PPN DTP 100% diperpanjang pada 2026, simak saham rekomendasi analis

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Sejumlah emiten dari beberapa sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa mendapat katalis dari kebijakan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) 100% sepanjang 2026.

Asal tahu saja, pemerintah kembali memperpanjang kebijakan insentif PPN DTP 100% sepanjang 2026 untuk pembelian rumah tapak dan satuan rumah susun (apartemen), dengan batas atas nilai properti hingga Rp 5 miliar.

Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 90 Tahun 2025 tentang PPN Atas Penyerahan Rumah Tapak dan Satuan Rumah Susun yang Ditanggung Pemerintah Tahun Anggaran 2026.

Prospek Sektor Pulp dan Kertas Mulai Membaik, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Sejumlah sektor yang dinilai mampu mengambil peluang insentif ini adalah sektor properti dan semen. Dari sektor properti misalnya, ada PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) yang optimistis dengan katalis insentif PPN DTP sepanjang tahun ini.

Direktur Metropolitan Land Olivia Surodjo mengatakan, dengan informasi kebijakan dan PMK yang sudah terbit untuk insentif sepanjang tahun 2026, MTLA memproyeksikan tingkat penyerapan PPN DTP akan lebih baik dari tahun 2025.

“Ini jika diiringi dengan daya beli yang juga membaik di tahun ini. Insentif PPN DTP ini diharapkan dapat menjaga minat beli masyarakat,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (9/1/2026).

  MTLA Chart by TradingView  

Kevin Halim, Analyst, Maybank Sekuritas mengatakan,perpanjangan PPN DTP 100% sepanjang 2026 akan memberikan dampak positif terhadap sektor properti, karena insentif ini dapat menopang presales dari para pengembang (developer). 

Sektor Perbankan Tertekan Outflow Asing, Simak Saham Rekomendasi Analis

Insentif ini juga memiliki dampak positif untuk sektor semen, terutama melalui konsumsi semen untuk pembangunan rumah baru. Namun, dampak positif tersebut tidak terlalu signifikan.

Sebab, sebagian besar volume semen berasal dari mom-and-pop shop (toko bangunan kecil) di berbagai daerah yang biasa digunakan untuk proyek konstruksi kecil atau renovasi rumah.

“Alhasil, volume semen kemungkinan akan lebih sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan insentif PPN DTP,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (9/11/2026).

Di luar sentimen positif dari PPN DTP, Kevin melihat, ada beberapa sentimen negatif untuk sektor properti dan semen. Sentimen negatif untuk sektor properti berasal dari pertumbuhan ekonomi yang lambat sehingga mengurangi daya beli dan minat pembeli aset properti. 

Sementara, sentimen negatif untuk sektor semen adalah pertumbuhan daya beli yang lambat, sehingga masyarakat tidak dapat memiliki dana lebih untuk konsumsi tambahan, seperti membeli semen untuk renovasi rumah. 

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Simak Saham Rekomendasi Analis, Jumat (5/12)

“Ini karena semen bukanlah kebutuhan primer,” katanya.

Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan, PPN DTP akan memberikan dampak positif bagi sektor properti.

Namun, dampak dari insentif ini diperkirakan tidak akan sekuat tahun-tahun sebelumnya, mengingat daya beli masyarakat yang masih relatif lemah.

“Indikasi ini terlihat dari beberapa emiten yang menurunkan target penjualan rumah pada tahun 2025,” katanya kepada Kontan, Jumat.

Di tahun 2026, emiten yang lebih berfokus pada penjualan rumah diperkirakan akan paling merasakan manfaat PPN DTP. Mereka adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). 

“Selain itu, potensi penurunan suku bunga acuan diharapkan dapat menekan suku bunga KPR, sehingga mendorong permintaan dan penjualan rumah lebih lanjut,” kata Harry.

IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi, Simak Saham Rekomendasi Analis untuk Jumat (9/1)

Kevin pun merekomendasikan beli untuk PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dengan target harga Rp 160 per saham, SMRA Rp 640 per saham, CTRA Rp 1.300 per saham, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) Rp 4.500 per saham, dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) Rp 8.800 per saham.

Sedangkan, Harry merekomendasikan beli untuk BSDE dengan target harga Rp 1.100 per saham, CTRA Rp 1.400 per saham, dan SMRA Rp 600 per saham.