Pengendali baru SGRO tender wajib Rp 4,92 triliun, simak rekomendasi sahamnya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) diproyeksikan masih prospektif di tahun ini pasca aksi pergantian pengendali perusahaan.

Pengendali baru SGRO akan segera melakukan penawaran tender wajib alias mandatory tender offer (MTO) sebagai proses dari akuisisi. 

AGPA Pte Ltd, pengendali baru SGRO, akan melakukan tender wajib sebanyak-banyaknya 623,32 juta saham biasa atas nama yang dimiliki oleh pemegang saham publik. 

Pengendali Baru Prime Agri Resources (SGRO) Tender Wajib, Patok Harga di Rp 7.903

Jumlah itu setara dengan sebanyak-banyaknya 34,275% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam SGRO dengan hak suara yang sah, dengan nilai nominalnya sebesar Rp 200 per saham.

Harga penawaran sebesar Rp 7.903 per saham, yang sama dengan harga pengambilalihan dari pengendali lama yang sudah dilakukan. 

Sehingga, nilai total tender wajib oleh anak usaha Posco International Corporation itu sebanyak-banyaknya adalah senilai Rp 4,92 triliun. Penawaran tender akan berlangsung sejak 21 Januari hingga 19 Februari 2026. 

Manajemen SGRO bilang, harga tersebut ditetapkan sesuai dari hitungan harga tertinggi perdagangan saham harian perseroan di BEI dalam 90 hari terakhir sebelum tanggal pengambilalihan. 

“Pengendali Baru menyatakan bahwa Pengendali Baru memiliki dana yang cukup untuk melaksanakan kewajibannya untuk melakukan pembayaran penuh kepada Pemegang Saham sehubungan dengan Penawaran Tender Wajib,” ujar manajemen SGRO dalam keterbukaan informasi Selasa (20/1/2026).

Pasca Akuisisi, Sampoerna Agro (SGRO) Ganti Nama Jadi Prime Agri Resources

Asal tahu saja, melalui Twinwood Family Holdings Limited, Grup Sampoerna telah menjual seluruh kepemilikan saham mereka pada SGRO yang totalnya 1,19 miliar saham atau 65,72%.  

Twinwood Family melepas SGRO kepada AGPA Pte. Ltd., anak perusahaan POSCO International Corporation (POSCO International). Nilai total pengambilalihan tersebut adalah sebesar Rp 9,4 triliun atau Rp 7.903 per saham. 

Pasca akuisisi, SGRO pun menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 13 Januari 2026. Dalam RUPSLB itu, SGRO melakukan perubahan identitas baru, yaitu perubahan nama dan logo. Semula, nama perusahaan SGRO adalah Sampoerna Agro.

Perlu diketahui, POSCO International adalah perusahaan global asal Korea Selatan yang merupakan bagian dari POSCO Group. Perusahaan ini bergerak di berbagai bidang, di antaranya perdagangan, energi, baja, dan agribisnis. 

Jejak POSCO di industri sawit Indonesia dimulai dengan mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Papua Selatan pada 2011 melalui PT Bio Inti Agrindo dan mengoperasikan tiga pabrik pengolahan minyak kelapa sawit yang memproduksi 210.000 ton minyak sawit per tahun. POSCO International juga memiliki pabrik penyulingan minyak sawit di Balikpapan, Kalimantan Timur dengan kapasitas 500.000 ton per tahun.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, harga tender wajib yang ditawarkan oleh pengendali baru SGRO merupakan nilai yang wajar. Namun, ada kemungkinan minat publik akan aksi tender wajib ini cenderung moderat dengan skenario negatif permintaannya terbatas.

“Level Rp 7.903 per saham itu sudah mendekati valuasi wajar SGRO jika dilihat dari price to book value (PBV),” ujarnya kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).

Melansir RTI, harga SGRO pada Rabu (21/1/2026) ditutup di level Rp 7.800 per saham. PBV SGRO sebesar 2,35x dan price to earning ratio (PER) 12,16x.

Head of Research Kisi Sekuritas, Muhammad Wafi melihat, harga tender wajib di Rp 7.903 per saham cukup menarik bagi publik untuk cash out. 

Potensi serapan untuk tender offer tersebut bisa tinggi, karena investor cenderung memilih kepastian harga dibanding risiko likuiditas pasca-tender. 

“Jika serapan rendah, risikonya saham menjadi tidak likuid,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.

Ke depan, Wafi melihat, secara fundamental tahun ini akan menjadi fase konsolidasi dan efisiensi untuk SGRO.

“Masuknya AGPA menjadi katalis positif untuk sinergi pasar dan perbaikan struktur keuangan, didukung oleh prospek harga CPO yang relatif stabil,” tuturnya.

Senada, Nafan juga melihat kinerja SGRO ke depan masih prospektif didorong masih stabilnya harga minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) lantaran tingginya permintaan untuk bioenergi.

“Umur tanaman sawit milik SGRO juga saat ini sudah berusia cukup tua. Namun, hal itu bisa diatasi dengan efisiensi operasional, baik dari produksi maupun logistik,” tuturnya.

Baik Nafan dan Wafi kompak merekomendasi sell on strength untuk SGRO. 

“Baiknya sell on strength di dekat level harga tender offer,” kata Wafi.