
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berada di fase reli dengan menghijau 6 hari perdagangan berturut-turut hingga mengukir level penutupan tertinggi sepanjang masa 8.944,81 pada Rabu (7/1/2026). Capaian itu dibarengi oleh aksi beli bersih investor asing sepanjang 2-7 Januari 2026.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup pada posisi 8.944,81 atau naik 0,13% pada Rabu (7/1/2026). Level penutupan itu merupakan all time high (ATH) baru yang ditembus oleh IHSG.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG bergerak pada rentang 8.916-8.970 atau hampir menembus level 9.000. Tercatat, 344 saham menguat, 362 saham melemah, dan 104 saham bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar terpantau naik ke posisi Rp16.351 triliun.
Dalam jangka pendek, IHSG sudah parkir di zona hijau 6 hari perdagangan berturut-turut, yaitu sejak 29-30 Desember 2025 hingga 2-7 Januari 2026. Adapun, secara year-to-date (YtD), IHSG menguat 3,44%.
Sejalan dengan reli IHSG, investor asing melakukan akumulasi foreign inflow dengan membukukan beli bersih (net buy) 4 hari beruntun. Merujuk data BEI, net buy asing tercatat sebesar Rp1,06 triliun pada 2 Januari 2026, Rp38,88 miliar pada 5 Januari 2026, Rp591,08 miliar pada 6 Januari 2026, dan Rp200,81 miliar pada 7 Januari 2026.
Dengan demikian, net buy asing YtD mencapai Rp1,89 triliun atau berbalik dan net sell Rp17,34 triliun sepanjang 2025.
Merujuk data Stockbit, saham yang diburu investor asing dan membukukan foreign net buy pada perdagangan kemarin a.l. ANTM Rp614,12 miliar, BBRI Rp247,85 miliar, INCO Rp195,79 miliar, ASII Rp168,44 miliar, dan TINS Rp165 miliar.
: Prospek dan Target Anyar Saham ANTM, MDKA, dan HRTA CS Kala Harga Emas Menuju US$5.000
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menilai, sederet katalis sebetulnya dimiliki oleh pasar modal Indonesia untuk mendatangkan arus dana asing, terutama pada paruh pertama 2026. Salah satu sentimen datang dari peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada tahun ini.
“Indonesia justru diuntungkan oleh ketegangan AS–Venezuela karena mendorong kenaikan harga komoditas, relevan dengan karakter pasar saham Indonesia yang masih commodity-driven,” katanya kepada Bisnis, Rabu (7/1/2026).
Selain itu, tekanan jual yang telah mulai mereda pada akhir tahun, juga dapat menjadi peluang bagi masuknya dana asing pada awal 2026. Hal itu tampak dari kinerja IHSG yang sepanjang 2025, telah membukukan 24 rekor baru. Sebagian besar rekor tersebut dicetak pada paruh kedua 2025.
Belum lagi, kinerja IHSG sepanjang 2026, membukukan kenaikan yang cukup signifikan di antara emerging market lainnya di Asia. Data pada perdagangan kemarin, IHSG telah menguat 3,44% year-to-date (YtD), berada di peringkat kedua di antara pasar saham Asia Tenggara.
“Daya tarik Indonesia bagi asing bertumpu pada fundamental ekonomi, valuasi yang relatif menarik, dan dukungan arus dana domestik,” katanya.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi juga menilai bahwa peluang masuknya dana asing di paruh pertama 2026 cukup besar. Hal itu terutama disebabkan oleh valuasi saham-saham dalam negeri yang cenderung murah.
Kendati peluang tampak meyakinkan, pemerintah dinilai harus mampu menjaga stabilitas rupiah untuk memastikan kedatangan dana asing ke Tanah Air. Selain itu, stabillitas politik juga akan menjadi sentimen lainnya.
“Asing anti gejolak kurs. Selama rupiah stabil dan laba big caps tumbuh double digit, asing akan tetap inflow. Stabilitas politik juga membuat risiko investasi di RI semakin rendah,” katanya, Rabu (7/1/2026).
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, menilai peluang masuknya dana asing di paruh pertama 2026 ke pasar saham Tanah Air cukup besar. Selain didorong oleh sikap optimisme pasar terhadap laju IHSG hingga 10.000, pasar saham Indonesia juga didukung oleh kondisi fundamental pasar domestik.
Kendati ketegangan geopolitik tengah memanas, Abida menilai hal itu tidak berdampak langsung terhadap arus perdagangan minyak nasional. Dengan begitu, fokus investor untuk masuk ke emerging market seperti Indonesia, masih berada pada kondisi makroekonomi nasional.
“Fokus investor saat ini lebih tertuju pada stabilitas makroekonomi domestik dan rotasi sektor daripada isu geopolitik tersebut,” katanya, Rabu (7/1/2026).
Abida turut menilai peluang utama dari masuknya dana asing ke Tanah Air berada pada keputusan Bank Indonesia terhadap suku bunga acuan. BRI Danareksa Sekuritas memprediksi BI akan memangkas suku bunga hingga level 4%. Alhasil, likuiditas domestik yang terjaga menjadi daya tarik tersendiri bagi masuknya dana asing.
Belum lagi, upaya Danantara untuk mendatangkan investasi di dalam negeri, diharapkan menjadi katalis strategis yang mampu meningkatkan likuiditas dan kedalaman pasar nasional.
“Stabilitas nilai tukar rupiah serta surplus neraca perdagangan juga tetap menjadi daya tarik fundamental yang kuat bagi modal global,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.