
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Suntikan dana pemegang saham senilai Rp 846 miliar dari PT Bio Farma dinilai menjadi katalis positif bagi pemulihan kinerja PT Kimia Farma Tbk (KAEF) pada 2026. Pinjaman pemegang saham tersebut diharapkan mampu meredakan tekanan likuiditas dan menurunkan beban keuangan perseroan.
Head of Research Kisi Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai dampak dana segar tersebut akan terlihat langsung pada perbaikan struktur keuangan KAEF. “Efeknya positif, terutama akan terlihat dari penurunan beban keuangan,” kata Wafi kepada Kontan, Selasa (6/1/2026).
Menurut Wafi, salah satu masalah utama Kimia Farma dalam beberapa waktu terakhir adalah tekanan arus kas yang menyebabkan keterlambatan pembayaran kepada vendor dan berdampak pada terganggunya pasokan obat di jaringan apotek. Dengan masuknya dana dari Bio Farma, siklus rantai pasok berpotensi kembali berjalan normal.
Bakal Diakuisisi Ningbo Lixing 63,5%, Saham KOKA Bergerak Naik
“Dana ini bisa memperbaiki modal kerja. Cash flow yang sebelumnya macet membuat stok obat kosong. Dengan likuiditas yang lebih longgar, supply chain bisa kembali lancar,” jelasnya. Selain itu, struktur permodalan KAEF juga dinilai menjadi lebih sehat karena utang bank jangka pendek yang agresif dapat digantikan oleh utang pemegang saham yang berjangka lebih panjang dan bersifat lebih supportif.
Dari sisi kinerja, Wafi memproyeksikan 2026 akan menjadi fase recovery dan stabilisasi bagi Kimia Farma. Pertumbuhan pendapatan diperkirakan terjadi secara moderat seiring ketersediaan stok obat yang membaik. Namun, fokus utama perseroan dinilai bukan pada ekspansi agresif, melainkan efisiensi operasional.
“Fokusnya bukan mengejar omzet, tapi efisiensi. Laba bersih berpotensi membaik karena beban bunga turun dan efisiensi biaya mulai terasa. Ada peluang turnaround jika perbaikan ini konsisten,” kata Wafi.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah tantangan. Persaingan ketat di segmen obat generik dan warisan inefisiensi operasional masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan waktu untuk diselesaikan. Selain itu, penggunaan dana hasil pinjaman juga menjadi perhatian pasar.
“Investor perlu memantau apakah dana ini murni digunakan untuk memperbaiki neraca dan modal kerja, atau ada porsi yang dialokasikan untuk belanja modal produktif,” ujarnya.
Dari sisi saham, Wafi menilai KAEF masih masuk kategori berisiko tinggi. Namun, potensi imbal hasil tetap terbuka bagi investor dengan profil risiko agresif. “Saham KAEF saat ini high risk high reward. Valuasi price to book value sudah relatif murah dibandingkan historis,” katanya.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.758 Per Dolar AS Hari Ini (6/1), Ringgit Paling Kuat
Atas pertimbangan tersebut, Wafi merekomendasikan saham KAEF dengan status hold dan target harga di level Rp550 per saham.