
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Sejumlah pejabat Federal Reserve atau The Fed menyatakan bahwa pertumbuhan produktivitas karena adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi mendorong kenaikan suku bunga acuan.
Pandangan dari sejumlah pejabat The Fed itu berseberangan dengan keyakinan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, termasuk kandidat pilihannya yang akan menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell pada Mei 2026.
Gubernur The Fed Michael Barr menjadi salah satu pejabat yang menyebut bahwa terus meningkatnya penggunaan AI, yang menambah produktivitas dunia usaha, justru akan memicu kenaikan suku bunga secara netral.
: Ujian untuk Kevin Warsh Calon Kuat Bos The Fed
“Saya memperkirakan ledakan AI [AI boom] tidak akan menjadi alasan untuk menurunkan suku bunga kebijakan,” ujar Barr dalam naskah pidato yang disiapkan untuk disampaikan di New York, dilansir dari Bloomberg pada Rabu (18/6/2026) atau Selasa (17/6/2026) waktu AS.
Pernyataan Barr menyusul pidato Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson pada 6 Februari 2026 yang menyebut bahwa pemanfaatan AI secara masif akan memengaruhi suku bunga acuan.
: : Harga Emas Spot Melaju Usai Inflasi AS Terkendali, The Fed Pangkas Suku Bunga?
“Dengan asumsi faktor lain tetap, peningkatan produktivitas yang berkelanjutan kemungkinan akan mendorong kenaikan suku bunga netral, setidaknya untuk sementara,” ujar Jefferson.
Dalam pidatonya, Barr memaparkan sejumlah alasan mengapa skenario tersebut belum tentu terjadi. Menurutnya, permintaan terhadap modal akan meningkat seiring besarnya investasi bisnis yang dibutuhkan untuk memanfaatkan teknologi AI, sehingga memberi tekanan kenaikan pada suku bunga.
Selain itu, tingkat tabungan rumah tangga AS berpotensi menurun akibat ekspektasi kenaikan upah riil dan pendapatan sepanjang hidup, yang juga mendorong kenaikan suku bunga.
Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly juga menyatakan percepatan produktivitas akibat AI dalam model ekonomi standar akan mendorong suku bunga netral yang lebih tinggi karena meningkatnya permintaan investasi dibandingkan pasokan tabungan. Pernyataan tersebut disampaikan kepada wartawan setelah menghadiri acara di San Jose, AS.
Namun demikian, Daly menegaskan dampak tersebut masih sulit dipastikan.
“Mungkin saja menaikkan suku bunga netral sedikit, tetapi kita perlu bersikap rendah hati dalam memperkirakan dampaknya,” ujarnya.
AI jadi Pertimbangan dalam Kebijakan Suku Bunga The Fed
Isu AI dan produktivitas diperkirakan semakin menjadi sorotan dalam perdebatan kebijakan suku bunga The Fed tahun ini. Di sisi lain, terdapat tekanan Trump terhadap The Fed untuk menurunkan biaya pinjaman.
Bank sentral AS itu telah memangkas suku bunga acuan tiga kali pada 2025, lalu menahannya dalam rapat kebijakan terakhir pada Januari 2026. Berdasarkan kontrak berjangka, investor saat ini tidak memperkirakan pemangkasan suku bunga tambahan sebelum pertengahan tahun.
Sementara itu, kandidat Ketua The Fed pilihan Trump, Kevin Warsh, memiliki pandangan yang sejalan dengan pemerintah AS bahwa AI dapat memicu lonjakan produktivitas yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi tanpa tekanan inflasi. Artinya, terdapat ruang bagi suku bunga yang lebih rendah.
The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 1,75% dalam satu setengah tahun terakhir, setelah menaikkan suku bunga lebih dari 5% sepanjang 2022 dan 2023.
Saat ini, suku bunga acuan berada pada kisaran 3,5%—3,75%. Sejumlah pejabat menilai level tersebut mendekati tingkat netral bagi perekonomian, sehingga menjadi alasan untuk memperlambat atau menghentikan pelonggaran kebijakan moneter.
Sejumlah pejabat, termasuk mereka yang berada di lingkar dekat Ketua The Fed Jerome Powell, menilai level suku bunga saat ini yang berada di kisaran 3,5% hingga 3,75% setelah tiga kali pemangkasan beruntun sudah memadai untuk menopang pasar tenaga kerja tanpa mengorbankan target penurunan inflasi.
“Level suku bunga sekarang pada dasarnya sudah berada di kisaran netral,” ujar ekonom senior AS di Vanguard Group, Josh Hirt, seperti dilansir Bloomberg.
Dia merujuk pada titik ketika kebijakan moneter tidak lagi menahan maupun mendorong pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat The Fed cenderung bersikap lebih berhati-hati dan mengurangi urgensi pemangkasan lanjutan dalam waktu dekat.
Pandangan Trump soal The Fed
Trump menilai bahwa jika Warsh melakukan pekerjaan sesuai kemampuannya, maka ekonomi AS dapat tumbuh 15%, bahkan lebih tinggi dari itu. Pernyataan tersebut disampaikan kepada pembawa acara Larry Kudlow, yang pernah menjadi penasihat senior pada pemerintahan pertama Trump, dalam cuplikan yang ditayangkan pada Senin (9/2/2026) waktu setempat.
“Saya pikir dia akan hebat, dan dia sosok dengan kualitas sangat tinggi,” ujar Trump dilansir dari Bloomberg pada Selasa (10/2/2026).
Tidak sepenuhnya jelas apakah Trump merujuk pada pertumbuhan tahunan atau metrik lainnya. Sebagai perbandingan, ekonomi AS diperkirakan tumbuh 2,4% tahun ini dan dalam lima dekade terakhir mencatatkan rata-rata pertumbuhan tahunan sekitar 2,8%.
Produk domestik bruto (PDB) AS hanya beberapa kali mencatatkan pertumbuhan di atas 15% sejak 1950-an, termasuk pada kuartal III/2020 ketika aktivitas bisnis kembali dibuka setelah penutupan akibat pandemi Covid-19.
Trump sebelumnya menyatakan menginginkan sosok ketua The Fed yang akan memangkas suku bunga. Dia juga menegaskan tidak akan memilih Warsh apabila yang bersangkutan mendukung kenaikan suku bunga.
Pernyataan tersebut memperlihatkan keyakinan Trump bahwa Warsh, jika dikonfirmasi, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections), yang secara historis kerap menjadi tantangan bagi presiden petahana. Namun, target ambisius itu juga berpotensi menjadi ujian berat bagi Warsh.
Komentar Trump turut mengindikasikan bahwa dia tidak terlalu mengkhawatirkan inflasi, yang lazimnya akan melonjak apabila pertumbuhan ekonomi mendekati 15% dan saat ini masih bertahan pada level tinggi.
Dalam proyeksi yang dirilis pada Desember, pejabat The Fed memperkirakan hanya akan ada satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 berdasarkan estimasi median. Kendati demikian, pelaku pasar masih mengantisipasi dua kali penurunan suku bunga tahun ini.
Dalam cuplikan wawancara tersebut, Trump juga menyebut mantan Menteri Keuangan Steven Mnuchin sebagai pihak yang mendorong penunjukan Powell.
“Menteri Keuangan saya sangat menginginkannya, sangat menginginkannya dan saya sebenarnya tidak merasa yakin, tetapi terkadang Anda mendengarkan orang lain dan itu adalah kesalahan, benar-benar kesalahan besar,” jelas Trump.
(Annasa Rizki Kamalina, Lorenzo Anugrah Mahardhika)