
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Harga buyback emas Antam telah mengalami kenaikan 15,48% untuk periode berjalan 2026 hingga Senin (9/2/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia Senin (9/2/2026), harga buyback emas Antam naik Rp28.000 ke Rp2.734.000. Posisi itu masih terpaut dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp2.989.000 pada Januari 2026.
Kendati demikian, harga buyback emas Antam yang menjadi acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) tercatat telah mengalami kenaikan 15,48% untuk periode berjalan tahun ini.
: Ramalan Nasib Pergerakan Harga Emas Pekan Kedua Februari 2026
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
: : Full Senyum Pembeli Emas Antam Lebaran 10 Tahun Awal Februari 2026
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Adapun, harga buyback emas Antam mengikuti pergerakan mahar logam mulia di pasar global.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, pada awal perdagangan Senin (9/2/2026), harga emas di pasar spot sempat menguat hingga 1,6%. Pada pukul 07.57 WIB, harga emas terpantau menguat 1,17% ke level US$5.022,58 per troy ounce.
Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS menguat 1,18% atau 58,7 poin ke level US$5.038,70 per troy ounce.
Penguatan harga emas pagi ini turut ditopang kemenangan telak Perdana Menteri petahana Jepang, Sanae Takaichi dalam pemilihan umum. Hasil tersebut memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan fiskal serta tekanan berkelanjutan terhadap yen, yang pada gilirannya menjadi sentimen positif bagi harga emas.
Meski pada penutupan Jumat harga emas masih sekitar 11% di bawah rekor tertinggi yang tercapai pada 29 Januari, logam mulia ini tetap mencatatkan kenaikan sekitar 15% sejak awal tahun.
Selain faktor politik global, pelaku pasar juga menanti rilis data ekonomi Amerika Serikat untuk memperoleh petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Laporan ketenagakerjaan Januari yang akan dirilis pada Rabu diperkirakan menunjukkan tanda-tanda stabilisasi pasar tenaga kerja, sementara data inflasi dijadwalkan menyusul pada Jumat.