IHSG awal pekan berisiko lanjut koreksi ke 7.712, cermati saham AMRT, AUTO & INDF

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berisiko melanjutkan koreksi menuju area 7.712–7.785 pada perdagangan awal pekan, Senin (9/2/2026), setelah kembali ditutup di zona merah pada akhir pekan lalu. Meski demikian, sejumlah saham seperti AMRT, AUTO, hingga INDF masih dapat dicermati investor.

Tim Analis MNC Sekuritas mencatat IHSG ditutup anjlok 2,08% ke level 7.935 pada perdagangan Jumat (6/2/2026). Tekanan jual masih mendominasi, seiring seluruh area koreksi yang sebelumnya diproyeksikan telah tercapai.

“Cermati area koreksi selanjutnya yang berada di 7.712–7.785. Selama IHSG masih mampu bertahan di atas 7.712 sebagai level support, indeks berpeluang menguat ke rentang 8.284–8.440,” tulis Tim Analis MNC Sekuritas dalam riset harian, Senin (9/2/2026).

: Prediksi IHSG Sepekan saat Pasar Keuangan Masih Berpotensi Tertekan

Untuk perdagangan hari ini, support IHSG diperkirakan berada di level 7.712 dan 7.547, sementara area resistansi berada pada kisaran 8.214 dan 8.354. Adapun saham yang direkomendasikan MNC Sekuritas antara lain AMRT, AUTO, INDF, dan NCKL.

AMRT – Buy on Weakness

AMRT menguat 2,26% ke level 1.810 dan masih didominasi volume pembelian, meskipun cenderung mengecil. MNC Sekuritas memperkirakan posisi AMRT saat ini berada pada bagian wave (iii) dari wave [i].

: : IHSG Tertekan, Pengamat Ingatkan Bahaya jika Figur Kontroversial Pimpin OJK

  • Buy on Weakness: 1.755–1.800
  • Target Price: 1.935, 1.995
  • Stoploss: di bawah 1.705

AUTO – Buy on Weakness

AUTO terkoreksi 0,75% ke level 2.630 dan disertai munculnya tekanan jual. Saat ini, posisi AUTO diperkirakan tengah membentuk awal wave [b] dari wave B.

  • Buy on Weakness: 2.440–2.580
  • Target Price: 2.700, 2.790
  • Stoploss: di bawah 2.430

INDF – Buy on Weakness

INDF terkoreksi 2,14% ke level 6.850 dan masih didominasi tekanan jual. MNC Sekuritas menilai posisi INDF saat ini berada pada bagian wave [b] dari wave B.

: : IHSG Turun 4,73% Sepekan, Saham NZIA–UNVR Justru Melesat Masuk Daftar Top Gainers

  • Buy on Weakness: 6.600–6.850
  • Target Price: 7.150, 7.450
  • Stoploss: di bawah 6.525

NCKL – Buy on Weakness

NCKL terkoreksi 0,76% ke level 1.300, namun disertai munculnya volume pembelian. Pada label hitam, posisi NCKL diperkirakan berada pada bagian wave B dari wave (B).

  • Buy on Weakness: 1.275–1.295
  • Target Price: 1.385, 1.430
  • Stoploss: di bawah 1.255

Sementara itu, sejumlah analis mengantisipasi risiko koreksi lanjutan terhadap pergerakan IHSG hingga akhir 2026, dengan skenario terburuk berupa penurunan status Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawa menyampaikan pihaknya masih mematok target IHSG akhir 2026 di level 9.440, mencerminkan keyakinan terhadap fundamental domestik yang dinilai tetap solid.

“Namun terdapat risiko koreksi IHSG ke kisaran 8.900–9.175 apabila flow premium pada saham-saham kelompok konglomerasi mulai berkurang,” ujarnya, Minggu (8/2/2026).

Erindra menambahkan, risiko terbesar atau worst case scenario bagi pasar saham Indonesia adalah apabila MSCI menurunkan status Indonesia keluar dari kategori emerging market. Meski demikian, skenario tersebut dinilai masih ekstrem dan belum menjadi asumsi utama (base case) BRI Danareksa.

MSCI masih memberikan tenggat waktu hingga Mei 2026 untuk melihat kemajuan konkret dalam perbaikan transparansi dan struktur pasar modal Indonesia. Apabila Indonesia gagal memenuhi ekspektasi, bobot saham nasional di indeks pasar berkembang berpotensi dipangkas.

Dalam skenario terburuk, Indonesia bahkan berisiko kehilangan status sebagai emerging market dan masuk kategori frontier market. Dampaknya dinilai signifikan karena banyak investor global memiliki mandat investasi yang membatasi eksposur hanya pada pasar berkembang.

Di sisi lain, pandangan lebih optimistis disampaikan Sinarmas Sekuritas. Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai IHSG masih berada dalam tren bullish dengan target moderat di kisaran 9.000, serta peluang mencapai 9.600 pada skenario terbaik.

Menurut Ike, sejumlah katalis domestik menopang prospek penguatan IHSG, mulai dari sinergi Danantara, peningkatan alokasi investasi saham oleh dana pensiun dan asuransi menjadi 20% dari sebelumnya 8%, potensi pelonggaran suku bunga, hingga peluang rebound saham-saham blue chip berfundamental kuat.

Sementara itu, Head of Research Analyst RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai pasar relatif merespons positif data ekonomi domestik sepanjang 2025, dengan pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,11%.

Namun, seiring perkembangan terbaru, RHB Sekuritas saat ini tengah meninjau ulang proyeksi IHSG. “Sebelumnya target IHSG kami berada di level 9.400 untuk 2026, dan saat ini sedang dalam proses review,” ujarnya.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.