
Ussindonesia.co.id Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka variatif pada perdagangan Jumat (9/1/2026), seiring investor mencermati data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan, sambil menanti putusan Mahkamah Agung terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
Pada pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 31,3 poin atau 0,06% ke level 49.234,81. Sementara itu, S&P 500 naik 6,4 poin atau 0,09% ke 6.927,83 dan Nasdaq Composite menguat 16,2 poin atau 0,07% ke posisi 23.496,21.
IHSG Ditutup di Level 8.936, Intip Saham Net Buy Terbesar Asing di Akhir Pekan
Data dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penambahan nonfarm payrolls hanya mencapai 50.000 pekerjaan pada Desember, lebih rendah dari estimasi ekonom yang dihimpun Reuters sebesar 60.000.
Namun demikian, tingkat pengangguran turun menjadi 4,4%, sedikit lebih baik dari perkiraan 4,5%.
Merespons data tersebut, pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) akan menahan suku bunga pada Januari.
Meski demikian, pasar masih memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter sekitar 55 basis poin sepanjang 2026, berdasarkan data LSEG.
“Perusahaan tampaknya menahan tenaga kerja lebih lama. Mereka tidak cepat melakukan pemutusan hubungan kerja, tetapi juga tidak agresif menambah karyawan,” ujar Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management.
Transparansi dan Perlindungan Aset Investor Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Kripto
Ia menilai kondisi ini mencerminkan lingkungan pasar tenaga kerja dengan pola low-hire, low-fire.
Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif besar-besaran yang diterapkan Presiden Trump.
Putusan tersebut diperkirakan dapat keluar paling cepat pada Jumat waktu setempat. Pelaku pasar mewaspadai potensi lonjakan volatilitas jika kebijakan tarif tersebut dibatalkan.
Sebelumnya, sejumlah hakim Mahkamah Agung sempat menyampaikan keraguan atas kewenangan Trump dalam memberlakukan tarif tersebut.
Jika dibatalkan, kebijakan ini berpotensi memengaruhi penerimaan negara dan arah kebijakan perdagangan AS.
Rupiah Melemah Sepekan, Data Tenaga Kerja AS dan Risiko Global Membayangi
Meski demikian, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa kekhawatiran utamanya bukan pada potensi hilangnya penerimaan negara, melainkan berkurangnya daya tawar AS dalam negosiasi perdagangan global.
Pada perdagangan Kamis sebelumnya, Wall Street ditutup bervariasi. Pelemahan saham teknologi menekan Nasdaq, sementara saham sektor konsumer diskresioner menopang Dow Jones dan menahan S&P 500 di zona datar.
Meski demikian, ketiga indeks utama masih berada di jalur penguatan secara mingguan pada pekan perdagangan penuh pertama tahun 2026, didorong oleh kinerja positif sektor konsumer diskresioner dan pertambangan.
Dow Jones bahkan berpotensi mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak akhir November.
Target 2026: PTBA Kejar Hilirisasi Batubara Jadi DME Ganti LPG
Di sisi saham individual, saham pertahanan yang sebelumnya menguat karena prospek peningkatan anggaran militer AS pada 2027 bergerak stabil. Lockheed Martin naik 1,6% dan RTX menguat 0,7%.
Saham Intel melonjak 2,6% setelah Presiden Trump menyebut pertemuannya dengan CEO Intel, Lip-Bu Tan, berlangsung positif.
Sebaliknya, saham General Motors turun 2,2% setelah perusahaan mengumumkan pencatatan beban sebesar US$6 miliar terkait restrukturisasi sebagian investasi kendaraan listrik.
Saham perusahaan pembiayaan perumahan turut menguat setelah Trump menyatakan akan menginstruksikan pembelian obligasi hipotek senilai US$200 miliar guna menekan biaya perumahan.
LoanDepot melonjak 16,4%, Rocket Companies naik 6%, dan Opendoor Technologies menguat hampir 12%.