Risiko profit taking mengintai saham konglomerasi lapis dua pada 2026

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Saham-saham lapis dua dan tiga terafiliasi konglomerasi rawan dilanda aksi jual usai menikmati pertumbuhan hingga ribuan persen sepanjang 2025. Walau begitu, potensi pertumbuhan lanjutan di tahun ini dinilai tetap ada.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus memberikan rekomendasi strategi investasi pada saham-saham lapis dua-tiga terafiliasi konglomerasi di 2026 ini.

Menurutnya, ada empat hal yang dapat dicermati untuk memprediksi potensi pertumbuhan lanjutan. Pertama, investor perlu mencermati sentimen-sentimen yang menyertai emiten. Menurutnya, sentimen konglomerasi tahun ini akan digerakkan oleh pengembangan ekosistem grup dan diversifikasi bisnis.

: Bocoran Arah Saham Konglomerasi BUVA, PGUN Cs 2026 Usai Melonjak Ribuan Persen

Kedua, apakah sektor emiten tersebut masuk ke dalam rencana bisnis sektor yang diunggulkan dari sisi pemerintah atau tidak. Ini juga penting karena dorongan dari sisi regulasi, sentimen peraturan pemerintah akan memberikan dampak positif bagi emiten bersangkutan,” ujar Nico kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).

Ketiga, investor dapat mencermati corporate action yang dilakukan emiten. Keempat, Nico menyarankan investor menganalisa valuasi harga saham di masa mendatang.

: : Rapor Saham Konglomerasi 2025: Emiten Afiliasi Happy Hapsoro Tancap Gas

“Keempat hal ini akan menentukan seberapa jauh penguatan lanjutan saham lapis dua tiga ini. Apabila dari empat hal itu, dua di antaranya tidak berhasil, mungkin akan turun di tahun ini. Jadi harus diperhatikan keempat poin itu,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan risiko yang menyertai saham emiten konglomerasi tahun ini jauh lebih besar dibanding 2025.

: : Saham Konglomerasi Grup Bakrie BUMI, DEWA, UNSP Melaju Kencang Pekan Ini

“Setelah kenaikan ratusan hingga ribuan persen, saham-saham ini sangat rawan aksi profit taking, terutama jika tidak diikuti percepatan kinerja fundamental,” kata Reydi.

Reydi mengatakan pada perdagangan 2026 pergerakan saham konglomerasi akan jauh lebih selektif, alias tidak akan serempak seperti sepanjang 2025. Di tengah situasi ini, menurutnya saham yang hanya naik karena sentimen sesaat akan berpotensi mengalami koreksi tajam.

Bagi persepsi investor, menurutnya sentimen konglomerasi memang masih bertahan di awal 2026, tetapi bukan lagi sekadar nama besar, melainkan realisasi aksi korporasi, perbaikan arus kas dan neraca, serta bukti optimalisasi aset.

“Sentimen terkuat di awal 2026 menurut saya adalah ekspektasi restrukturisasi lanjutan, konsolidasi bisnis, bukan lagi euforia narasi. Saham yang tidak menunjukkan progres nyata berisiko cepat ditinggal pasar,” tandasnya.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.