Resmi! BNI bakal buyback saham maksimal Rp905,48 miliar

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) akan melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan jumlah sebanyak-banyaknya Rp905,48 miliar.

Keputusan tersebut disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin (9/3/2026). Nilai transaksi buyback maksimal Rp905,48 miliar itu termasuk biaya transaksi buyback dengan memerhatikan perizinan, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan langkah buyback ini menjadi salah satu instrumen perseroan dalam menjaga stabilitas harga saham sekaligus memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan modal perusahaan.

: Hasil RUPST BNI Maret 2026: Dividen Rp13,03 Triliun hingga Buyback Maksimal Rp905,48 Miliar

“Keputusan buyback ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang Perseroan sekaligus memberikan ruang fleksibilitas dalam penguatan permodalan,” kata Okki dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).

Okki menjelaskan, saham hasil buyback nantinya akan disimpan sebagai saham tresuri (treasury stock) yang dapat dialihkan melalui penjualan kembali di Bursa Efek Indonesia maupun di luar bursa. 

: : Tok! BNI (BBNI) Tebar Dividen Rp13,02 Triliun atau 65% dari Laba 2025

Saham tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan Program Kepemilikan Saham bagi Pegawai dan/atau Pengurus Perseroan.

Sebelumnya, manajemen menuturkan bahwa perseroan berencana melaksanakan buyback saham di tengah tekanan yang membayangi saham perbankan sepanjang 2025.

: : Ini Jadwal Operasional Bank BCA, BNI, BSI, BRI, MANDIRI Saat Lebaran 2026

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. – TradingView Tekan Kinerja Saham

Dalam catatan Bisnis, bank dengan logo 46 itu menilai ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan ancaman perang tarif, serta tantangan likuiditas dan perlambatan permintaan kredit di dalam negeri, telah menekan kinerja saham sektor perbankan lebih dalam dibandingkan bank-bank di kawasan regional.

Hingga 31 Desember 2025, harga saham BNI tercatat hanya tumbuh 0,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Meski kinerjanya relatif lebih baik dibandingkan bank domestik sekelasnya, saham BNI masih tertinggal dari bank-bank regional.

BNI juga mencermati bahwa meskipun pasar saham domestik mulai rebound pada akhir 2025 seiring kembalinya optimisme investor asing, arus dana masuk belum sepenuhnya pulih.

Melalui buyback, BNI ingin meredam tekanan jual di pasar saat indeks berfluktuasi sekaligus memberikan sinyal kepada investor bahwa harga saham saat ini belum mencerminkan fundamental perseroan.

Sejalan dengan aksi korporasi tersebut, BNI memperkirakan aset dan ekuitas perseroan akan turun sebesar Rp905,48 miliar apabila seluruh pelaksanaan buyback saham didanai menggunakan arus kas bebas (free cash flow).

Meski demikian, perseroan menilai transaksi tersebut tidak akan berdampak material terhadap biaya operasional sehingga kinerja laba rugi diproyeksikan tetap sejalan dengan target yang telah ditetapkan.

Manajemen BNI juga meyakini pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kegiatan usaha, mengingat perseroan masih memiliki permodalan dan arus kas yang memadai untuk membiayai transaksi tersebut sekaligus mendukung operasional bisnis.