
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Tekanan jual investor asing membayangi pergerakan saham perbankan pada perdagangan Rabu (28/1/2026), seiring sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perlakuan sementara terhadap pasar modal Indonesia.
Saham-saham bank besar menjadi sasaran utama pelepasan asing, dengan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan nilai jual terbesar. Selain itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sampai 8% ke level 8.261.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan net sell Rp6,17 triliun di pasar reguler hari ini. Saham BCA menjadi yang paling banyak dilepas dengan nilai jual bersih mencapai Rp4,1 triliun.
: BCA (BBCA) Targetkan Kredit Tumbuh 8-10% di RBB 2026, NIM Turun ke 5,4-5,6%
Sejalan dengan derasnya arus keluar dana asing tersebut, saham BBCA ditutup terkoreksi 6,33% atau 475 poin ke level Rp7.025 per saham.
Sepanjang perdagangan, saham BCA sempat menyentuh level terendah di Rp6.925 per saham sebelum kembali naik terbatas hingga penutupan. Kapitalisasi pasar BCA tercatat sebesar Rp866,01 triliun.
: : Saham Perbankan Kompak Anjlok, BBCA Dekati Level Psikologis Rp7.000
Bank Himbara Ikut Terkena Dampak
Tekanan jual asing juga menimpa saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang mencatatkan net sell Rp1,3 triliun.
Saham BMRI ditutup turun 5,2% atau 250 poin ke Rp4.560 per saham, setelah sempat menyentuh level terendah Rp4.410 per saham. Kapitalisasi pasar Bank Mandiri berada di Rp425,6 triliun.
: : Saham Perbankan BBCA, BRIS, BBYB Kompak Anjlok Efek Panic Selling Sentimen MSCI
Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga tak luput dari aksi jual asing dengan nilai Rp1,1 triliun.
Saham BRI terperosok 6,02% atau 230 poin ke level Rp3.590 per saham, dengan level terendah intraday di Rp3.540 per saham. Kapitalisasi pasar BRI tercatat Rp544,1 triliun.
Tekanan serupa terjadi pada saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), meskipun dengan nilai yang relatif lebih kecil. Saham BRIS mencatat net sell asing Rp22,7 miliar dan ditutup melemah 5,83% atau 130 poin ke Rp2.100 per saham, setelah bergerak di zona merah hampir sepanjang sesi perdagangan. Kapitalisasi pasar BRIS tercatat sebesar Rp96,87 triliun.
BEI Diminta Benahi Transparansi Pasar
Sebagaimana diketahui, dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menghentikan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta membekukan perpindahan emiten antar-segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Sebagai informasi, MSCI merupakan perusahaan riset investasi global yang menyediakan indeks saham, data, serta alat analisis portofolio yang menjadi acuan utama manajer investasi dan investor institusional di seluruh dunia. Indeks MSCI dirancang untuk mencerminkan pergerakan harga saham pada berbagai kategori pasar.
Kebijakan ini dinilai pasar sebagai sinyal negatif terhadap prospek aliran dana asing ke pasar saham domestik, khususnya ke saham-saham berkapitalisasi besar seperti perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung indeks.
MSCI menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menekan index turnover dan risiko investabilitas, sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk memperbaiki transparansi, terutama terkait struktur kepemilikan saham dan perhitungan free float.
Seiring dengan hal ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan komitmen untuk menjaga transparansi di pasar modal Indonesia yang sesuai dengan standar global.
Hal tersebut disampaikan otoritas bursa saham RI usai penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan penangguhan perubahan konstituen saham asal Indonesia yang membuat IHSG longsor.
IHSG Anjlok 8%, BEI Berlakukan Trading Halt
BEI melakukan mekanisme trading halt usai IHSG ambles lebih dari 8% pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026). Data RTI Business pukul 14.01 WIB menunjukkan, IHSG terkoreksi 8% atau 718,44 poin ke level 8.261,78. Rentang pergerakan IHSG berada di antara 8.261 hingga 8.596.
Total perdagangan saham mencapai 45,39 miliar lembar dengan nilai transaksi mencapai Rp31,92 triliun dan frekuensi sebanyak 2.95 juta kali. Tercatat 28 saham menguat, 768 saham melemah, dan 8 saham stagnan. Kapitalisasi pasar atau market cap Bursa tercatat sebesar Rp14.985 triliun.
Anjloknya IHSG ditekan oleh koreksi saham BBCA -6%, BMRI -5,61%, BBRI -5,24%, TLKM -12,44%, BUMI -14,53% RAJA -15,75% dan AMMN -12,50%.
Kondisi tersebut membuat BEI melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pada pukul 09:00:00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).
“Perdagangan akan dilanjutkan pukul 13:43:00 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan,” kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan resmi, Rabu (28/1/2026).