Saham ANTM, ASII hingga BBCA, jadi incaran asing saat IHSG kinclong

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan rekor-rekor baru pada perdagangan awal 2026. Terdapat sejumlah saham yang banyak dibeli asing saat IHSG kinclong seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat setidaknya dalam empat perdagangan awal 2026. Bahkan, IHSG mencetak sejumlah rekor baru tahun ini. 

IHSG ditutup menguat 0,13% pada perdagangan kemarin, Rabu (7/1/2026) di level 8.944,81. IHSG pun mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high/ATH) intraday baru yakni di level 8.971 pada perdagangan kemarin.

: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini 8 Januari 2026

Di tengah kinerja kinclong IHSG, pasar saham Indonesia pun mencatatkan aliran masuk atau inflow dana asing. Pasar saham Indonesia mencatatkan nilai beli bersih atau net buy asing sebesar Rp200,81 miliar pada perdagangan kemarin. Total, net buy asing pada perdagangan awal 2026 mencapai Rp1,89 triliun.

Terdapat sejumlah saham yang banyak dibeli asing pada perdagangan awal 2026. Saham ANTM misalnya mencatatkan net buy asing sebesar Rp936,83 miliar sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).

: : Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini 7 Januari 2026

Kemudian, saham PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan net buy asing sebesar Rp359,28 miliar ytd dan BBCA mencatatkan net buy asing sebesar Rp348,16 miliar.

Selain itu, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) mencatatkan net buy asing Rp302,67 miliar ytd, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mencatatkan net buy asing Rp242,75 miliar ytd, dan PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) mencatatkan net buy asing sebesar Rp226,41 miliar.

: : IHSG Ditutup Menguat Hari Ini (7/1) Usai Cetak Rekor ATH saat Intraday

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menjelaskan kinerja kinclong IHSG didorong oleh aksi akumulasi investor asing. Dari sisi sentimen, pergerakan positif IHSG dipengaruhi oleh lanjutan Santa Claus Rally di akhir Desember dan mulai berjalannya January Effect sejak 2 Januari 2026. Kondisi tersebut juga mendorong risk appetite pasar dan menjaga momentum bullish IHSG di awal tahun.

Menurutnya, dari dalam negeri, terdapat beberapa indikator penting yang akan dirilis meliputi data neraca dagang, inflasi, serta Consumer Confidence Index. Konsensus pasar memperkirakan neraca dagang tetap solid dan inflasi berada dalam level terkendali.

Kondisi tersebut diharapkan dapat memperkuat sentimen positif pasar, mencerminkan stabilitas makroekonomi dan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.

“Meski demikian, pergerakan IHSG tetap akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama arah kebijakan global. Namun secara keseluruhan, peluang penguatan masih terbuka,” kata Hari dalam keterangan tertulis pada beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik yang melibatkan AS dan Venezuela, termasuk kabar serangan militer, berpotensi memengaruhi harga komoditas global, khususnya minyak, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan.

“Manajemen risiko pun tetap perlu diperhatikan, mengingat dalam kondisi pasar yang cenderung bullish, potensi aksi profit taking tetap terbuka,” ujar Hari.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.