
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Angin segar kembali menghampiri emiten-emiten anggota Holding BUMN Pertambangan (MIND ID). Hal ini seiring dengan rencana BPI Danantara yang akan menggelar proses peletakan batu pertama (groundbreaking) sejumlah proyek hilirisasi pada Februari mendatang.
Dalam berita sebelumnya, terdapat enam proyek yang akan memulai proses groundbreaking pada bulan depan, antara lain hilirisasi bauksit, aluminium, bioavtur, kilang, serta budidaya unggas.
Chief Executive Officer Edvisor Provina Visindo, Praska Putrantyo, mengatakan keberadaan proyek hilirisasi mineral dapat menjadi sentimen positif jangka menengah dan panjang bagi emiten-emiten MIND ID.
Masing-masing emiten MIND ID pada dasarnya berpeluang memperoleh manfaat dari agenda hilirisasi yang terus gencar digaungkan pemerintah ataupun melalui Danantara.
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Senin (19/1), Ini Proyeksi Analis
Sebagai contoh, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki peluang dari pengembangan hilirisasi aluminium dan bauksit, sehingga dapat meningkatkan margin dari sisi penjualan produk bernilai tambah.
ANTM sendiri sudah memiliki proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) melalui PT Borneo Alumina Indonesia bersama Inalum di Mempawah, Kalimantan Barat.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga bisa memanfaatkan peluang berupa pemanfaatan batu bara untuk menunjang kebutuhan energi di berbagai proyek hilirisasi. Selain itu, PTBA juga berpotensi kembali menggerakkan proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG).
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga mendapat sentimen positif berupa harapan meningkatnya permintaan nikel untuk industri kendaraan listrik. Saat ini, INCO tengah menggarap tiga proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako.
“PT Timah Tbk (TINS) turut mendapat manfaat dalam jangka panjang karena kebijakan hilirisasi mineral tetap membuka peluang pengembangan produk turunan timah untuk industri manufaktur dan elektronik,” ujar dia, Kamis (15/1/2026).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa keberadaan proyek hilirisasi secara umum dapat mengubah model bisnis emiten MIND ID dari sekadar menjual sumber daya alam menjadi penggerak industri pengolahan mineral bernilai tambah.
Menurutnya, ANTM menjadi emiten MIND ID yang paling diuntungkan oleh proyek-proyek hilirisasi di Tanah Air berkat kesiapan dan portofolio bisnis komoditas mineral yang lengkap, seperti emas, nikel, dan bauksit.
Ujian utama bagi ANTM dalam proyek hilirisasi adalah kemampuan mereka dalam mengelola utang, mengingat kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) akan mengalami kenaikan.
“Secara keekonomisan, proyek nikel atau bauksit lebih teruji dibandingkan gasifikasi batu bara yang marginnya tipis,” ujar dia, Kamis (15/1/2026).
Menanti Data Inflasi AS dan BI Rate, IHSG Bergerak Konsolidasi Senin (19/1)
Di luar itu, para analis sepakat bahwa emiten-emiten MIND ID tetap memiliki prospek menjanjikan sepanjang 2026 berjalan. Wafi menilai sentimen positif utama bagi emiten MIND ID tahun ini adalah pemulihan harga komoditas global, keseimbangan antara pembayaran dividen dengan kebutuhan capex, hingga ekspektasi stabilitas nilai tukar rupiah.
Praska memperkirakan pergerakan harga komoditas di pasar global akan tetap fluktuatif pada tahun ini. Namun, hal tersebut dapat menjadi momentum bagi emiten MIND ID dalam meningkatkan margin dan kecepatan realisasi proyek-proyek hilirisasi pada masa mendatang.
Lantas, Praska merekomendasikan buy on weakness saham ANTM, INCO, dan TINS dengan target harga masing-masing di level Rp 4.600 per saham, Rp 6.700 per saham, dan Rp 5.000 per saham. Saham PTBA juga dapat dilirik investor berkat momentum dividend yield tinggi dengan target harga di kisaran Rp 2.600–Rp 2.900 per saham.
Di lain pihak, Wafi menyebut saham ANTM, INCO, dan PTBA dapat dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 4.200 per saham, Rp 6.600 per saham, dan Rp 2.700 per saham.