
Potensi energi laut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal, meskipun dua pertiga wilayah Indonesia berupa perairan. Salah satu sumber energi terbarukan yang masih minim pengembangan adalah pembangkit listrik tenaga arus laut atau PLTAL.
Pemerhati energi sekaligus Ketua Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII), Sripeni Inten Cahyani menilai pemerintah perlu lebih serius menjajaki pemanfaatan energi laut, mengingat karakter geografis yang sangat mendukung.
“Dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. Indonesia ini negara kepulauan, negara maritim,” ujar Sripeni dalam dalam diskusi Ootlook Energi 2026, Jumat (9/1).
Menurut dia, pengembangan PLTAL seharusnya dimulai dari proyek percontohan (pilot project) yang fokus pada teknologi pembangkitnya, tanpa memikirkan kepentingan lain.
Ia juga mengungkapkan, kegagalan sejumlah proyek sebelumnya, karena kebijakan menggabungkan pengembangan PLN dengan pembangunan infrastruktur lain, seperti jembatan.
“Dulu itu tidak jadi karena dicampur. Mau mengembangkan PLTAL, tetapi dibarengi dengan jembatan. Akhirnya jembatannya harus bisa dilalui, desainnya jadi berat, dan keekonomiannya tidak ketemu,” kata dia.
Kondisi itu, kata Sripeni, membuat biaya PLTAL menjadi lebih mahal karena ditambah biaya akses dan infrastruktur pendukung yang seharusnya tidak menjadi bagian dari pembangkit. Akibatnya, teknologi energi arus laut sering dianggap tidak ekonomis.
“Orang menjadi bias. Ini mahal karena apa? Karena harga utilitasnya atau karena biaya tambahannya? Akses menuju ke sana itu kan bukan bagian dari teknologi PLTAL,” ujarnya.
Ia menekankan, teknologi energi baru seharusnya didukung, bukan justru dibebani. Oleh karena itu, Sripeni berharap pemerintah dapat menyediakan dana khusus untuk pengembangan energi laut, baik melalui anggaran negara maupun kolaborasi dengan ahli dan lembaga penelitian.
“Teknologi baru itu harus digendong, bukan dibebani. Saya berharap ada dukungan dana dari pemerintah, dari akademisi, dari BRIN, dari Dikti Saintek,” kata dia.
Sebagai informasi, pemerintah berencana membangun PLTAL pertama di Indonesia dengan nilai investasi sekitar US$ 220 juta atau Rp 3,57 triliun. Pembangkit ini ditargetkan memiliki kapasitas total 40 megawatt (MW).
PLTAL iyu akan dikembangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan kapasitas 20 MW dan di satu lokasi lainnya dengan kapasitas serupa. Proyek ini direncanakan melibatkan sejumlah mitra, antara lain SBS Indonesia dan NOVA Innovation dari Inggris, serta Tidal Bridge dari Belanda, bekerja sama dengan PT Pertamina Power Indonesia.