Saham ANTM, ADMR & INCO bawa Indeks Bisnis-27 dibuka menguat hari ini (12/1)

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Bisnis-27 dibuka menguat seiring kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (12/1/2026). Penguatan indeks didorong oleh kenaikan saham ANTM, ADMR, INCO, hingga MEDC.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama Bursa dengan harian Bisnis Indonesia ini tumbuh 0,84% ke 557,93 hingga pukul 09.05 WIB. Tercatat sebanyak 20 saham menguat, 6 terkoreksi, dan 1 stagnan.

Saham dengan kenaikan harga tertinggi dipimpin oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) sebesar 6,34% ke Rp3.860 per saham, lalu PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) yang menguat 3,14% menjadi Rp1.805.

: Indeks Bisnis-27 Ditutup Melemah, Saham INCO, ANTM, hingga MEDC Masih Menguat

Saham lain yang terapresiasi adalah PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) dengan kenaikan 2,38% menjadi Rp6.450 per saham dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) juga bertumbuh sebesar 2,36% ke Rp1.520 per saham. 

Adapun penurunan ditorehkan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang terkoreksi 2,05% ke Rp1.915 per saham, sementara PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) terkoreksi 1,34% menjadi Rp1.470 per saham.

: : Indeks Bisnis-27 Dibuka Menguat, Terdorong Saham MEDC, BUMI hingga BRPT

IHSG sendiri menguat 0,56% ke 8.986,63 hingga pukul 09.05 WIB. Hari ini, indeks komposit dibuka pada level 8.991,76 dan sempat ke posisi 9.000,97.

Sementara itu, IHSG dinilai masih berada dalam fase bullish usai menembus level psikologis 9.000 secara intraday pada pekan pertama Januari 2026.

Fenomena january effect yang diiringi derasnya arus modal asing menjadi motor utama pendorong indeks ke level tertinggi sepanjang masa (all-time high).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menyampaikan bahwa performa impresif IHSG sepanjang pekan lalu dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. 

Dari sisi domestik, kepercayaan investor global tercermin dari catatan Bank Indonesia yang membukukan beli bersih (net buy) asing senilai Rp1,44 triliun pada pekan pertama Januari. Masuknya modal asing ini mengonfirmasi optimisme pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia di awal tahun.

“Masuknya modal asing ini menunjukkan kepercayaan investor global yang kuat terhadap fundamental ekonomi Indonesia,” ucapnya, Minggu (11/1/2026).

Namun, ada tantangan global berupa sinyal kebijakan hawkish dari Bank of Japan (BOJ). Ancaman kenaikan suku bunga di Jepang memicu potensi unwinding carry trade, di mana investor yang sebelumnya meminjam yen dengan bunga rendah mulai menarik likuiditas dari pasar negara berkembang. 

Di sisi lain, reli harga komoditas tambang dan energi, terutama tembaga yang didorong permintaan teknologi AI dan kendaraan listrik, masih menjadi katalis positif bagi saham-saham sektor barang baku di Bursa Efek Indonesia (BEI).

_______ 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.