
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan respons terkait Presiden Prabowo Subianto yang disebut geram atas gejolak di pasar saham.
Asal tahu saja, kegeraman Prabowo itu disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo.
Jeffrey Hendrik, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI mengaku berterima kasih telah mendapatkan dukungan yang luar biasa dari pemerintah.
Menurut Jeffrey, Hashim juga menyampaikan dukungannya kepada para pejabat pelaksana yang baru memimpin untuk melakukan hal-hal yang penting dan perlu dilakukan sesegera mungkin.
“Itu akan kami lakukan. Arahannya sangat jelas dan akan kami lakukan,” tuturnya.
Emiten Telekomunikasi: Berkah Ramadan 2026, Cuan Besar Menanti?
Asal tahu saja, Hashim menyebutkan, peristiwa tersebut bukan sekadar mempengaruhi kondisi pasar, tetapi juga menyangkut reputasi negara serta menimbulkan kerugian bagi investor.
“Saya juga ingin menegaskan dalam kesempatan ini bahwa Presiden Prabowo sangat marah atas kejadian pekan lalu, terutama karena kehormatan negara dipertaruhkan dan banyak investor yang mengalami kerugian,” kata Hashim dalam acara Asean Climate Forum di gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (11/2/2026).
Hashim juga menyoroti kondisi pasar saham yang bergejolak itu lantaran pasar kurang transparan. Bahkan ia menyebut MSCI sampai mengirim empat surat kepada pemerintah yang berisi berbagai pertanyaan dan kekhawatiran terkait transparansi. Menurutnya, pasar hanya bisa berhasil jika ada kepercayaan dan kredibilitas.
Ia menambahkan, delapan investor yang ditemuinya pada awal pekan ini juga meminta pemerintah memastikan kredibilitas pasar tetap terjaga.
Rekor Obligasi Korporasi 2025 Bisa Terulang di 2026, Analis Optimistis
“Jadi pemerintah Indonesia bertekad menjaga kredibilitas sekaligus kehormatan Republik Indonesia. Bagi Pak Prabowo, kehormatan negara sangat penting. Maka beliau akan mengawasi secara ketat,” ucap Hashim.
Ia menegaskan pengawasan pasar perlu diperkuat guna melindungi investor, mengingat banyak investor terdampak dalam gejolak pasar sebelumnya.
Di samping itu, Hashim menilai rasio price to earnings (PE) sejumlah saham yang mencapai ratusan hingga ribuan kali menjadi sinyal adanya ketidakberesan di pasar.
“Harapan saya, harapan Presiden Prabowo, dan harapan pemerintah adalah agar Anda benar-benar waspada. Jika melihat anomali yang tidak masuk akal, itu merupakan tanda bahaya atau red flag,” tambahnya.