Proyeksikan IHSG sentuh 9.440 di 2026, cek saham rekomendasi BRI Danareksa Sekuritas

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 1,17% ke level 8.748,13 pada perdagangan Jumat (2/1) atau hari pertama perdagangan tahun 2026.

Ada kemungkinan tren positif pergerakan IHSG akan berlanjut sepanjang 2026.

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas. Chory Agung Ramdhan, mengatakan, penguatan IHSG di hari pertama perdagangan 2026 merupakan sinyal optimisme dari para pelaku pasar.

IHSG Diproyeksi Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Selasa (30/12)

Terlebih lagi, biasanya ada fenomena January Effect yang mampu memberi dorongan pergerakan IHSG pada awal tahun. “Kami melihat penguatan ini didorong oleh optimisme transisi ekonomi global dan domestik yang lebih stabil,” ujar dia, Jumat (2/1/2026) malam.

Chory melanjutkan, fokus para pelaku pasar saat ini adalah mengantisipasi rilis laporan keuangan emiten 2025 yang diprediksi cukup solid. Pelaku pasar juga sedang mencermati stabilitas nilai tukar rupiah pasca transisi acuan suku bunga ke IndONIA per 1 Januari 2026.

Di sisi lain, ketegangan akibat perang tarif memang masih menjadi risiko, namun pelaku pasar dinilai lebih sensitif terhadap terhadap kebijakan suku bunga acuan The Fed yang diprediksi akan turun menjadi 3,9% hingga 3,6% sepanjang 2026.

Hal ini akan memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk tetap akomodatif, sehingga menjadi katalis positif bagi emiten dengan leverage tinggi. 

IHSG Diproyeksi Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Jumat (2/1)

Chory pun melihat peluang IHSG untuk menembus level psikologis 9.000 sangat terbuka lebar, terutama pada bulan Februari atau Maret 2026 seiring dengan musim pembagian dividen tahunan. 

Lantas, Chory memproyeksikan IHSG dapat mencapai level 9.440 pada akhir 2026. Terdapat beberapa asumsi utama yang mendasari proyeksi tersebut.

Pertama, pertumbuhan Earning per Share (EPS) tahun 2026 yang diprediksi sebesar 8% dan valuasi Price to Earning Ratio (PER) 14,2 kali yang sejalan dengan rata-rata 5 tahun untuk kelompok saham fundamental. 

Kedua, premi sebesar 40% untuk mencerminkan berlanjutnya arus dana ke saham-saham konglomerasi dan saham yang berpotensi masuk indeks utama. 

Di samping itu, untuk skenario bull dan bear, Chory menyebut bahwa target IHSG pada 2026 yaitu masing-masing berada di level 9.820 dan 9.135 dengan asumsi pertumbuhan EPS sebesar 10% dan 6%.

“Risiko utama pasar mencakup potensi perubahan atau penundaan kebijakan dan program pemerintah, serta perubahan metodologi indeks utama,” tutur dia. 

Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Akhir 2025, Selasa (30/12)

Bagi investor, lanjut Chory, strategi utama tahun ini adalah “Mean Reversion & Dividend Hunting”. Setelah 2025 dikuasai saham lapis kedua, tahun 2026 akan menjadi panggung bagi saham-saham Blue Chip dari LQ45 atau IDX30 yang valuasinya masih tertinggal (undervalued). 

Sektor seperti perbankan, khususnya big banks, masih menjadi pilihan menarik bagi investor. Saham-saham perbankan dipercaya tetap menjadi motor penggerak berkat laba bersih yang tumbuh stabil dan proyeksi dividen yang tinggi.  

Selain itu, saham-saham di sektor konsumer dan retail juga memiliki daya tarik tinggi lantaran diuntungkan oleh belanja pemerintah dan perbaikan daya beli pasca penurunan suku bunga acuan. 

Berikutnya, saham-saham di sektor teknologi dan digital layak dipertimbangkan karena sektor ini mulai pulih (rebound) berkat biaya modal yang lebih murah. Saham dari sektor komoditas, khususnya mineral hijau dan emas juga tetap prospektif seiring transisi energi global. 

Ini Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham MNC Sekuritas untuk Awal Perdagangan 2026

Tak hanya itu, saham-saham konglomerat juga berpotensi kembali menjadi penopang utama IHSG pada 2026. 

Secara garis besar, emiten dengan diversifikasi usaha kuat, neraca sehat, serta eksposur ke sektor defensif dan strategis dinilai lebih tahan banting terhadap risiko volatilitas. 

“Fokus investor akan tertuju pada konglomerasi yang mampu menjaga pertumbuhan laba dan arus kas secara berkelanjutan,” pungkas Chory.