IHSG ditutup menguat 0,13 persen pekan lalu, intip proyeksi pasar saham Indonesia pekan ini

Ussindonesia.co.id – Laju penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berlanjut hingga akhir pekan perdagangan pada pekan lalu. IHSG resmi ditutup menguat 0,13 persen secara mingguan ke level 8.936, menandai tren bullish yang masih terjaga di pasar saham domestik.

Tak hanya bertahan di zona hijau, IHSG bahkan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) dengan menembus level 9.000 pada perdagangan Kamis (8/1), sebelum akhirnya mengalami konsolidasi terbatas di penutupan pekan. Di sisi lain, investor asing tercatat membukukan pembelian bersih (net buy) hingga Rp1,6 triliun di pasar reguler.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menyebut, pergerakan IHSG sepanjang sepekan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang relatif kondusif.

“Dari global, pasar mencermati sikap hawkish Bank of Japan (BOJ) yang memunculkan risiko unwinding carry trade. Sinyal potensi kenaikan suku bunga di Jepang dapat mendorong penarikan likuiditas global,” kata David dalam keterangan yang diterima JawaPos.com, Senin (12/1).

Dengan begitu, lanjut David, investor yang meminjam Yen murah untuk berinvestasi di pasar negara berkembang, seperti Indonesia mulai memulangkan dana mereka.

Sentimen positif lain datang dari reli harga komoditas global, khususnya sektor tambang dan energi. Harga tembaga mencetak rekor tertinggi seiring meningkatnya permintaan dari industri teknologi berbasis AI dan kendaraan listrik.

“Kenaikan itu turut mendorong penguatan saham-saham sektor barang baku dan energi di Bursa Efek Indonesia,” lanjutnya.

Sementara itu dari dalam negeri, IHSG ditopang fenomena January Effect. Reinvestasi portofolio oleh manajer investasi di awal tahun mendorong indeks menembus level psikologis 9.000 secara intraday, dengan puncak di level 9.002,92.

Arus modal asing yang deras juga memperkuat optimisme pasar. Terlebih, Bank Indonesia mencatat investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp1,44 triliun hanya dalam pekan pertama Januari 2026.

“Total masuknya modal asing ini menunjukkan kepercayaan kuat investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia,” ungkapnya.

Memasuki pekan perdagangan berikutnya pada pekan ini, terhitung Senin-Kamis, 12–15 Januari 2026 yang hanya berlangsung empat hari karena libur Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada Jumat (16/1), David memproyeksikan IHSG masih berada dalam fase bullish meski berpotensi bergerak lebih selektif.

Ia merekomendasikan strategi follow the money dengan mencermati saham-saham yang masih berada dalam tren naik dan didukung aliran dana besar. Berdasarkan pantauan terakhir, sektor properti dan tambang menjadi dua sektor yang mencatatkan money flow paling dominan.

Meski demikian, investor tetap diminta disiplin dalam manajemen risiko dan mencermati sentimen kunci pekan ini, khususnya rilis data Neraca Perdagangan Indonesia periode Desember.

“Pasar menantikan apakah surplus perdagangan Indonesia masih berlanjut di tengah fluktuasi harga komoditas global. Angka surplus yang kuat akan memperkokoh nilai tukar rupiah dan menjaga minat investor asing,” tutup David.