
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY kembali menunjukkan penguatannya di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Terbaru, melansir Trading Economics pukul 16.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) berhasil menembus level 100,2 atau menguat 3,10% secara bulanan (MoM).
Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai penguatan dolar AS terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, mendorong arus modal keluar (risk-off) dari pasar negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman dan likuid.
“Indeks dolar AS kembali menunjukkan keperkasaannya seiring statusnya sebagai safe haven utama. Ketegangan geopolitik membuat investor cenderung memindahkan dana dari emerging markets ke aset berbasis dolar,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (13/3/2026).
Valas Asia Melemah Saat Dolar AS Perkasa, Ketidakpastian Global Jadi Sebab
Selain faktor geopolitik, dinamika suku bunga dan inflasi juga menjadi pendorong penguatan dolar.
Munculnya potensi tekanan inflasi baru akibat kenaikan harga energi membuat pasar melakukan penyesuaian ulang terhadap ekspektasi kebijakan moneter bank sentral AS.
Menurut Wahyu, harapan pasar sebelumnya yang memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada pertengahan tahun mulai bergeser.
Di sisi lain, lonjakan harga energi turut memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara Asia. Hal ini tecermin dari mata uang (valas Asia) yang terpantau kompak melemah.
Pada waktu yang sama, terpantau pairing valuta asing (valas) USD/JPY di level 159,4 naik 3,86% MoM. Pairing valas USD/CNY di level 6,90 naik 0,09% MoM, pairing valas USD/KRW di level 1.499,8 menguat 3,36% MoM, serta USD/INR juga tercatat menguat 2,03% MoM jadi 92,6.
Rupiah Jisdor Melemah 0,21% ke Rp 16.934 per Dolar AS pada Jumat (13/3/2026)
Menurut Wahyu, pelemahan ini sebab sebagian besar negara di Asia ini masih berstatus sebagai importir energi, sehingga kenaikan harga minyak memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian domestik.
Harga minyak yang sempat menyentuh level sekitar US$ 98 per barel berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan di sejumlah negara Asia.
“Kenaikan harga energi memberikan tekanan ganda bagi negara Asia, yakni memperlebar defisit transaksi berjalan sekaligus menekan nilai tukar domestik secara fundamental,” pungkasnya.