
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa ekosistem kripto di Indonesia saat ini sudah memiliki basis yang semakin kuat. Hal ini terlihat dari jumlah akun konsumen aset kripto yang terus meningkat. Infrastruktur industri juga semakin tertata melalui keberadaan dua bursa kripto, lembaga kliring, kustodian, dan 26 pedagang aset kripto yang berizin.
“Terkait dengan perkembangan aktivitas aset kripto di Indonesia, per April 2026 jumlah akun konsumen telah mencapai 21,7 juta, yakni tumbuh 1,57% month to month (mtm). Sementara pada April 2026 nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp 22,98 triliun dan nilai transaksi derivatif AKD tercatat sebesar Rp 5,10 triliun,” jelas Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso dalam konferensi pers, Jumat (5/6/2026).
Sebelumnya, OJK mencatat terdapat 21,37 juta akun konsumen kripto pada posisi Maret 2026 atau tumbuh 1,43% month to month (mtm) (Februari 2026: 21,07 juta akun konsumen). Nilai transaksi aset kripto selama bulan Maret 2026 tercatat sebesar Rp 22,24 triliun atau turun 8,51% mtm (Februari 2026: Rp24,31 triliun).
Investor Perlu Atur Ulang Portofolio Aset di Tengah Pasar Keuangan yang Tertekan
Adi bilang, ditengah fluktuasi nilai yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem keuangan digital termasuk aset kripto di Indonesia tercatat masih terjaga dengan baik. Selian itu, ditengah kondisi volatile akibat meningkatkan ketidakpastian global, tekanan geopolitik dan dinamika suku bunga, terdapat pergeseran appetite investor.
“Di aset kripto ini menunjukkan masih cukup menarik terutama dari sisi adanya inovasi teknologi yang ditunjukkan, kemunculan diversifikasi produk yang semakin beragam,” kata Adi.
Namun Adi mengingatkan masyarakat tetap harus hati – hati. Harus mulai memahami karakteristik instrumen ini. Mulai dari bagaimana legalitas platformnya, profil risiko, serta melakukan riset sendiri dan jangan mengikuti tren harga atau FOMO.
“Kripto ini merupakan instrumen investasi yang menarik, berisiko tinggi sehingga memmbutuhkan pendekatan yang berbasis pada literasi yang kuat dan bukan pada spekulasi semata,” ucap Adi.
Ke depannya pasar aset keuangan digital – aset kripto di Indonesia terlihat menarik. Misalnya dengan adanya tokenisasi real world asset (RWA) yang merupakan underlying transaksi aset keuangan digital – aset kripto. Melalui tokenisasi RWA, konsumen akan lebih terlindungi, underlying asetnya dan proses penerbitannya akan diawasi oleh OJK.
Lebih lanjut Adi mengatakan bahwa semua pedagang aset keuangan digital (PAKD) telah menyampaikan laporan kinerja keuangan tahun 2025. Secara umum sebagian PAKD sudah menunjukkan kinerja yang positif dan sebagian yang lain masih dalam fase konsolidasi. Hal ini karena investasi teknologi baru, penyesuaian terhadap kerangka pengawasan yang baru, dan pengembangan inovasi lainnya
‘Kami memandang cukup wajar mengingat industri aset kripto pada tahun 2025 berada dalam fase transisi dan konsolidasi, baik dari pengalihan pengawasan Bappebti ke OJK, ataupun karena dinamika pasar keuangan global yang cukup volatile,” kata Adi.
Menurutnya, perhatian OJK tidak hanya pada apakah PAKD mencatat laba atau rugi. Tetapi OJK ingin melihat apakah pelaku usaha tersebut memiliki permodalan yang memadai, tata kelolanya yang baik, sistem teknologinya handal serta memiliki kemampuan menjaga dana/aset konsumen secara aman.
Ia mengakui ketentuan permodalan PAKD di Indonesia memang relatif tinggi dibanding dengan beberapa regulasi kebijakan kripto di Asia. Di sisi lain salah satu tantangan yang dihadapi PAKD terkait profitabilitas dan hubungannya dengan aspek pengenaan pajak. Serta tingginya biaya transaksi aset kripto.
Namun demikian OJK bersama stakeholder saat ini sedang melakukan kajian untuk dapat memberikan kontribusi. Diharapkan akan ada solusi terkait pengembangan ekosistem dan perkembangan transaksi para pedagang dan konsumen aset keuangan digital – aset kripto.
Secara khusus prinsip OJK mengedepankan atau menjaga ketahanan industri perdagangan aset kripto di Indonesia di tengah volatilitas yang tinggi ini. OJK ingin mendukung adanya dukungan ekosistem dan industri yang sehat. Industri yang memiliki tata kelola yang memadai dan mampu menjalankan kewajibannya kepada konsumen secara kredibel.
“Kita harapkan industri ini akan terus bertumbuh mendukung pertumbuhan ekonomi kita dan juga memberikan alternatif investasi yang kreatif, yang baru, yang dapat mengattrack konsumen khususnya para anak muda Indonesia yang memiliki basis yang kuat dan mereka semua rata – rata terhubung dengan internet, teknologi digital ini,” imbuh Adi.
CEO Indodax, William Sutanto mengatakan salah satu aset kripto dengan market cap terbesar yakni Bitcoin memiliki prospek yang dinilai bagus. Secara jangka menengah hingga panjang, prospek Bitcoin masih dinilai konsolidatif dengan kecenderungan positif, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Menurutnya, apabila ketidakpastian makroekonomi mulai mereda dan terdapat kejelasan regulasi di sejumlah negara besar, termasuk perkembangan CLARITY Act di Amerika Serikat, maka minat investor institusional terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin berpotensi kembali meningkat.
“Kondisi tersebut dapat mendorong kembalinya arus dana (inflow) ke produk ETF Bitcoin dan menjadi salah satu katalis positif bagi pergerakan harga Bitcoin ke depan,” ucap William.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai Bitcoin masih melanjutkan fase koreksi atau konsolidasi terlebih dahulu. Jika melihat kondisi makroekonomi global, geopolitik, serta sentimen yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir, tekanan terhadap aset berisiko masih relatif besar.
“Konflik di Timur Tengah, tingginya harga energi, ketidakpastian inflasi, serta potensi kebijakan moneter yang tetap ketat menjadi faktor yang masih membebani pergerakan Bitcoin,” ucap Fyqieh.
Dari sisi teknikal, Fyqieh melihat area sekitar US$56.000 menjadi salah satu level yang cukup penting untuk diperhatikan apabila tekanan jual masih berlanjut. Area tersebut merupakan zona yang secara historis memiliki aktivitas transaksi yang cukup tinggi dan berpotensi menjadi area support berikutnya apabila market kembali mengalami pelemahan.
Saat IHSG Terpuruk, Ini Strategi Investasi yang Bisa Ditimbang Investor