
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat adanya net sell asing di pasar saham sebesar Rp3,25 triliun dalam rentang 19-23 Januari 2026. Secara harian, empat dari lima hari perdagangan dalam pekan tersebut juga menorehkan neraca negatif transaksi investor asing.
Rinciannya, pada perdagangan Senin (19/1) tercatat net sell asing Rp708,61 miliar, lalu mengecil menjadi Rp91,67 miliar pada perdagangan Selasa (20/1/2026) ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di level tertinggi baru 9.134.
Selanjutnya, pada saat IHSG koreksi ke 9.010 pada penutupan Rabu (21/1/2026), net sell asing membesar menjadi Rp1,88 triliun, lalu mencapai Rp1,32 triliun pada perdagangan Kamis (22/1). Di akhir pekan, ketika IHSG kembali terkoreksi ke level 8.951 baru terdapat net buy asing sebesar Rp759,52 miliar.
: Depresiasi Rupiah hingga Net Sell Asing Bebani Langkah IHSG Sepekan
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan faktor utama yang menyebabkan dana asing menguap sepanjang pekan tersebut adalah nilai tukar rupiah dan persepsi risiko domestik.
“Rupiah sempat menyentuh rekor terendah sekitar Rp16.985 per dolar AS, sementara kekhawatiran investor terhadap kredibilitas kebijakan, terutama fiskal dan independensi bank sentral, langsung mendorong kenaikan risk premium aset Indonesia,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (25/1/2026).
: : IHSG Sepekan Melemah 1,37%, Dana Asing Menguap Rp3,25 Triliun
Di sisi kebijakan, Bank Indonesia telah menahan BI-Rate di 4,75%, dengan deposit facility 3,75% dan lending facility 5,50%. Langkah ini diambil untuk menyeimbangkan stabilitas rupiah dan dukungan pertumbuhan. Liza menilai langkah ini membantu meredam kepanikan, namun belum cukup kuat memicu risk-on selama arus dana asing masih keluar.
Sementara itu, dari sisi aliran dana, BI mencatat outflow portofolio sekitar US$1,6 miliar hingga 19 Januari 2026. Liza mengatakan hal ini akan menjadi faktor penting dalam penentuan positioning investor pekan depan, yakni pada perdagangan 26-30 Januari 2026.
: : Proyeksi IHSG Pekan Depan, Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga The Fed
“Dalam 2-3 hari terakhir di equity market, kami mulai melihat foreign outflow mulai terjadi cukup deras. That’s why IHSG akhirnya rontok juga, selain memang sudah overheating setelah mencetak rekor ATH di 9.174,” ujarnya.
Meski IHSG dalam sepekan rontok 1,37% sejalan dengan asing yang hengkang, Liza menilai macro anchor Indonesia relatif masih solid. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9–5,7% dan 2025 di 4,7–5,5%, sementara IMF memperkirakan pertumbuhan 5,0% pada 2025 dan 5,1% pada 2026, dengan inflasi tetap dalam target dan defisit transaksi berjalan terkendali.
“Kesimpulannya, arah IHSG ke depan akan lebih ditentukan oleh stabilisasi rupiah dan potensi pembalikan foreign flow, bukan semata oleh narasi pertumbuhan ekonomi yang pada dasarnya masih terjaga, namun tertahan oleh kenaikan risk premium,” katanya.