
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (26/2/2026). IHSG terkoreksi 1,04% atau turun 86,97 poin ke level 8.235,26, seiring tekanan jual yang masih mendominasi pasar.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pelemahan IHSG terjadi akibat aksi profit taking jangka pendek setelah reli sebelumnya, ditambah sentimen global yang cenderung mixed.
Menurutnya, tekanan terlihat pada sektor energi, keuangan, dan infrastruktur, dengan jumlah saham yang turun jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat. Arus dana asing yang masih mencatatkan net sell sekitar Rp 409 miliar juga menjadi salah satu faktor penekan indeks.
Wall Street: S&P 500 Melemah, Pasar Kurang Antusiasi dengan Hasil Kinerja Nvidia
“Secara umum koreksi lebih dipengaruhi profit taking jangka pendek dan sentimen global yang masih beragam. Meski demikian, penguatan rupiah menunjukkan stabilitas makro domestik masih cukup terjaga,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (26/2/2026).
Dari sisi teknikal, Hendra menilai IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi setelah gagal bertahan di atas area psikologis 8.300. Support terdekat berada di area 8.200 dan berpotensi menguji 8.150-8.100 apabila tekanan berlanjut, sementara resistance berada di kisaran 8.300 hingga 8.350.
Ia memperkirakan IHSG berpeluang mengalami technical rebound menuju area 8.280-8.300 apabila tekanan eksternal mereda dan nilai tukar rupiah tetap stabil. Namun, risiko pengujian kembali level support tetap terbuka apabila tekanan jual asing berlanjut.
Sejalan dengan itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut pelemahan IHSG juga dipengaruhi sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting, termasuk inflasi Februari dan neraca perdagangan Januari.
Waspada! Pertumbuhan Kinerja Emiten LQ45 di 2025 Lebih Melambat
“Sentimen tarif Amerika Serikat terhadap Indonesia serta kehati-hatian investor menjelang rilis data domestik turut menekan pergerakan indeks. Namun kami melihat hal ini hanya bersifat jangka pendek,” jelas Nico.
Ia menilai secara jangka menengah hingga panjang prospek pasar saham Indonesia masih positif, meskipun dalam jangka pendek IHSG berpotensi bergerak terbatas.
Secara teknikal, Nico memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 8.170 hingga 8.480 dan masih berpeluang melemah terbatas pada perdagangan Jumat (27/2/2026).
Untuk strategi jangka pendek, Hendra merekomendasikan investor melakukan selective buying.
Ia menilai saham ENRG menarik dengan target Rp 1.770, AVIA direkomendasikan trading buy dengan target Rp 468, serta KPIG direkomendasikan untuk speculative buy dengan target Rp 150, dengan tetap disiplin pada level manajemen risiko.