Obligasi korporasi masih prospektif di 2026, ditopang refinancing dan bunga rendah

Ussindonesia.co.id — JAKARTA. Kebutuhan refinancing obligasi korporasi diprediksi kembali tinggi pada 2026, seiring nilai jatuh tempo yang mencapai Rp156,9 triliun. Di tengah tren penurunan suku bunga acuan, prospek pasar obligasi korporasi dinilai masih tetap solid.

Berdasarkan data Penilaian Harga Efek Indonesia (PHEI) per 2 Januari 2026, nilai jatuh tempo obligasi korporasi mencapai Rp156,9 triliun yang terkonsentrasi pada semester II-2026.

Rinciannya, pada kuartal I 2026 sebesar Rp 26,16 triliun, kuartal II-2026 Rp 26,71 triliun, kuartal III-2026 Rp 61,24 triliun, dan kuartal IV-2026 Rp 42,79 triliun.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menilai, prospek penerbitan obligasi korporasi pada 2026 masih kuat, dengan estimasi penerbitan berada di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun.

Suku Bunga BI Turun, Reksadana Obligasi dan Saham Berpeluang Moncer pada 2026

Hal ini terutama didorong oleh kebutuhan pembiayaan kembali di tengah siklus pelonggaran moneter Bank Indonesia.

“Pelonggaran moneter memberikan insentif bagi emiten untuk mengganti utang lama berbiaya tinggi dengan instrumen baru yang memiliki tingkat kupon lebih rendah,” kata Ahmad pada Kontan (7/1/2026).

Selain refinancing, prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan berada di rentang 4,9%–5,3% juga berpotensi mendorong kebutuhan pendanaan baru untuk ekspansi usaha.

Meski demikian, penguatan IHSG membuka peluang risiko substitusi, terutama bagi emiten berperingkat tinggi yang memiliki akses ke pasar ekuitas.

Obligasi korporasi dinilai tetap menarik karena menawarkan imbal hasil riil yang kompetitif, terutama saat yield Surat Berharga Negara (SBN) cenderung turun.

Reksadana Syariah Diprediksi Solid pada2026, Prospek Saham dan Obligasi Cerah

Penurunan suku bunga juga membuka peluang capital gain seiring pergeseran kurva imbal hasil ke arah bawah mercerminkan kenaikan harga di seluruh spektrum tenor.

Untuk sentimen 2026, pasar obligasi korporasi akan dipengaruhi oleh kebijakan moneter, fundamental kredit emiten, serta dinamika pasokan obligasi yang tinggi akibat jatuh tempo besar.

Konsentrasi suplai pada kuartal ketiga berpotensi menimbulkan tekanan jangka pendek, jika tidak diimbangi permintaan investor.

Sejalan dengan itu, yield obligasi korporasi diperkirakan terus mengalami kompresi. Yield obligasi korporasi berperingkat tinggi tenor menengah diproyeksikan mengikuti penurunan yield SBN, dengan benchmark SBN tenor 10 tahun yang diperkirakan turun ke sekitar 5,8% pada akhir 2026.