat utang untuk refinancing diperkirakan tetap tinggi.
Selain faktor refinancing, stabilitas perekonomian nasional juga dinilai akan menentukan minat korporasi menerbitkan obligasi. Jika pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, kebutuhan perusahaan untuk ekspansi dan mencari pendanaan baru juga diperkirakan tetap kuat.
Suhindarto menambahkan, yield acuan atau benchmark yield dari pasar surat utang pemerintah menjadi faktor penting lainnya. Menurut dia, meskipun suku bunga acuan belum berubah, penerbitan obligasi korporasi akan tetap menarik apabila yield benchmark dapat dijaga rendah dan stabil.
Kondisi tersebut membuat biaya penerbitan surat utang korporasi relatif lebih murah dibandingkan sumber pendanaan lain, sehingga pasar obligasi korporasi tetap menjadi alternatif pembiayaan yang menarik bagi emiten.
“Namun demikian, kami melihat menjaga hal ini tidak mudah, apalagi belakangan terdapat gejolak dari sisi ekternal. Oleh karenanya, menyediakan kebijakan yang mendukung untuk menjaga yield tetap rendah perlu dilakukan oleh pemerintah dan otoritas terkait agar pasar kita masih tetap menarik bagi emiten,” jelas Suhindarto.
Ekonom CORE Ingatkan Empat Risiko yang Membayangi Pasar SBN
David menambahkan, sejumlah sentimen diperkirakan akan memengaruhi pasar obligasi korporasi pada kuartal II-2026. Faktor tersebut meliputi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed, tensi geopolitik global, stabilisasi nilai tukar rupiah, inflasi, pergerakan yield SBN domestik, kebijakan pemerintah, hingga prospek ekonomi Indonesia.
Ia memperkirakan spread obligasi korporasi tenor tiga tahun terhadap SBN masih akan stabil pada kisaran 40 basis poin (bps) hingga 80 bps, tergantung peringkat kredit masing-masing obligasi.
Stabilitas spread tersebut ditopang oleh upaya pemerintah menjaga stabilitas fiskal dan yield SBN di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
“Ke depan spread dapat mengecil apabila gejolak global mereda, arus asing kembali masuk, nilai rupiah stabil (menguat), dan fundamental ekonomi menguat,” jelas David.
Di sisi lain, Suhindarto melihat secara historis hingga akhir April 2026, spread obligasi korporasi sempat mengalami penurunan sejak awal Maret 2026 setelah sebelumnya meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Namun sejak pertengahan April 2026, spread kembali mengalami kenaikan.
“Namun secara keseluruhan, rentang pergerakan spread di semua peringkat bergerak stabil sejak pertengahan tahun lalu,” ucap Suhindarto.